Home ยป Sosiologi ยป Vandalisme: Pengertian, Penyebab, Jenis, Dampak, dan Cara Mencegahnya
Posted in

Vandalisme: Pengertian, Penyebab, Jenis, Dampak, dan Cara Mencegahnya

Vandalisme: Pengertian, Penyebab, Jenis, Dampak, dan Cara Mencegahnya (AiStudio)
Vandalisme: Pengertian, Penyebab, Jenis, Dampak, dan Cara Mencegahnya (AiStudio)

Vandalisme adalah tindakan merusak atau mencoret properti tanpa izin yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Kenali pengertian, penyebab, jenis, contoh, dampak, dan cara mencegah vandalisme di sekolah maupun lingkungan masyarakat.

Vandalisme merupakan salah satu bentuk perilaku yang dapat menimbulkan kerusakan terhadap fasilitas umum, bangunan, lingkungan, maupun properti milik orang lain. Perilaku ini sering ditemukan dalam bentuk coretan pada dinding, perusakan fasilitas publik, pencoretan meja sekolah, hingga penghancuran berbagai sarana yang digunakan bersama.

Masalah vandalisme tidak hanya berkaitan dengan kerusakan benda. Jika dilakukan secara berulang, vandalisme dapat menimbulkan kerugian ekonomi, mengganggu kenyamanan masyarakat, menurunkan kualitas lingkungan, dan dalam kondisi tertentu dapat berkaitan dengan pelanggaran hukum.

Di kalangan remaja, vandalisme juga dapat muncul sebagai bagian dari perilaku bermasalah yang dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, keinginan mencari perhatian, kurangnya pengawasan, atau dorongan untuk menunjukkan identitas kelompok.

Karena itu, cara mencegah vandalisme tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman. Pencegahan perlu dilakukan melalui pendidikan, penyediaan ruang kreativitas, pengawasan lingkungan, keterlibatan masyarakat, serta penegakan aturan yang proporsional.

Artikel ini membahas pengertian vandalisme, penyebab, jenis, contoh, dampak, dan cara mencegah vandalisme di sekolah, keluarga, ruang publik, serta lingkungan masyarakat.

Pengertian Vandalisme

Vandalisme adalah tindakan merusak, mencoret, mengubah, atau menghancurkan properti milik orang lain maupun fasilitas yang digunakan bersama tanpa izin.

Contohnya antara lain:

  • Mencoret dinding bangunan.
  • Merusak meja dan kursi sekolah.
  • Memecahkan fasilitas umum.
  • Merusak taman.
  • Mencoret kendaraan orang lain.
  • Merusak rambu atau fasilitas jalan.
  • Menghancurkan fasilitas olahraga.

Vandalisme berbeda dengan kegiatan seni yang dilakukan secara legal dan mendapatkan izin.

Misalnya, mural yang dibuat pada dinding yang telah disediakan dan memperoleh izin merupakan bentuk kegiatan kreatif, bukan vandalisme.

Ciri-Ciri Perilaku Vandalisme

Beberapa ciri vandalisme antara lain:

  1. Dilakukan tanpa izin pemilik atau pengelola.
  2. Menyebabkan kerusakan atau perubahan pada properti.
  3. Dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain.
  4. Mengurangi fungsi atau nilai estetika suatu fasilitas.
  5. Sering dilakukan secara spontan maupun berkelompok.
  6. Dalam kasus tertentu dilakukan untuk mencari perhatian atau menunjukkan identitas kelompok.

Contoh Vandalisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Vandalisme dapat terjadi di berbagai tempat.

1. Vandalisme di Sekolah

Contohnya:

  • Mencoret meja.
  • Mencoret dinding kelas.
  • Merusak kursi.
  • Menggores pintu.
  • Merusak fasilitas olahraga.
  • Merusak toilet sekolah.
Contoh Kasus

Sekelompok siswa mencoret dinding sekolah dengan tulisan dan gambar tanpa izin.

Perilaku tersebut termasuk vandalisme karena merusak atau mengubah fasilitas sekolah tanpa persetujuan.


2. Vandalisme di Ruang Publik

Fasilitas umum juga dapat menjadi sasaran.

Contohnya:

  • Mencoret halte.
  • Merusak taman kota.
  • Merusak bangku taman.
  • Mencoret jembatan.
  • Merusak fasilitas olahraga publik.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemerintah atau pengelola, tetapi juga masyarakat yang menggunakan fasilitas tersebut.


3. Vandalisme di Lingkungan Perumahan

Contohnya:

  • Mencoret pagar rumah.
  • Merusak lampu lingkungan.
  • Merusak fasilitas pos ronda.
  • Mencoret tembok bangunan warga.

Vandalisme semacam ini dapat memicu konflik antara pelaku dan masyarakat.


4. Vandalisme pada Kendaraan

Misalnya:

  • Mencoret mobil.
  • Menggores kendaraan.
  • Merusak kaca.
  • Merusak bagian kendaraan.

Perbuatan tersebut dapat menimbulkan biaya perbaikan dan konflik dengan pemilik kendaraan.


5. Vandalisme di Lingkungan Transportasi

Contohnya:

  • Mencoret fasilitas stasiun.
  • Merusak bangku.
  • Mencoret fasilitas halte.
  • Merusak bagian sarana transportasi.

Kerusakan fasilitas transportasi dapat mengganggu kenyamanan pengguna.


6. Vandalisme Digital

Dalam konteks yang lebih luas, istilah vandalisme kadang digunakan secara analogis untuk menggambarkan tindakan merusak konten digital, misalnya mengubah informasi secara sengaja pada suatu sistem atau platform tanpa izin.

Namun, tindakan digital memiliki karakteristik dan konsekuensi yang berbeda dari vandalisme fisik.

Jenis-Jenis Vandalisme

Vandalisme dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan objek yang dirusak.

1. Coret-Coret atau Graffiti Tanpa Izin

Merupakan tindakan menulis atau menggambar pada properti tanpa persetujuan.

Perlu dibedakan antara graffiti ilegal dan street art atau mural yang dilakukan dengan izin.


2. Perusakan Fasilitas Sekolah

Meliputi kerusakan:

  • Meja.
  • Kursi.
  • Pintu.
  • Jendela.
  • Dinding.
  • Toilet.
  • Peralatan olahraga.

3. Perusakan Fasilitas Umum

Contohnya:

  • Bangku taman.
  • Lampu taman.
  • Halte.
  • Rambu.
  • Fasilitas olahraga.
  • Tempat sampah.

4. Perusakan Properti Pribadi

Misalnya merusak rumah, kendaraan, pagar, atau barang milik orang lain.


5. Vandalisme Kelompok

Tindakan dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama.

Kelompok dapat terdorong oleh:

  • Solidaritas yang salah arah.
  • Tekanan teman.
  • Keinginan menunjukkan identitas kelompok.
  • Tantangan antarkelompok.

Penyebab Vandalisme

Tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan semua tindakan vandalisme.

Beberapa faktor yang dapat berperan adalah sebagai berikut.

1. Keinginan Mencari Perhatian

Sebagian pelaku mungkin melakukan vandalisme untuk mendapatkan perhatian dari teman atau lingkungan.

Misalnya, seseorang mencoret dinding karena ingin dianggap berani.

2. Pengaruh Teman Sebaya

Tekanan kelompok dapat memengaruhi keputusan seseorang.

Contoh

Seorang remaja sebenarnya tidak berniat merusak fasilitas, tetapi akhirnya ikut karena teman-temannya melakukan hal tersebut.

3. Kurangnya Pengawasan

Lingkungan yang minim pengawasan dapat memberikan peluang lebih besar untuk melakukan perusakan.

4. Kurangnya Pemahaman tentang Dampak

Pelaku mungkin tidak memahami bahwa fasilitas yang dirusak harus diperbaiki dengan biaya dan tenaga.

5. Ekspresi Diri yang Tidak Tepat

Keinginan untuk mengekspresikan kreativitas merupakan hal yang wajar.

Masalah muncul ketika ekspresi dilakukan pada properti tanpa izin.

Karena itu, penyediaan ruang seni yang legal dapat menjadi salah satu strategi pencegahan.

6. Konflik atau Kemarahan

Vandalisme terkadang digunakan sebagai bentuk pelampiasan emosi.

Misalnya, seseorang merusak barang karena marah kepada pihak tertentu.

7. Solidaritas Kelompok yang Keliru

Kelompok dapat mendorong anggotanya melakukan tindakan yang sebenarnya merugikan.

8. Lingkungan yang Tidak Terawat

Lingkungan yang penuh coretan dan kerusakan dapat menimbulkan kesan bahwa fasilitas tersebut tidak dijaga.

Karena itu, perawatan lingkungan juga penting dalam pencegahan.

9. Kurangnya Kegiatan Positif

Remaja membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi dan kreativitas.

Minimnya kegiatan positif dapat membuat sebagian remaja mencari aktivitas lain yang berisiko.

Dampak Vandalisme

Vandalisme dapat memberikan dampak bagi individu maupun masyarakat.

1. Kerugian Ekonomi

Fasilitas yang rusak membutuhkan biaya untuk diperbaiki.

Semakin besar kerusakan, semakin besar pula sumber daya yang dibutuhkan.


2. Mengurangi Keindahan Lingkungan

Coretan dan kerusakan dapat membuat lingkungan terlihat tidak terawat.

Hal tersebut dapat menurunkan kenyamanan masyarakat.


3. Mengganggu Fungsi Fasilitas

Jika fasilitas rusak, masyarakat mungkin tidak dapat menggunakannya secara optimal.

Contohnya, kerusakan bangku taman, lampu penerangan, atau fasilitas olahraga.


4. Menimbulkan Rasa Tidak Aman

Lingkungan dengan banyak kerusakan dan tindakan perusakan dapat menimbulkan persepsi bahwa lingkungan kurang aman.


5. Memicu Konflik Sosial

Jika vandalisme dilakukan terhadap properti pribadi atau kelompok tertentu, konflik dapat muncul antara pelaku, korban, keluarga, maupun masyarakat.


6. Mengganggu Kegiatan Sekolah

Vandalisme di sekolah dapat menyebabkan fasilitas belajar harus diperbaiki.

Dalam beberapa kasus, siswa juga dapat kehilangan akses sementara terhadap fasilitas tersebut.


7. Merusak Reputasi Lingkungan

Lingkungan yang sering mengalami vandalisme dapat dipandang kurang terawat.

Hal ini dapat memengaruhi kenyamanan warga dan citra suatu kawasan.


8. Menimbulkan Konsekuensi Hukum

Perusakan properti tertentu dapat memiliki konsekuensi hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa vandalisme bukan sekadar “coret-coret”, terutama jika tindakan tersebut menyebabkan kerugian atau kerusakan.

Dampak Vandalisme bagi Remaja

Jika pelaku merupakan remaja, dampaknya dapat mencakup:

  • Konflik dengan orang tua.
  • Sanksi sekolah.
  • Hilangnya kepercayaan.
  • Konflik dengan masyarakat.
  • Gangguan pendidikan.
  • Risiko menghadapi konsekuensi hukum pada tindakan tertentu.

Namun, penanganan remaja sebaiknya tetap mempertimbangkan aspek pendidikan dan perlindungan anak.

Perbedaan Vandalisme dan Seni Jalanan

Tidak semua coretan atau gambar di ruang publik merupakan vandalisme.

Perbedaannya terutama terletak pada izin dan konteks penggunaannya.

VandalismeSeni Jalanan Legal
Tanpa izinMemiliki izin
Merusak atau mengubah properti tanpa persetujuanDibuat pada tempat yang disediakan
Menimbulkan kerugianDilakukan sebagai kegiatan kreatif
Mengganggu pemilik/pengguna fasilitasDisepakati oleh pemilik atau pengelola
Tidak mengikuti aturan lokasiMengikuti aturan yang berlaku

Karena itu, masyarakat dapat menyediakan ruang mural legal agar kreativitas dapat disalurkan tanpa merusak fasilitas.

Cara Mencegah Vandalisme

Pencegahan vandalisme perlu dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan individu, keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

1. Memberikan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dapat menanamkan:

  • Tanggung jawab.
  • Disiplin.
  • Menghargai milik orang lain.
  • Kepedulian terhadap lingkungan.
  • Empati.
  • Kesadaran sebagai bagian dari masyarakat.

2. Menyediakan Ruang Kreativitas Legal

Jika remaja tertarik pada seni visual, masyarakat dapat menyediakan:

  • Dinding mural.
  • Sanggar seni.
  • Lomba desain.
  • Workshop graffiti legal.
  • Pameran seni.

Dengan begitu, kreativitas dapat berkembang tanpa merusak properti.


3. Meningkatkan Pengawasan Lingkungan

Pengawasan dapat dilakukan melalui:

  • Penerangan yang memadai.
  • Pemeliharaan fasilitas.
  • Pengelolaan ruang publik.
  • Pelibatan warga.

Pengawasan sebaiknya tetap menghormati hak dan privasi masyarakat.


4. Mengajarkan Konsekuensi Perusakan

Remaja perlu memahami bahwa fasilitas umum merupakan aset bersama.

Jika satu fasilitas dirusak, masyarakat secara tidak langsung ikut menanggung dampaknya.


5. Melibatkan Remaja dalam Kegiatan Sosial

Contohnya:

  • Kerja bakti.
  • Penghijauan.
  • Perawatan taman.
  • Kegiatan seni.
  • Organisasi pemuda.

Kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.


6. Membangun Komunikasi Keluarga

Orang tua dapat menjelaskan:

  • Mengapa fasilitas harus dijaga.
  • Apa akibat merusak barang orang lain.
  • Bagaimana menyalurkan emosi.
  • Bagaimana mengekspresikan kreativitas secara tepat.

7. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Positif

Sekolah dapat menyediakan:

  • Ekstrakurikuler seni.
  • Kegiatan olahraga.
  • Organisasi siswa.
  • Proyek lingkungan.
  • Kompetisi kreatif.

8. Melibatkan Masyarakat

Pencegahan lebih efektif ketika warga merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.


9. Memperbaiki Fasilitas yang Rusak

Fasilitas yang rusak sebaiknya segera diperbaiki.

Lingkungan yang bersih dan terawat dapat membantu menjaga kualitas ruang publik.


10. Menerapkan Aturan Secara Konsisten

Aturan mengenai vandalisme harus jelas dan diterapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pada remaja, pendekatan yang digunakan perlu mempertimbangkan usia, kondisi, serta prinsip perlindungan anak.

Cara Mengatasi Vandalisme di Sekolah

Sekolah dapat melakukan beberapa langkah berikut.

Identifikasi Masalah

Cari tahu fasilitas apa yang sering dirusak dan kapan kejadian berlangsung.

Edukasi

Jelaskan dampak vandalisme kepada siswa.

Salurkan Kreativitas

Sediakan kegiatan seni dan ruang ekspresi legal.

Libatkan Siswa

Ajak siswa ikut merawat lingkungan sekolah.

Berikan Konsekuensi Edukatif

Jika pelaku diketahui, tindakan dapat disesuaikan dengan aturan sekolah dan diarahkan pada tanggung jawab serta perbaikan perilaku.

Cara Mengatasi Vandalisme di Lingkungan Masyarakat

Masyarakat dapat:

  1. Mengidentifikasi lokasi rawan.
  2. Memperbaiki fasilitas yang rusak.
  3. Meningkatkan penerangan.
  4. Menyediakan ruang kreativitas.
  5. Membentuk kegiatan pemuda.
  6. Melibatkan tokoh masyarakat.
  7. Mengedukasi warga.
  8. Menerapkan aturan sesuai ketentuan.

Contoh Program Pencegahan Vandalisme

Sebuah lingkungan memiliki masalah coretan pada tembok fasilitas umum.

Masyarakat dapat membuat program “Kampung Kreatif Tanpa Vandalisme”.

Tahap 1: Identifikasi

Menentukan lokasi yang sering dicoret.

Tahap 2: Pembersihan

Membersihkan coretan dan memperbaiki fasilitas.

Tahap 3: Penyediaan Ruang Seni

Menentukan dinding yang dapat digunakan untuk mural dengan izin.

Tahap 4: Melibatkan Remaja

Remaja dilibatkan dalam desain dan pelaksanaan mural.

Tahap 5: Edukasi

Memberikan sosialisasi mengenai perbedaan seni legal dan vandalisme.

Tahap 6: Pemeliharaan

Masyarakat bersama-sama menjaga fasilitas.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada larangan, tetapi juga memberikan alternatif positif.

Contoh Pencegahan Vandalisme di Sekolah

Sekolah dapat membuat program “Sekolah Bersih dan Kreatif”.

Kegiatannya:

  • Lomba mural legal.
  • Perawatan kelas.
  • Pameran seni.
  • Kompetisi desain.
  • Kerja bakti.
  • Edukasi menjaga fasilitas.

Siswa dilibatkan sejak tahap perencanaan sehingga mereka memiliki rasa memiliki terhadap sekolah.

Peran Orang Tua dalam Mencegah Vandalisme

Orang tua dapat:

  • Memberikan teladan.
  • Mengajarkan tanggung jawab.
  • Mengajarkan menghormati milik orang lain.
  • Mendengarkan masalah anak.
  • Mengetahui lingkungan pergaulan.
  • Mendorong kegiatan kreatif.
  • Memberikan konsekuensi yang mendidik.

Orang tua juga sebaiknya tidak langsung memberi label negatif kepada anak ketika terjadi masalah.

Lebih baik mencari tahu penyebab perilaku dan membantu anak memperbaikinya.

Peran Sekolah

Sekolah memiliki beberapa tanggung jawab penting:

  • Pendidikan karakter.
  • Pengawasan fasilitas.
  • Bimbingan konseling.
  • Kegiatan ekstrakurikuler.
  • Program lingkungan.
  • Pencegahan bullying.
  • Penegakan tata tertib.

Peran Pemerintah dan Pengelola Fasilitas Publik

Pemerintah dan pengelola fasilitas dapat:

  • Merawat fasilitas.
  • Menyediakan ruang seni legal.
  • Meningkatkan penerangan.
  • Membuat aturan yang jelas.
  • Melibatkan komunitas.
  • Melakukan edukasi publik.

Peran Masyarakat

Masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi dengan:

  • Menjaga fasilitas.
  • Melaporkan kerusakan melalui saluran resmi.
  • Mengadakan kegiatan pemuda.
  • Mendukung kegiatan seni.
  • Menghindari main hakim sendiri.
  • Membantu menciptakan lingkungan yang aman.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Melihat Vandalisme?

Jika melihat tindakan vandalisme, masyarakat sebaiknya:

  1. Tidak melakukan kekerasan atau main hakim sendiri.
  2. Mengutamakan keselamatan.
  3. Melaporkan kepada pihak yang berwenang atau pengelola fasilitas.
  4. Tidak ikut menyebarkan tindakan tersebut sebagai hiburan.
  5. Jika aman dan sesuai aturan, dokumentasikan informasi yang relevan untuk pelaporan.

Kesimpulan

Vandalisme adalah tindakan merusak, mencoret, atau mengubah properti tanpa izin yang dapat menimbulkan kerugian bagi individu maupun masyarakat.

Contoh vandalisme antara lain mencoret dinding, merusak fasilitas sekolah, merusak taman, mencoret kendaraan, dan merusak fasilitas publik.

Penyebab vandalisme dapat berkaitan dengan pengaruh teman sebaya, keinginan mencari perhatian, kurangnya pengawasan, ekspresi diri yang tidak tepat, konflik, solidaritas kelompok yang keliru, hingga kurangnya kegiatan positif.

Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan fisik. Vandalisme juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi, mengurangi kenyamanan, memicu konflik sosial, mengganggu fungsi fasilitas, dan dalam kondisi tertentu menimbulkan konsekuensi hukum.

Cara mencegah vandalisme perlu dilakukan melalui pendidikan karakter, komunikasi keluarga, pengawasan yang tepat, penyediaan ruang kreativitas legal, kegiatan positif bagi remaja, perawatan fasilitas, serta keterlibatan masyarakat.

Yang tidak kalah penting, pencegahan harus memberikan alternatif positif. Remaja yang memiliki minat seni perlu diberi ruang untuk berkarya. Remaja yang membutuhkan aktivitas sosial perlu dilibatkan dalam komunitas. Dengan pendekatan tersebut, lingkungan dapat menjadi tempat yang mendorong kreativitas sekaligus tanggung jawab.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa yang dimaksud dengan vandalisme?

Vandalisme adalah tindakan merusak, mencoret, mengubah, atau menghancurkan properti milik orang lain atau fasilitas bersama tanpa izin.

2. Apa contoh vandalisme?

Contohnya adalah mencoret dinding tanpa izin, merusak meja sekolah, menghancurkan fasilitas taman, mencoret kendaraan, dan merusak fasilitas umum.

3. Apa penyebab vandalisme?

Penyebabnya dapat berkaitan dengan pengaruh teman sebaya, keinginan mencari perhatian, ekspresi diri yang tidak tepat, konflik, kurangnya pengawasan, dan minimnya kegiatan positif.

4. Apa dampak vandalisme bagi masyarakat?

Vandalisme dapat menimbulkan kerugian ekonomi, merusak keindahan lingkungan, mengganggu fungsi fasilitas, menimbulkan rasa tidak aman, dan memicu konflik.

5. Apakah graffiti selalu termasuk vandalisme?

Tidak. Graffiti atau mural yang dibuat pada tempat yang disediakan dan mendapatkan izin merupakan kegiatan seni yang berbeda dari vandalisme.

6. Bagaimana cara mencegah vandalisme di sekolah?

Sekolah dapat memberikan pendidikan karakter, menyediakan kegiatan seni, melibatkan siswa dalam perawatan fasilitas, memperkuat bimbingan konseling, dan menerapkan tata tertib secara konsisten.

7. Bagaimana cara mencegah vandalisme pada remaja?

Pencegahan dapat dilakukan melalui komunikasi keluarga, pendidikan tanggung jawab, kegiatan positif, ruang kreativitas legal, dan lingkungan pergaulan yang sehat.

8. Apa peran masyarakat dalam mencegah vandalisme?

Masyarakat dapat merawat fasilitas, menyediakan kegiatan pemuda, mendukung seni legal, meningkatkan kepedulian lingkungan, dan melaporkan tindakan perusakan melalui saluran yang tepat.

9. Apakah vandalisme dapat dikenai sanksi?

Tindakan perusakan dapat memiliki konsekuensi sesuai aturan yang berlaku, bergantung pada objek, bentuk, dan kondisi perbuatannya. Untuk kasus tertentu, tindakan tersebut dapat masuk ke ranah hukum.

10. Apa yang harus dilakukan jika melihat vandalisme?

Utamakan keselamatan, jangan melakukan main hakim sendiri, dan laporkan kepada pengelola fasilitas atau pihak yang berwenang melalui saluran yang sesuai.

Link Internal yang Direkomendasikan

Untuk memperkuat SEO topical cluster mengenai kenakalan remaja dan permasalahan sosial, artikel ini dapat dihubungkan dengan:

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia โ€” informasi mengenai pendidikan karakter, pembinaan peserta didik, dan lingkungan sekolah.
  2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) โ€” informasi mengenai perlindungan anak dan pencegahan kekerasan.
  3. Badan Pusat Statistik (BPS) โ€” data dan publikasi mengenai kondisi sosial, pendidikan, kependudukan, dan masyarakat.
  4. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia โ€” informasi mengenai pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan sosial.
  5. UNICEF โ€” informasi mengenai perkembangan remaja, pendidikan, dan perlindungan anak.
  6. UNESCO โ€” informasi mengenai pendidikan, budaya, kreativitas, dan lingkungan belajar.
  7. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) โ€” referensi mengenai pencegahan kejahatan dan keterlibatan masyarakat.
  8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
  9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.