Home » IPS Kelas 8 » Perkembangan Pendidikan pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Posted in

Perkembangan Pendidikan pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

Perkembangan Pendidikan pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia (AiStudio)
Perkembangan Pendidikan pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia (AiStudio)

Perkembangan pendidikan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia berlangsung melalui lingkungan keagamaan, istana, dan pusat-pusat pembelajaran. Pendidikan yang dibimbing oleh brahmana, pendeta, dan biksu mengajarkan agama, bahasa, sastra, filsafat, serta pengetahuan tertentu. Kerajaan Sriwijaya bahkan dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara.

Pendahuluan

Perkembangan kerajaan Hindu-Buddha membawa perubahan penting dalam kehidupan masyarakat Nusantara, termasuk dalam bidang pendidikan. Seiring berkembangnya kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit, kegiatan belajar turut berkembang untuk memenuhi kebutuhan keagamaan, pemerintahan, dan kebudayaan. Bagaimana Perkembangan Pendidikan pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia?

Pendidikan pada masa itu belum berbentuk sekolah modern dengan kelas, kurikulum nasional, dan jenjang pendidikan seperti sekarang. Kegiatan belajar umumnya berlangsung melalui bimbingan guru, lingkungan keagamaan, pusat pendidikan tertentu, atau istana. Karena itu, perkembangan pendidikan pada masa kerajaan Hindu-Buddha perlu dipahami sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat saat itu.

Ciri-Ciri Pendidikan pada Masa Hindu-Buddha

Beberapa ciri pendidikan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah sebagai berikut.

a. Berpusat pada agama dan kepercayaan

Ajaran Hindu dan Buddha memiliki pengaruh besar terhadap kegiatan pendidikan. Murid mempelajari ajaran agama, tata upacara, filsafat, etika, serta pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan. Meski demikian, pembelajaran juga dapat mencakup bahasa, sastra, dan pengetahuan praktis.

b. Mengandalkan bimbingan guru

Guru mempunyai kedudukan penting dalam proses pembelajaran. Dalam lingkungan Hindu, kaum brahmana berperan dalam pengajaran agama dan pengetahuan tertentu. Dalam lingkungan Buddha, para biksu dan pendeta membimbing murid dalam mempelajari ajaran Buddha.

Hubungan antara guru dan murid menjadi unsur utama dalam proses belajar. Murid tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga diharapkan menghormati guru dan menerapkan ajaran yang dipelajari.

c. Belum merata untuk seluruh masyarakat

Kesempatan memperoleh pendidikan tidak sama bagi semua kelompok masyarakat. Pendidikan keagamaan tingkat lanjut sering berkaitan dengan lingkungan istana, kelompok keagamaan, atau kalangan tertentu. Sementara itu, pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilan hidup juga diwariskan dalam keluarga serta lingkungan masyarakat.

Oleh sebab itu, pendidikan masa Hindu-Buddha tidak dapat disamakan dengan sistem pendidikan modern yang berupaya menyediakan akses sekolah bagi seluruh warga.

d. Berlangsung dalam berbagai lingkungan

Kegiatan pendidikan dapat berlangsung di lingkungan guru, tempat keagamaan, pusat pendidikan khusus, dan istana. Bentuk dan penyelenggaraannya berbeda-beda menurut wilayah, masa, tradisi keagamaan, serta kebutuhan masyarakat.

Bentuk-Bentuk Pendidikan pada Masa Hindu-Buddha

a. Pendidikan di lingkungan guru

Salah satu bentuk pembelajaran adalah murid belajar secara langsung di bawah bimbingan seorang guru. Dalam sejumlah kajian sejarah, pola pendidikan semacam ini sering dikaitkan dengan istilah gurukula, yaitu hubungan belajar yang menekankan kedekatan antara guru dan murid.

Namun, bukti sejarah tidak selalu memberikan gambaran lengkap mengenai penerapan sistem tersebut di setiap kerajaan Nusantara. Karena itu, istilah ini sebaiknya digunakan untuk menjelaskan pola pembelajaran tertentu, bukan dianggap sebagai satu sistem seragam di seluruh wilayah Indonesia.

b. Pendidikan di lingkungan istana

Istana membutuhkan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang agama, sastra, bahasa, pemerintahan, dan tata kehidupan kerajaan. Anak-anak keluarga kerajaan atau kalangan bangsawan dapat memperoleh bimbingan dari guru yang diundang ke lingkungan istana atau melalui tempat belajar tertentu.

Pendidikan semacam ini membantu mempersiapkan orang yang kelak menjalankan tugas pemerintahan dan mendukung kehidupan budaya kerajaan.

c. Pendidikan di pusat keagamaan

Pusat pendidikan keagamaan menjadi tempat untuk memperdalam ajaran, mempelajari teks, dan melatih kehidupan spiritual. Pada masa Majapahit, misalnya, dikenal pusat pendidikan yang disebut mandala atau kadewaguruan. Pusat tersebut umumnya dipimpin oleh guru atau tokoh agama dan dapat berada jauh dari pusat permukiman.

Pendidikan di pusat seperti ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar tidak hanya berlangsung di istana, tetapi juga berkembang di lingkungan keagamaan yang memiliki tradisi tersendiri.

Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Agama Buddha

Kerajaan Sriwijaya merupakan contoh penting perkembangan pendidikan pada masa Hindu-Buddha. Letaknya yang strategis dalam jalur perdagangan maritim turut mendukung hubungan dengan berbagai wilayah Asia.

Catatan perjalanan biksu Tiongkok bernama I-Tsing menyebutkan bahwa ia singgah di Sriwijaya ketika melakukan perjalanan untuk mempelajari ajaran Buddha. Ia juga mempelajari bahasa Sanskerta dan tinggal di kawasan tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Catatan ini menjadi salah satu bukti bahwa Sriwijaya berperan sebagai tempat belajar agama Buddha.

Selain itu, Prasasti Nalanda dari India mengisahkan hubungan antara penguasa Sriwijaya dan pusat pembelajaran Buddha di Nalanda. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pada masa itu dapat melibatkan kerja sama lintas wilayah.

Pengalaman Sriwijaya menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dapat memperkuat hubungan kebudayaan dan keagamaan dengan masyarakat dari luar Nusantara.

Peran Kerajaan dalam Perkembangan Pendidikan

Penguasa kerajaan dapat berperan dalam mendukung pendidikan melalui perlindungan terhadap tokoh agama, pemberian dukungan kepada pusat keagamaan, dan hubungan diplomatik dengan kerajaan lain.

Dukungan tersebut membantu kegiatan pembelajaran dan pelestarian teks keagamaan. Dalam beberapa kasus, hubungan kerajaan dengan pusat pendidikan di luar Nusantara juga memperluas pertukaran pengetahuan.

Meski demikian, dukungan pendidikan tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Kebijakan penguasa, tradisi agama, keadaan ekonomi, dan kondisi politik turut memengaruhi perkembangan pendidikan di masing-masing kerajaan.

Materi yang Dipelajari

Materi pendidikan pada masa Hindu-Buddha dapat berbeda sesuai dengan lingkungan belajar dan tujuan pembelajarannya. Beberapa bidang yang dikenal antara lain:

  1. Agama dan filsafat: ajaran Hindu atau Buddha, etika, tata upacara, dan pemikiran keagamaan.
  2. Bahasa: termasuk Sanskerta dalam lingkungan keagamaan dan sastra tertentu.
  3. Sastra dan penulisan: pembelajaran teks, tradisi sastra, serta kemampuan membaca atau menulis bagi kelompok yang menguasainya.
  4. Pemerintahan dan tata kehidupan kerajaan: pengetahuan yang diperlukan oleh lingkungan istana dan pejabat kerajaan.
  5. Keterampilan praktis: pengetahuan pekerjaan dan keterampilan yang diwariskan melalui keluarga atau kelompok profesi.

Tidak semua murid mempelajari seluruh bidang tersebut. Materi yang diajarkan bergantung pada guru, lembaga, tradisi setempat, dan kebutuhan murid.

Bukti Sejarah Perkembangan Pendidikan

Perkembangan pendidikan pada masa Hindu-Buddha diketahui melalui berbagai sumber sejarah, antara lain:

  • Catatan perjalanan I-Tsing, yang memberikan informasi tentang Sriwijaya sebagai tempat belajar agama Buddha.
  • Prasasti Nalanda, yang menunjukkan hubungan pendidikan dan keagamaan antara Sriwijaya dan pusat pembelajaran di India.
  • Prasasti dan peninggalan tertulis, yang memperlihatkan perkembangan tradisi tulis, penggunaan bahasa tertentu, serta kehidupan politik dan keagamaan.
  • Peninggalan pusat keagamaan dan bangunan bersejarah, yang membantu peneliti memahami lingkungan kegiatan keagamaan dan kebudayaan pada masa lampau.

Sumber-sumber tersebut perlu dikaji secara kritis. Sebuah prasasti atau bangunan tidak selalu menjelaskan secara langsung bagaimana seluruh masyarakat memperoleh pendidikan. Sejarawan membandingkan berbagai sumber untuk menyusun gambaran yang lebih menyeluruh.

Pengaruh Pendidikan terhadap Kehidupan Masyarakat

Perkembangan pendidikan pada masa Hindu-Buddha membawa sejumlah pengaruh bagi kehidupan masyarakat Nusantara.

a. Berkembangnya tradisi tulis

Penggunaan aksara dan bahasa dalam prasasti serta karya sastra menunjukkan berkembangnya tradisi tulis di lingkungan tertentu. Tradisi ini membantu penyampaian informasi, pencatatan keputusan, dan pelestarian pengetahuan.

b. Berkembangnya sastra dan pemikiran

Kegiatan belajar mendukung perkembangan karya sastra, pengetahuan keagamaan, dan pemikiran filosofis. Karya-karya tersebut menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan budaya Indonesia.

c. Terjalinnya hubungan antarwilayah

Kegiatan belajar dan perjalanan tokoh agama membantu menghubungkan Nusantara dengan pusat-pusat pembelajaran di kawasan Asia. Pertukaran tersebut memperkaya hubungan kebudayaan dan keagamaan.

d. Mendukung kehidupan kerajaan

Pendidikan membantu mempersiapkan tokoh agama, penulis, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan untuk mendukung kehidupan istana serta administrasi kerajaan.

Keterbatasan Pendidikan pada Masa Hindu-Buddha

Walaupun memiliki peran penting, pendidikan pada masa itu masih menghadapi keterbatasan. Kesempatan belajar tingkat lanjut belum tersedia secara merata, sumber pembelajaran bergantung pada tradisi dan lembaga tertentu, serta akses terhadap kemampuan membaca dan menulis tidak dimiliki semua orang.

Kondisi tersebut berbeda dari tujuan pendidikan masa kini yang menekankan pemerataan kesempatan belajar. Mempelajari sejarah pendidikan membantu kita memahami perubahan sistem pendidikan sekaligus menghargai pentingnya akses pengetahuan bagi seluruh masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.