Advertisement
Advertisement
Pelajaran IPSPelajaran SMPSejarah

Sejarah Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia

Advertisement

Sejarah Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia, masuknya pengaruh Islam ke Indonesia berdampak pada tumbuh dan berkembangnya kerajaan-kerajaan di Indonesia yang bercorak Islam. Kerajaan- kerajaan yang bercorak Islam tersebut antara lain:

Kerajaan Samudra Pasai

Sejarah Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam, Kerajaan Samudra Pasai berdiri pada abad ke 13. hal ini diketahui dari tulisan yang ada pada batu nisan makam Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 635 H/ 1297 M. samudra Pasai adalah kerajaan pertama Islam di Indonesia dengan raja pertamanya Sultan Malik Saleh.

Letak kerajaan tersebut di Lhokseumawe Aceh. Setelah S. Malik al Saleh wafat (1297, maka digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Malik aal Tahir. Sultan Malik al tahir wafat 1326 M. dan digantikan oleh Sultan Ahmad.

Advertisement

Faktor-faktor yang mendorong kerajaan Samaudra Pasai mengalami perkembangan pesat adalah:

  1. Mundurnya Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan.
  2. Letaknya strategis di tepi selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional.
  3. Lada merupakan komoditas andalan kerajaan Samudra Pasai.

Kerajaan Demak

Kerajaan demak berdiri tahun 1500 M. dengan raja pertamanya Raden Patah. Kerajaan Demak adalah kerajaan pertama di Jawa. Terletak di Demak Jawa Tengah. Kerajaan Demak dikenal sebagai penghasil beras dan lilin.

Kerajaan Demak

Namun ketika tahun 1511M, Malaka jatuh ke tangan Portugis, perdagangan Demak dengan Malaka terputus. Pada tahun 1513 M Raden Patah mengutus putranya yang bernama Pati Unus/ Pangeran Sabrang Lor untuk mengusir Portugis dari Malaka.

Namun usahanya gagal karena kalah persenjataan. Setelah Raden Patah wafat digantikan oleh Pati Unus.

Sepeninggalan Pati Unus maka kedudukan Sultan Demak digantikan oleh adiknya yaitu Sultan Trenggono. Pada masa Sultan Trenggono inilah Demak mencapai puncak kejayaannya. Jasa-jasanya:

  1. Membendung ekspansi portugis ke Indonesia bagian barat.
  2. Melalui Faletehan dapat mendirikan Bandar saingan Malaka, yaitu Banten, Jayakarta, dan Cirebon.
  3. Berhasil mempersatukan kota pesisir utara pulau Jawa.
  4. Menyebarkan islam ke pedalaman: Pajang, Mataram, Pengging.

Karena danya perang saudara/ perebutan kekuasaan dan struktur pemerintahan Demak ayang bersifat federasi, maka Demak mengalami kemunduran.

Advertisement

Banyak Negara bagian yang melepaskan diri. Seorang menantu Sulta Trenggono bernama Joko Tingkir berhasil mengatasi keadaan kemudian Joko Tingkir memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang.

Kerajaan Pajang

Didirikan oleh Sultan Hadiwijaya/ Adiwijaya alias Jaka Tingkir. Atas jasa-jasanya maka Ki Ageng Pemanahan dan putranya yang bernama Sutawijaya mendapatkan hadiah dari S. Hadiwijaya sebidang tanah di daerah Ygyakarta dan menjadi bupati.

Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, maka jabatan bupati digantikan oleh putranya yang bernama Sutowijaya.

Advertisement

Setelah S. Hadiwijaya wafat, maka digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Benowo. Pada masa ini ada pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Aria Pangiri (Bupati Demak), namun dapat digagalkan atas jasa Sutowijaya.

Karena merasa tidak sanggup, akhirnya P. Benowo menyerahkan tahta kerajaan pada Sutowiajaya. Oleh Suatowijaya Pajang dipindahkan ke Mataram.

Kerajaan Mataram Islam

Raja pertama kerajaan Mataram adalah Sutowijaya adengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Panatagama. Pengganti Sutowijaya adalah putranya yang bernama Mas jolang dengan gelas Anyokrowati.

Advertisement

Dalam mempersatukan Mataram Mas Jolang gugur di daerah Krapyak sehingga mendapat sebutan pangeran Sedo Krapyak. Mas Jolang kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung.

Pada masa inilah mencapai puncak kejayaannya. Sultan Agung pernah dua kali menyerbu Batavia 1628 dan 1629 namun gagal.

Baca juga Teori Cina dan Saluran Masuknya Islam ke Indonesia

Setelah Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri, Mataram pecah menjadi dua, sebagaimana bunyi perjanjian Giayanti tahun 1755 yaitu :

  1. Mataram Timur / Kasunanan Surakarta oleh Pakubiwono III
  2. Mataram Barat / Kasunanan Yogyakarta oleh Mangkubumi Hamengkubuwono

Advertisement
Read article
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button