Home » IPS Kelas 9 » Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui Masyarakat yang Tanggap Bencana
Posted in

Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui Masyarakat yang Tanggap Bencana

Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui Masyarakat yang Tanggap Bencana (AiStudio)
Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui Masyarakat yang Tanggap Bencana (AiStudio)

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global yang bertujuan menciptakan pembangunan yang lebih inklusif, aman, sejahtera, dan berkelanjutan. Salah satu bagian penting dari pembangunan berkelanjutan adalah kemampuan masyarakat menghadapi bencana.

Masyarakat yang tanggap bencana mampu mengenali risiko, melakukan pencegahan, meningkatkan kesiapsiagaan, merespons keadaan darurat, serta membantu proses pemulihan. Ketangguhan tersebut mendukung pencapaian SDGs karena bencana dapat menghambat pembangunan, merusak infrastruktur, mengganggu pendidikan dan kesehatan, serta menurunkan kesejahteraan masyarakat. Bagaimana Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui Masyarakat yang Tanggap Bencana?

Hubungan SDGs dengan Ketangguhan Bencana

Pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perlindungan masyarakat dan lingkungan. Karena itu, pengurangan risiko bencana menjadi bagian penting dalam pembangunan.

Dalam Agenda 2030, SDG 1 target 1.5 mencakup upaya membangun ketahanan masyarakat miskin dan mengurangi kerentanan terhadap kejadian ekstrem serta bencana. SDG 11.5 juga menargetkan pengurangan dampak bencana terhadap manusia dan kerugian ekonomi, sedangkan SDG 13.1 menekankan penguatan ketangguhan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya terkait iklim dan bencana alam.

Dengan demikian, membangun masyarakat yang tanggap bencana merupakan bagian dari upaya mencapai pembangunan berkelanjutan.

Untuk memahami konsep SDGs secara lebih luas, baca juga artikel Mengapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Penting bagi Masa Depan Generasi Muda?.

Pengertian Masyarakat Tanggap Bencana

Masyarakat tanggap bencana adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kesiapsiagaan, dan kemampuan untuk mengurangi risiko serta menghadapi bencana.

Masyarakat tanggap bencana tidak hanya bertindak setelah bencana terjadi. Mereka juga melakukan berbagai kegiatan sebelum bencana, seperti:

  • Mengenali potensi bahaya di lingkungan.
  • Mengetahui jalur evakuasi.
  • Menyiapkan perlengkapan darurat.
  • Mengikuti simulasi bencana.
  • Menjaga lingkungan.
  • Mengetahui sistem peringatan dini.
  • Membantu kelompok rentan.
  • Menyusun rencana evakuasi keluarga.

BNPB menekankan pentingnya menjadikan masyarakat sebagai subjek atau pelaku dalam penanggulangan bencana, bukan hanya sebagai penerima bantuan.

Pembahasan lebih lanjut mengenai pentingnya edukasi dapat dibaca pada artikel Pendidikan Kebencanaan: Membangun Kesadaran Masyarakat Indonesia.

Mengapa Masyarakat Harus Tanggap Bencana?

Indonesia memiliki berbagai potensi bencana, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, cuaca ekstrem, serta kebakaran hutan dan lahan.

Bencana dapat menyebabkan korban jiwa, kerusakan rumah dan fasilitas umum, gangguan kegiatan ekonomi, serta terganggunya pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Mengenali potensi bencana di lingkungan merupakan langkah awal untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Informasi mengenai berbagai ancaman tersebut dapat dipelajari melalui artikel Potensi Bencana Alam di Indonesia.

Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesiapan lebih baik dapat mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi ancaman bencana.

Peran Masyarakat dalam Mendukung SDGs melalui Kesiapsiagaan Bencana

1. Mengenali Risiko Bencana

Masyarakat perlu mengetahui jenis bencana yang mungkin terjadi di wilayah tempat tinggalnya.

Contohnya, masyarakat pesisir perlu mengetahui risiko tsunami dan memahami lokasi evakuasi. Sementara itu, masyarakat yang tinggal di daerah lereng perlu memahami risiko tanah longsor.

Peta risiko dapat membantu masyarakat memahami wilayah yang memiliki potensi bahaya. Baca juga Peta Risiko Bencana Alam di Indonesia.

2. Meningkatkan Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan dilakukan sebelum bencana terjadi. Bentuknya antara lain menyiapkan tas darurat, menyimpan dokumen penting dengan aman, mengetahui nomor layanan darurat, dan menentukan titik kumpul keluarga.

Contoh: Sebuah keluarga membuat rencana evakuasi yang berisi jalur keluar rumah, tempat berkumpul, serta cara menghubungi anggota keluarga ketika terjadi gempa.

3. Mengikuti Simulasi dan Pelatihan

Simulasi membantu masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

Contoh: Sekolah mengadakan simulasi gempa dengan melatih siswa berlindung, keluar ruangan secara tertib, dan berkumpul di titik aman.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan merupakan bagian penting dalam membangun budaya sadar bencana.

4. Menjaga Lingkungan

Menjaga lingkungan juga menjadi bagian dari pengurangan risiko bencana.

Masyarakat dapat:

  • Tidak membuang sampah ke sungai.
  • Menanam pohon.
  • Menjaga daerah resapan air.
  • Mengurangi penggunaan plastik.
  • Membersihkan saluran air.
  • Menjaga kawasan hutan dan pesisir.

Kegiatan tersebut tidak hanya mengurangi risiko bencana tertentu, tetapi juga mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan.

5. Memanfaatkan Sistem Peringatan Dini

Masyarakat perlu mengetahui sumber informasi resmi mengenai bencana dan memahami arti peringatan yang diberikan.

Sistem peringatan dini menjadi salah satu bagian penting dalam pengurangan risiko bencana. Sendai Framework juga menargetkan peningkatan ketersediaan dan akses masyarakat terhadap sistem peringatan dini multibahaya serta informasi risiko bencana.

6. Membantu Kelompok Rentan

Masyarakat tanggap bencana juga memperhatikan kelompok yang membutuhkan bantuan lebih besar, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan orang yang sedang sakit.

Contoh: Dalam rencana evakuasi lingkungan, warga menentukan siapa yang membantu lansia atau penyandang disabilitas menuju lokasi aman.

Contoh Mewujudkan SDGs melalui Masyarakat Tanggap Bencana

Contoh 1: Desa Tangguh Bencana

Sebuah desa berada di daerah rawan banjir. Pemerintah desa bersama masyarakat melakukan pemetaan risiko, membersihkan saluran air, menentukan jalur evakuasi, dan mengadakan simulasi.

Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus mendukung pembangunan masyarakat yang lebih tangguh.

BNPB memiliki program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) yang mendorong kebijakan pengurangan risiko, pengkajian risiko, pembentukan forum pengurangan risiko bencana, relawan, serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Contoh 2: Sekolah Tanggap Bencana

Sekolah dapat mendukung SDGs dengan memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kegiatan pembelajaran.

Contohnya:

  • Membuat jalur evakuasi.
  • Menentukan titik kumpul.
  • Mengadakan simulasi gempa.
  • Menyediakan kotak P3K.
  • Mengajarkan siswa cara menyelamatkan diri.

Kegiatan tersebut sekaligus mendukung pendidikan berkualitas dan membangun budaya keselamatan sejak dini.

Contoh 3: Masyarakat Pesisir Menghadapi Tsunami

Masyarakat pesisir dapat membuat peta evakuasi, melakukan simulasi, menjaga jalur menuju tempat tinggi, serta memanfaatkan informasi peringatan dini.

BNPB pernah mendorong kolaborasi pentahelix dalam kesiapsiagaan tsunami di Pacitan melalui kegiatan Desa Tangguh Bencana dan penguatan mitigasi lingkungan melalui penanaman mangrove.

Peran Pentahelix dalam Membangun Masyarakat Tanggap Bencana

Masyarakat tanggap bencana membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pendekatan pentahelix melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.

PihakPeran
PemerintahMembuat kebijakan, menyediakan fasilitas, dan melakukan koordinasi
MasyarakatMeningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan pengurangan risiko
Dunia usahaMendukung sumber daya, teknologi, dan pendanaan
AkademisiMelakukan penelitian dan mengembangkan inovasi
MediaMenyebarkan informasi dan edukasi kebencanaan

BNPB menjelaskan bahwa kolaborasi pentahelix diarahkan untuk membangun ketangguhan masyarakat melalui sinergi berbagai pihak.

Hubungan Masyarakat Tanggap Bencana dengan Tujuan SDGs

Masyarakat tanggap bencana dapat mendukung beberapa tujuan SDGs sekaligus.

SDG 1: Tanpa Kemiskinan

Bencana dapat menyebabkan masyarakat kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, dan sumber pendapatan. Pengurangan risiko bencana membantu melindungi masyarakat dari kerugian tersebut.

SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Pendidikan kebencanaan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya peserta didik.

SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan

Kota dan permukiman perlu dirancang agar aman, inklusif, tangguh, dan mampu menghadapi risiko bencana.

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

Ketangguhan masyarakat terhadap bencana yang berkaitan dengan iklim merupakan bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.

Untuk memahami penerapan pembangunan berkelanjutan di lingkungan pendidikan, baca juga Contoh Penerapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Lingkungan Sekolah.

Langkah Sederhana Menjadi Masyarakat Tanggap Bencana

Setiap orang dapat mulai berkontribusi melalui tindakan sederhana:

  1. Kenali potensi bencana di sekitar tempat tinggal.
  2. Simpan nomor layanan darurat dan sumber informasi resmi.
  3. Ketahui jalur evakuasi dan titik kumpul.
  4. Siapkan perlengkapan darurat.
  5. Ikuti simulasi bencana.
  6. Jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
  7. Bantu kelompok rentan dalam keadaan darurat.
  8. Jangan menyebarkan informasi bencana yang belum terverifikasi.
  9. Ikuti arahan petugas ketika terjadi bencana.
  10. Terlibat dalam kegiatan pengurangan risiko bencana di lingkungan.

Upaya tersebut dapat menjadi bagian dari partisipasi masyarakat dalam pembangunan, karena pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

Kesimpulan

Mewujudkan Sustainable Development Goals melalui masyarakat yang tanggap bencana berarti mengintegrasikan kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana, perlindungan lingkungan, dan pembangunan masyarakat ke dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat dapat berperan dengan mengenali risiko, mengikuti simulasi, menyiapkan rencana evakuasi, menjaga lingkungan, membantu kelompok rentan, serta menggunakan informasi peringatan dini secara tepat.

Ketangguhan masyarakat juga membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pengurangan risiko bencana dapat berjalan seiring dengan pembangunan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Soal Evaluasi

A. Pilihan Ganda

1. SDGs merupakan singkatan dari …

A. Sustainable Development Goals
B. Social Development Goals
C. Sustainable Democratic Government System
D. Social Development Government System

Jawaban: A

2. Salah satu tujuan masyarakat tanggap bencana adalah …

A. Meningkatkan risiko bencana
B. Mengurangi dampak bencana
C. Menghindari semua kegiatan masyarakat
D. Menghentikan pembangunan

Jawaban: B

3. Salah satu tindakan kesiapsiagaan bencana adalah …

A. Menunggu bantuan setelah bencana
B. Mengetahui jalur evakuasi
C. Mengabaikan peringatan dini
D. Menyebarkan informasi yang belum terverifikasi

Jawaban: B

4. Tujuan SDGs yang secara khusus berkaitan dengan ketangguhan terhadap bahaya iklim dan bencana adalah …

A. SDG 2
B. SDG 7
C. SDG 13
D. SDG 17

Jawaban: C

5. Contoh kegiatan masyarakat untuk mengurangi risiko banjir adalah …

A. Membuang sampah ke sungai
B. Menutup seluruh daerah resapan
C. Membersihkan saluran air
D. Menebang pohon secara sembarangan

Jawaban: C

6. Desa Tangguh Bencana bertujuan meningkatkan …

A. Kerentanan masyarakat
B. Ketangguhan masyarakat
C. Ketergantungan masyarakat
D. Risiko bencana

Jawaban: B

7. Pihak yang termasuk dalam pentahelix adalah …

A. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media
B. Pemerintah, tentara, wisatawan, pedagang, dan pelajar
C. Masyarakat, petani, nelayan, pedagang, dan wisatawan
D. Sekolah, pasar, rumah sakit, bank, dan perusahaan

Jawaban: A

8. Salah satu manfaat sistem peringatan dini adalah …

A. Memberikan informasi agar masyarakat dapat melakukan tindakan tepat
B. Menghilangkan semua bencana
C. Menggantikan seluruh kegiatan mitigasi
D. Menghentikan perubahan iklim secara langsung

Jawaban: A

9. Membantu lansia dan penyandang disabilitas saat evakuasi merupakan bentuk …

A. Kepedulian dan kesiapsiagaan masyarakat
B. Eksploitasi lingkungan
C. Pembangunan ekonomi
D. Konsumsi berkelanjutan

Jawaban: A

10. Masyarakat yang tanggap bencana dapat mendukung pembangunan berkelanjutan karena …

A. Bencana tidak mungkin terjadi
B. Risiko dan dampak bencana dapat dikurangi
C. Pembangunan tidak membutuhkan masyarakat
D. Semua bencana dapat dihentikan

Jawaban: B

B. Soal Essay
  1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat tanggap bencana?
  2. Jelaskan hubungan antara masyarakat tanggap bencana dan SDGs!
  3. Sebutkan lima tindakan yang dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana!
  4. Mengapa menjaga lingkungan dapat mendukung pengurangan risiko bencana?
  5. Jelaskan contoh penerapan SDGs melalui Desa Tangguh Bencana!
  6. Apa peran pentahelix dalam membangun masyarakat tanggap bencana?
  7. Mengapa kelompok rentan perlu diperhatikan dalam rencana evakuasi?
  8. Berikan contoh kegiatan di sekolah yang dapat mendukung SDGs sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan bencana!
Kunci Jawaban Essay
  1. Masyarakat tanggap bencana adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko serta menghadapi bencana.
  2. Ketangguhan bencana membantu melindungi masyarakat, lingkungan, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi sehingga mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
  3. Mengenali risiko, mengetahui jalur evakuasi, menyiapkan perlengkapan darurat, mengikuti simulasi, dan memahami peringatan dini.
  4. Karena lingkungan yang terjaga dapat membantu mengurangi risiko tertentu, seperti banjir, longsor, dan kerusakan ekosistem.
  5. Masyarakat bersama pemerintah melakukan pemetaan risiko, membuat jalur evakuasi, membentuk relawan, melakukan simulasi, dan menjaga lingkungan.
  6. Pentahelix menghubungkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media untuk bekerja sama dalam pengurangan risiko bencana.
  7. Karena anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dapat membutuhkan bantuan tambahan saat evakuasi.
  8. Contohnya membuat simulasi gempa, menyediakan jalur evakuasi, melakukan penghijauan, memilah sampah, dan menghemat energi.

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.