Home ยป IPS Kelas 8 ยป Peninggalan Budaya Kerajaan Islam di Indonesia yang Masih Bertahan hingga Sekarang
Posted in

Peninggalan Budaya Kerajaan Islam di Indonesia yang Masih Bertahan hingga Sekarang

Peninggalan Budaya Kerajaan Islam di Indonesia yang Masih Bertahan hingga Sekarang (Aistudio)
Peninggalan Budaya Kerajaan Islam di Indonesia yang Masih Bertahan hingga Sekarang (Aistudio)

Peninggalan budaya kerajaan Islam di Indonesia masih dapat ditemukan hingga sekarang, mulai dari masjid bersejarah, keraton, tradisi Sekaten, Grebeg Maulud, seni wayang, gamelan, kaligrafi, aksara Jawi dan Pegon, hingga pesantren. Berbagai peninggalan tersebut menunjukkan proses akulturasi Islam dengan budaya lokal yang membentuk identitas kebudayaan Indonesia.

Pendahuluan

Kerajaan-kerajaan Islam memiliki peran penting dalam membentuk sejarah dan kebudayaan Indonesia. Sejak berkembangnya kerajaan Islam di berbagai wilayah Nusantara, seperti Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Demak, Mataram Islam, Banten, Gowa-Tallo, Ternate, dan Tidore, muncul berbagai peninggalan budaya yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Bagaimana Peninggalan Budaya Kerajaan Islam di Indonesia yang Masih Bertahan hingga Sekarang?

Peninggalan tersebut tidak hanya berupa bangunan bersejarah, tetapi juga mencakup tradisi keagamaan, seni, sastra, sistem pendidikan, aksara, hingga adat istiadat. Sebagian peninggalan budaya itu masih dapat ditemukan dan dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia hingga sekarang.

Keberadaan peninggalan budaya kerajaan Islam menunjukkan bahwa proses penyebaran Islam di Nusantara berlangsung melalui interaksi dengan kebudayaan lokal. Islam tidak serta-merta menghilangkan tradisi yang telah berkembang sebelumnya, melainkan berinteraksi dan menghasilkan bentuk kebudayaan yang khas.

Lalu, apa saja peninggalan budaya kerajaan Islam di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang? Simak pembahasannya berikut ini.

Masjid Bersejarah sebagai Peninggalan Arsitektur Islam

Salah satu peninggalan budaya kerajaan Islam yang paling mudah dikenali adalah masjid-masjid bersejarah. Bangunan tersebut menjadi bukti perkembangan agama Islam sekaligus menunjukkan perpaduan unsur arsitektur Islam dengan tradisi bangunan lokal.

Beberapa masjid peninggalan masa kerajaan Islam yang masih dikenal hingga sekarang antara lain:

a. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak merupakan salah satu bangunan bersejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan Kesultanan Demak di Jawa. Masjid ini dikenal memiliki bentuk atap bertingkat atau tajug yang mencerminkan penggunaan unsur arsitektur lokal.

Masjid Agung Demak menjadi contoh akulturasi budaya karena memperlihatkan perpaduan kebutuhan bangunan peribadatan Islam dengan tradisi arsitektur masyarakat Jawa.

b. Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus memiliki menara bata merah yang bentuknya memperlihatkan kemiripan dengan bangunan bercorak arsitektur pra-Islam di Jawa.

Keunikan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan arsitektur Islam di Nusantara tidak selalu meniru bentuk bangunan dari Timur Tengah. Masyarakat setempat juga memanfaatkan keterampilan, bahan bangunan, dan gaya arsitektur yang telah dikenal sebelumnya.

c. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan penting Kesultanan Banten. Bangunan ini memiliki atap bertingkat dan menara yang menjadi ciri khas kompleks masjid tersebut.

Masjid ini memperlihatkan perpaduan berbagai unsur budaya yang berkembang melalui hubungan perdagangan dan interaksi masyarakat Banten dengan wilayah lain.

d. Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin merupakan salah satu masjid bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan Islam di Kalimantan Selatan.

Bangunannya memperlihatkan karakter arsitektur tradisional Banjar yang berpadu dengan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Keraton dan Istana Kesultanan

Keraton atau istana merupakan peninggalan budaya yang berkaitan dengan sistem pemerintahan kerajaan Islam. Bangunan ini dahulu menjadi pusat kekuasaan, tempat tinggal sultan, sekaligus pusat kegiatan budaya.

Beberapa keraton dan kompleks kesultanan yang masih dikenal hingga sekarang antara lain:

  • Keraton Yogyakarta: menjadi pusat pelestarian tradisi Kesultanan Yogyakarta, termasuk upacara adat dan seni pertunjukan.
  • Keraton Surakarta: menyimpan berbagai tradisi kerajaan, benda pusaka, serta kesenian Jawa.
  • Keraton Kasepuhan Cirebon: memperlihatkan perpaduan unsur budaya Islam, Jawa, dan pengaruh budaya lainnya.
  • Istana Maimun: menjadi salah satu bangunan bersejarah yang berkaitan dengan Kesultanan Deli di Sumatra Utara.

Keraton tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pelestarian adat, kesenian, dan identitas budaya masyarakat setempat.

Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud

Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud merupakan contoh peninggalan budaya yang masih dilaksanakan di lingkungan keraton Jawa.

a. Tradisi Sekaten

Sekaten merupakan tradisi budaya yang berkembang di lingkungan kerajaan Islam di Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Tradisi ini berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Pelaksanaannya dapat melibatkan gamelan, kegiatan keagamaan, pasar rakyat, dan berbagai kegiatan budaya. Sekaten memperlihatkan bagaimana pesan dan perayaan Islam disampaikan melalui bentuk kesenian serta tradisi lokal.

b. Grebeg Maulud

Grebeg Maulud merupakan upacara tradisional keraton yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi.

Salah satu bagian yang dikenal masyarakat adalah gunungan, yaitu susunan hasil bumi dan makanan yang diarak dalam prosesi tertentu. Setelah prosesi, gunungan biasanya diperebutkan masyarakat sebagai bagian dari tradisi.

Tradisi ini mencerminkan hubungan antara kehidupan keagamaan, kebudayaan keraton, dan kehidupan sosial masyarakat.

Seni Wayang sebagai Media Penyampaian Nilai Islam

Wayang merupakan salah satu kesenian tradisional yang telah berkembang jauh sebelum kedatangan Islam. Pada masa penyebaran Islam, kesenian ini dimanfaatkan oleh sejumlah pendakwah sebagai media penyampaian pesan moral dan keagamaan.

Cerita, dialog, dan pertunjukan wayang dapat memuat nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kesabaran, dan kebaikan.

Wayang kulit tetap bertahan sebagai kesenian tradisional yang dimainkan dalam berbagai acara budaya. Pada tahun 2003, wayang juga diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, kemudian masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2008.

Penting dipahami bahwa wayang tidak diciptakan pada masa kerajaan Islam. Kesenian ini telah ada sebelumnya, kemudian mengalami perkembangan dan penyesuaian dalam berbagai periode sejarah.

Seni Musik dan Tradisi Gamelan

Gamelan merupakan kesenian musik tradisional yang berkembang di berbagai daerah Indonesia. Pada masa kerajaan Islam, gamelan digunakan dalam sejumlah kegiatan budaya dan perayaan keagamaan.

Salah satu contohnya adalah gamelan Sekaten yang dimainkan dalam rangkaian tradisi Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta.

Perpaduan antara musik tradisional dan kegiatan keagamaan menunjukkan adanya penyesuaian budaya lokal dengan perkembangan Islam.

Hingga sekarang, gamelan masih dimainkan dalam pertunjukan seni, upacara adat, kegiatan keraton, dan berbagai acara kebudayaan.

Tradisi Ziarah Makam dan Penghormatan kepada Tokoh Sejarah

Tradisi ziarah makam menjadi salah satu praktik sosial dan keagamaan yang dikenal di berbagai wilayah Indonesia.

Masyarakat mengunjungi makam ulama, sultan, dan tokoh penyebar Islam untuk mendoakan orang yang telah meninggal sekaligus mengenang jasa serta perjuangan mereka.

Beberapa kompleks makam bersejarah yang banyak dikunjungi antara lain:

  • Kompleks makam para wali di Jawa.
  • Makam Sultan Malik al-Saleh di Aceh.
  • Kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri.
  • Makam tokoh-tokoh kesultanan di berbagai daerah.

Tradisi ziarah memiliki bentuk dan kebiasaan yang beragam sesuai dengan pemahaman keagamaan serta adat masyarakat setempat. Selain memiliki dimensi keagamaan, situs makam bersejarah juga menjadi sumber pembelajaran sejarah dan warisan budaya.

Seni Kaligrafi dan Ragam Hias Islami

Seni kaligrafi berkembang seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara. Kaligrafi merupakan seni menulis huruf Arab dengan memperhatikan keindahan bentuk dan komposisinya.

Pada masa kerajaan Islam, kaligrafi digunakan untuk menghias masjid, makam, naskah keagamaan, dan benda-benda seni.

Selain kaligrafi, berkembang pula motif geometris dan tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai hiasan bangunan. Penggunaan ragam hias tersebut memperlihatkan kreativitas seniman lokal dalam mengembangkan seni bercorak Islam.

Hingga sekarang, kaligrafi masih ditemukan pada dekorasi masjid, lembaga pendidikan Islam, rumah, dan karya seni masyarakat.

Tradisi Sastra dan Aksara Jawi serta Pegon

Perkembangan kerajaan Islam turut mendorong kemajuan sastra dan tradisi tulis di Nusantara.

Salah satu peninggalan pentingnya adalah penggunaan aksara Jawi dan Pegon.

a. Aksara Jawi

Aksara Jawi merupakan tulisan bahasa Melayu dengan menggunakan huruf Arab yang disesuaikan dengan bunyi bahasa Melayu.

Aksara ini digunakan dalam penulisan karya sastra, surat kerajaan, catatan sejarah, dan naskah keagamaan.

b. Aksara Pegon

Aksara Pegon merupakan penggunaan huruf Arab yang disesuaikan untuk menuliskan bahasa daerah, seperti bahasa Jawa dan Sunda.

Pegon banyak digunakan dalam tradisi pendidikan pesantren dan penulisan kitab atau bahan pembelajaran keagamaan.

Walaupun penggunaan aksara Latin semakin luas, naskah Jawi dan Pegon masih dipelajari serta dilestarikan oleh sejumlah lembaga pendidikan dan komunitas budaya.

Pesantren sebagai Warisan Tradisi Pendidikan Islam

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Perkembangan lembaga pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam berkaitan dengan peran masjid, surau, dayah, meunasah, dan lingkungan ulama.

Pesantren berkembang sebagai tempat belajar agama, membaca Al-Qur’an, memahami kitab, serta membentuk karakter dan kehidupan sosial santri.

Metode pembelajaran tradisional yang dikenal antara lain:

  • Sorogan: santri membaca atau menyampaikan materi di hadapan guru untuk diperiksa.
  • Bandongan: guru membacakan dan menjelaskan kitab kepada sejumlah santri.
  • Hafalan: santri menghafalkan materi tertentu, seperti ayat, hadis, atau teks pelajaran.
  • Musyawarah: santri berdiskusi untuk memahami persoalan dan materi pembelajaran.

Hingga sekarang, pesantren tetap menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Bentuk pendidikan pesantren juga terus berkembang dengan menggabungkan pembelajaran agama dan pengetahuan umum.

Tradisi Upacara Adat yang Berpadu dengan Nilai Islam

Di berbagai wilayah Indonesia, terdapat tradisi adat yang berkembang melalui interaksi antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal.

Contohnya sebagai berikut.

a. Tabuik di Pariaman

Tabuik merupakan tradisi budaya masyarakat Pariaman, Sumatra Barat, yang berkaitan dengan peringatan Asyura dan mengenang peristiwa Karbala.

Tradisi ini memiliki bentuk pelaksanaan yang khas, termasuk pembuatan dan arak-arakan tabuik. Pelaksanaannya merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

b. Tradisi Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi dilaksanakan oleh masyarakat Muslim di berbagai daerah dengan bentuk yang beragam. Kegiatannya dapat berupa pembacaan selawat, pengajian, doa bersama, dan kegiatan sosial.

Di sejumlah daerah, peringatan tersebut berpadu dengan kesenian dan adat setempat.

c. Tradisi Kenduri atau Selamatan

Kenduri dan selamatan merupakan kegiatan sosial yang dikenal dalam berbagai komunitas masyarakat Indonesia. Dalam sejumlah lingkungan Muslim, kegiatan ini diisi dengan doa bersama dan penyajian makanan.

Bentuk dan maknanya berbeda-beda sesuai dengan tradisi daerah masing-masing.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat dapat menjadi ruang pertemuan antara nilai agama dan kebudayaan lokal.

Link Internal

Tautan internal berikut untuk menghubungkan artikel ini dengan artikel lain dalam satu kategori pembahasan:

  1. Interaksi Budaya pada Masa Kerajaan Islam di Indonesia: Pengertian, Proses, dan Contohnya
  2. Bagaimana Islam Memengaruhi Kebudayaan Masyarakat Indonesia pada Masa Kerajaan Islam?
  3. Akulturasi Budaya Islam dan Budaya Lokal di Indonesia Beserta Contohnya
  4. Pengaruh Islam terhadap Seni Bangunan dan Arsitektur pada Masa Kerajaan Islam
  5. Perkembangan Seni Sastra dan Aksara pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara

Bahasa Indonesia yang Dipengaruhi Kosakata Arab

Penyebaran Islam turut memperkaya kosakata bahasa Melayu yang kemudian berperan dalam perkembangan bahasa Indonesia.

Sejumlah kata yang berasal dari bahasa Arab masuk ke dalam penggunaan bahasa masyarakat melalui kegiatan perdagangan, pendidikan, keagamaan, dan hubungan sosial.

Contohnya:

  • Ilmu
  • Adil
  • Kabar
  • Dunia
  • Akhirat
  • Musyawarah
  • Hakim
  • Ibadah
  • Sejarah

Kata-kata tersebut menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia modern.

Pengaruh bahasa Arab menunjukkan bahwa interaksi budaya tidak hanya menghasilkan bangunan dan tradisi, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat berkomunikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.