Cara mencegah penyalahgunaan narkotika pada pelajar membutuhkan kerja sama orang tua, sekolah, pelajar, dan masyarakat. Pelajari strategi pencegahan melalui edukasi, komunikasi keluarga, pendidikan karakter, pergaulan sehat, kegiatan positif, literasi digital, dan pendampingan.
Cara mencegah penyalahgunaan narkotika pada pelajar membutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pelajar itu sendiri. Pencegahan tidak cukup dilakukan dengan memberikan larangan atau hukuman, tetapi perlu dibangun melalui edukasi, komunikasi, lingkungan yang sehat, penguatan karakter, serta akses terhadap bantuan ketika seorang pelajar menghadapi masalah.
Masa pelajar merupakan periode penting dalam perkembangan seseorang. Pada tahap ini, rasa ingin tahu, kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya, perubahan emosi, dan berbagai tekanan sosial dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Karena itu, lingkungan yang mendukung sangat diperlukan agar pelajar mampu mengambil keputusan yang aman.
Penyalahgunaan narkotika juga tidak selalu berawal dari satu faktor. Pengaruh teman sebaya, lingkungan pergaulan, konflik keluarga, tekanan akademik, kurangnya pengetahuan, dan informasi yang keliru di media sosial dapat menjadi bagian dari faktor risiko.
Artikel ini membahas cara mencegah penyalahgunaan narkotika pada pelajar, termasuk peran orang tua, sekolah, masyarakat, pelajar, contoh pencegahan, strategi program sekolah, serta langkah yang dapat dilakukan jika terdapat dugaan masalah penggunaan narkotika.
Apa yang Dimaksud dengan Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika?
Pencegahan penyalahgunaan narkotika merupakan berbagai upaya untuk mengurangi kemungkinan seseorang menggunakan narkotika secara tidak tepat atau mengalami masalah penggunaan zat.
Pada pelajar, pencegahan dapat dilakukan melalui:
- Pendidikan dan penyebaran informasi yang benar.
- Penguatan hubungan keluarga.
- Pendidikan karakter.
- Keterampilan menghadapi tekanan teman sebaya.
- Kegiatan positif.
- Lingkungan sekolah yang aman.
- Literasi digital.
- Konseling dan dukungan psikososial.
- Akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan profesional.
Pencegahan sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika muncul kasus.
Mengapa Penyalahgunaan Narkotika pada Pelajar Harus Dicegah?
Pelajar sedang membangun berbagai aspek penting dalam kehidupannya, seperti pendidikan, kesehatan, karakter, hubungan sosial, dan tujuan masa depan.
Penyalahgunaan narkotika dapat mengganggu:
- Kesehatan fisik.
- Kesehatan psikologis.
- Konsentrasi belajar.
- Kehadiran di sekolah.
- Prestasi akademik.
- Hubungan keluarga.
- Hubungan pertemanan.
- Perencanaan pendidikan.
- Pengembangan bakat.
- Masa depan pelajar.
Karena dampaknya dapat meluas, pencegahan perlu dilakukan melalui pendekatan yang komprehensif.
Faktor yang Dapat Meningkatkan Risiko Penyalahgunaan Narkotika
Memahami faktor risiko membantu keluarga dan sekolah melakukan pencegahan lebih awal.
1. Pengaruh Teman Sebaya
Pelajar dapat merasa harus mengikuti perilaku kelompok agar diterima.
2. Rasa Ingin Tahu
Keinginan mencoba sesuatu yang baru dapat membuat pelajar menerima ajakan yang berisiko.
3. Lingkungan Pergaulan
Lingkungan yang menormalisasi penggunaan narkotika dapat meningkatkan paparan terhadap perilaku berisiko.
4. Masalah Keluarga
Komunikasi yang buruk atau konflik keluarga dapat membuat anak kesulitan mencari dukungan.
5. Kesulitan Mengelola Emosi
Pelajar yang tidak memiliki strategi menghadapi stres atau masalah dapat lebih mudah mengambil keputusan berisiko.
6. Tekanan Akademik
Beban belajar dan tuntutan prestasi dapat menjadi salah satu sumber tekanan.
7. Informasi yang Keliru
Konten di internet dan media sosial dapat memberikan gambaran yang tidak sesuai mengenai risiko narkotika.
8. Kurangnya Aktivitas Positif
Minimnya kegiatan yang mendukung perkembangan bakat dapat membuat waktu luang tidak terarah.
Cara Mencegah Penyalahgunaan Narkotika pada Pelajar
1. Memberikan Edukasi Sejak Dini
Pendidikan mengenai narkotika perlu disampaikan dengan bahasa yang sesuai usia dan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.
Materi dapat mencakup:
- Pengertian narkotika.
- Risiko penyalahgunaan.
- Cara menghadapi tekanan teman.
- Keterampilan mengambil keputusan.
- Cara mencari bantuan.
- Pentingnya menjaga kesehatan.
Edukasi sebaiknya tidak hanya menakut-nakuti pelajar, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan praktis.
2. Membangun Komunikasi Keluarga
Komunikasi terbuka merupakan salah satu dasar pencegahan.
Orang tua dapat membiasakan bertanya:
- “Bagaimana kegiatanmu hari ini?”
- “Ada masalah dengan teman?”
- “Apa yang membuat kamu khawatir?”
- “Apakah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?”
Anak perlu merasa bahwa bercerita kepada orang tua tidak selalu berakhir dengan kemarahan.
3. Mengajarkan Keterampilan Menolak
Pelajar perlu memiliki kemampuan mengatakan tidak terhadap ajakan yang berbahaya.
Contoh
Teman: “Coba saja, sekali tidak akan apa-apa.”
Pelajar: “Tidak, saya tidak mau. Saya lebih baik pergi.”
Keterampilan sederhana seperti ini dapat dilatih melalui simulasi atau role-play di sekolah maupun keluarga.
4. Memperkuat Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter dapat membantu pelajar mengembangkan:
- Tanggung jawab.
- Disiplin.
- Integritas.
- Empati.
- Pengendalian diri.
- Kemampuan mengambil keputusan.
Karakter yang kuat dapat membantu siswa menghadapi tekanan sosial.
5. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman
Sekolah perlu menjadi tempat yang membuat siswa merasa aman untuk belajar dan bercerita.
Upayanya dapat berupa:
- Bimbingan konseling.
- Pendidikan kesehatan.
- Program pencegahan.
- Pengawasan lingkungan sekolah.
- Sistem pelaporan yang aman.
- Kegiatan ekstrakurikuler.
- Pendampingan siswa.
6. Memperkuat Peran Guru BK
Guru BK dapat membantu siswa menghadapi masalah akademik, sosial, maupun pribadi.
Sekolah dapat menyediakan jalur konsultasi yang mudah diakses dan menjaga kerahasiaan sesuai ketentuan yang berlaku.
7. Mendorong Kegiatan Positif
Kegiatan positif membantu pelajar mengembangkan potensi dan membangun pertemanan sehat.
Contohnya:
- Olahraga.
- Musik.
- Seni.
- Pramuka.
- Organisasi siswa.
- Kegiatan sosial.
- Kegiatan lingkungan.
- Kewirausahaan.
- Pelatihan teknologi.
8. Meningkatkan Literasi Digital
Pelajar perlu memahami bahwa tidak semua informasi di media sosial benar.
Ajarkan mereka untuk:
- Memeriksa sumber informasi.
- Tidak langsung percaya pada klaim kesehatan.
- Membandingkan informasi dari sumber terpercaya.
- Tidak membagikan konten yang menyesatkan.
- Melaporkan konten berbahaya jika diperlukan.
9. Membangun Pertemanan yang Sehat
Pelajar perlu memahami ciri pertemanan yang sehat.
Teman yang baik:
- Menghormati batasan.
- Tidak memaksa.
- Mendukung pendidikan.
- Tidak mengajak melakukan tindakan berbahaya.
- Mau membantu ketika teman menghadapi masalah.
10. Mengajarkan Pengelolaan Stres
Pelajar perlu memiliki cara yang sehat untuk menghadapi tekanan.
Misalnya:
- Berolahraga.
- Tidur cukup.
- Berbicara dengan orang yang dipercaya.
- Melakukan hobi.
- Mengatur jadwal belajar.
- Menggunakan teknik relaksasi.
- Mencari bantuan ketika masalah terasa berat.
Peran Orang Tua dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkotika
Orang tua merupakan salah satu lingkungan terdekat bagi pelajar.
1. Menjadi Tempat Bercerita
Anak perlu mengetahui bahwa keluarga dapat menjadi tempat mencari bantuan.
2. Memberikan Batasan yang Jelas
Kebebasan perlu disertai tanggung jawab.
Orang tua dapat membuat aturan mengenai:
- Jam pulang.
- Penggunaan perangkat digital.
- Pertemanan.
- Aktivitas di luar rumah.
- Tanggung jawab sekolah.
3. Mengenal Lingkungan Pertemanan Anak
Orang tua sebaiknya mengetahui secara wajar dengan siapa anak bergaul dan kegiatan apa yang dilakukan.
4. Memberikan Teladan
Orang tua dapat menunjukkan cara menghadapi masalah tanpa menggunakan perilaku yang berbahaya.
5. Memperhatikan Perubahan Anak
Perubahan yang signifikan dalam perilaku, pendidikan, pergaulan, atau rutinitas perlu diperhatikan.
Namun, perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak menggunakan narkotika. Diperlukan komunikasi dan pemahaman terhadap konteksnya.
6. Bekerja Sama dengan Sekolah
Orang tua sebaiknya tidak berjalan sendiri.
Komunikasi dengan sekolah dapat membantu mengetahui perkembangan anak.
Peran Sekolah dalam Pencegahan Narkotika
Sekolah memiliki posisi strategis karena pelajar menghabiskan banyak waktu di lingkungan pendidikan.
1. Pendidikan Pencegahan
Materi pencegahan dapat dimasukkan ke dalam kegiatan pembelajaran dan program sekolah.
2. Bimbingan Konseling
Siswa harus memiliki akses terhadap layanan konseling.
3. Pendidikan Keterampilan Hidup
Sekolah dapat mengajarkan:
- Pengambilan keputusan.
- Komunikasi.
- Pengendalian emosi.
- Penyelesaian konflik.
- Penolakan terhadap tekanan teman.
4. Kegiatan Ekstrakurikuler
Semakin banyak pilihan kegiatan positif, semakin besar kesempatan siswa menemukan aktivitas yang sesuai dengan minatnya.
5. Sistem Pelaporan
Sekolah dapat menyediakan mekanisme pelaporan yang aman untuk membantu siswa menyampaikan masalah.
6. Kerja Sama dengan Orang Tua
Sekolah dan keluarga perlu bertukar informasi yang relevan dengan tetap menghormati privasi anak.
7. Rujukan kepada Profesional
Jika siswa membutuhkan penanganan khusus, sekolah dapat membantu menghubungkan keluarga dengan layanan profesional.
Peran Pelajar dalam Pencegahan
Pelajar bukan hanya objek pencegahan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi.
Pelajar dapat:
- Menolak ajakan menggunakan narkotika.
- Menghindari lingkungan berisiko.
- Memilih teman yang sehat.
- Tidak menyebarkan informasi palsu.
- Mengajak teman mengikuti kegiatan positif.
- Mencari bantuan jika mengalami masalah.
- Mendukung teman tanpa ikut melakukan perilaku berisiko.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Lingkungan masyarakat yang sehat dapat menjadi faktor perlindungan bagi pelajar.
Kegiatan Pemuda
Masyarakat dapat mengadakan:
- Olahraga.
- Seni.
- Pelatihan keterampilan.
- Kegiatan sosial.
- Kegiatan lingkungan.
Ruang Publik yang Aman
Ruang publik yang aman dan ramah remaja dapat membantu menyediakan tempat untuk kegiatan positif.
Kerja Sama dengan Sekolah
Komunitas dan masyarakat dapat bekerja sama dengan sekolah dalam kegiatan edukasi dan pengembangan bakat.
Peran Media dan Media Sosial
Media dapat menjadi alat edukasi yang kuat.
Konten pencegahan sebaiknya:
- Berbasis fakta.
- Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
- Tidak menstigma pelajar.
- Tidak mengeksploitasi kisah korban.
- Mendorong pencarian bantuan.
- Mengarahkan kepada sumber resmi.
Pelajar juga perlu memahami bahwa konten viral tidak selalu merupakan informasi yang benar.
Contoh Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika
Contoh 1: Program Edukasi di Sekolah
Sebuah sekolah membuat program “Pelajar Sehat dan Berprestasi”.
Program tersebut meliputi:
- Seminar edukasi.
- Kelas keterampilan hidup.
- Konseling.
- Olahraga.
- Seni.
- Forum orang tua.
Hasil yang Diharapkan
Siswa memiliki pengetahuan lebih baik, keterampilan menghadapi tekanan, dan akses bantuan yang lebih jelas.
Contoh 2: Orang Tua Membuka Komunikasi
Seorang ayah secara rutin menyediakan waktu berbicara dengan anak setelah pulang sekolah.
Ketika anak mengalami masalah dengan teman, ayah mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat.
Pelajaran
Komunikasi yang terbuka dapat membuat anak lebih nyaman meminta bantuan.
Contoh 3: Pelajar Menolak Ajakan Teman
Seorang siswa mendapatkan ajakan untuk mencoba zat terlarang.
Ia menolak dan segera meninggalkan situasi tersebut.
Setelah itu, ia menceritakan kejadian tersebut kepada guru yang dipercaya.
Pelajaran
Keberanian menolak dan mencari bantuan merupakan bagian penting dari pencegahan.
Contoh 4: Kegiatan Pemuda di Lingkungan
Karang taruna mengadakan turnamen olahraga dan pelatihan keterampilan bagi remaja.
Kegiatan tersebut menjadi ruang positif bagi pelajar untuk berkumpul dan mengembangkan bakat.
Pelajaran
Lingkungan sosial yang positif dapat menjadi faktor pelindung.
Contoh 5: Literasi Digital
Sekolah mengajarkan siswa cara memeriksa informasi mengenai narkotika di internet.
Siswa belajar membedakan informasi dari lembaga resmi dengan konten yang sekadar mengejar popularitas.
Pelajaran
Literasi digital penting untuk mencegah informasi keliru memengaruhi keputusan pelajar.
Program Pencegahan Terpadu di Sekolah
Sekolah dapat membuat program sederhana dengan tahapan:
Kenali → Edukasi → Latih → Dampingi → Rujuk → Evaluasi
Kenali
Identifikasi kebutuhan dan masalah siswa secara hati-hati.
Edukasi
Berikan informasi yang benar.
Latih
Ajarkan keterampilan hidup.
Dampingi
Berikan dukungan melalui guru, orang tua, dan lingkungan sekolah.
Rujuk
Jika diperlukan, hubungkan dengan tenaga profesional.
Evaluasi
Tinjau efektivitas program secara berkala.
Hal yang Sebaiknya Dihindari dalam Pencegahan
Pencegahan tidak seharusnya dilakukan dengan cara yang justru menimbulkan ketakutan atau stigma.
Hindari:
- Mempermalukan siswa.
- Memberikan label “anak nakal”.
- Mengancam secara berlebihan.
- Menggunakan kekerasan.
- Menyebarkan identitas siswa.
- Menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.
- Menganggap semua perubahan perilaku sebagai bukti penggunaan narkotika.
Pendekatan yang tegas tetap dapat dilakukan tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap pelajar.
Jika Ada Pelajar yang Diduga Menggunakan Narkotika
Jika terdapat dugaan, langkah yang dapat dilakukan adalah:
1. Jangan Panik
Hindari reaksi spontan yang dapat memperburuk komunikasi.
2. Jangan Langsung Menuduh
Cari informasi dan dengarkan anak.
3. Ajak Berbicara
Gunakan bahasa yang tidak menghakimi.
4. Cari Bantuan Profesional
Hubungi tenaga kesehatan, konselor, atau layanan resmi yang kompeten.
5. Libatkan Sekolah Jika Diperlukan
Sekolah dapat membantu menjaga keberlanjutan pendidikan.
6. Berikan Pendampingan
Dukungan perlu dilakukan secara konsisten.
Prinsip Utama Pencegahan
Pencegahan penyalahgunaan narkotika pada pelajar sebaiknya berlandaskan beberapa prinsip:
Preventif
Mencegah sebelum masalah terjadi.
Edukatif
Memberikan pengetahuan dan keterampilan.
Kolaboratif
Melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan profesional.
Nonstigmatisasi
Tidak memberi label negatif kepada pelajar.
Berkelanjutan
Dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika muncul kasus.
Berbasis Dukungan
Memberikan akses terhadap bantuan yang sesuai.
Tabel Pembagian Peran
| Pihak | Peran Utama |
| Orang tua | Komunikasi, pendampingan, pengawasan sehat |
| Sekolah | Edukasi, konseling, kegiatan positif |
| Guru BK | Konseling dan pendampingan |
| Pelajar | Menolak ajakan dan memilih pergaulan sehat |
| Masyarakat | Menciptakan lingkungan yang aman |
| Tenaga profesional | Penilaian dan penanganan sesuai kebutuhan |
| Media | Edukasi berbasis fakta |
Kesimpulan
Cara mencegah penyalahgunaan narkotika pada pelajar membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Edukasi saja tidak cukup jika tidak disertai komunikasi keluarga, lingkungan sekolah yang aman, pertemanan sehat, kegiatan positif, literasi digital, dan akses terhadap bantuan.
Orang tua dapat berperan melalui komunikasi terbuka, pendampingan, aturan yang jelas, serta perhatian terhadap perkembangan anak.
Sekolah dapat berperan melalui pendidikan pencegahan, bimbingan konseling, pendidikan karakter, kegiatan ekstrakurikuler, sistem pelaporan, dan rujukan kepada profesional.
Masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang menyediakan ruang aman dan aktivitas positif bagi remaja.
Sementara itu, pelajar sendiri perlu dibekali kemampuan mengambil keputusan, menolak tekanan teman sebaya, memilih pergaulan sehat, serta berani meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Pencegahan yang efektif bukan hanya tentang mengatakan “jangan menggunakan narkotika”, tetapi juga tentang membantu pelajar memiliki pengetahuan, keterampilan, lingkungan, dan dukungan yang membuat mereka mampu mengambil keputusan yang sehat.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Bagaimana cara mencegah penyalahgunaan narkotika pada pelajar?
Pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, komunikasi keluarga, pendidikan karakter, keterampilan menghadapi tekanan teman, kegiatan positif, literasi digital, konseling, dan lingkungan yang sehat.
2. Apa peran orang tua dalam mencegah narkotika?
Orang tua dapat membangun komunikasi terbuka, menetapkan aturan yang jelas, mengenal lingkungan pertemanan anak, memberikan teladan, dan membantu anak mendapatkan pertolongan jika diperlukan.
3. Apa peran sekolah dalam pencegahan narkotika?
Sekolah dapat memberikan edukasi, menyediakan layanan bimbingan konseling, mengembangkan kegiatan positif, membangun lingkungan aman, dan bekerja sama dengan orang tua.
4. Mengapa komunikasi keluarga penting?
Komunikasi yang terbuka membuat anak lebih mudah menyampaikan masalah, tekanan, atau ajakan berisiko yang mereka alami.
5. Bagaimana cara mengajarkan anak menolak ajakan narkotika?
Latih anak menggunakan jawaban tegas seperti “tidak”, meninggalkan situasi berisiko, dan mencari bantuan dari orang yang dipercaya.
6. Apakah kegiatan ekstrakurikuler dapat mencegah penyalahgunaan narkotika?
Kegiatan positif dapat menjadi faktor perlindungan dengan memberikan ruang bagi pelajar untuk mengembangkan bakat, membangun pertemanan sehat, dan menggunakan waktu secara produktif.
7. Mengapa literasi digital penting?
Literasi digital membantu pelajar mengenali informasi yang salah atau menyesatkan mengenai narkotika di internet dan media sosial.
8. Apa yang harus dilakukan jika anak diduga menggunakan narkotika?
Tetap tenang, hindari stigma dan tuduhan, ajak berbicara, kemudian pertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan, konselor, atau layanan resmi yang kompeten.
9. Apakah hukuman saja cukup untuk mencegah narkotika?
Tidak. Pencegahan yang efektif juga membutuhkan edukasi, dukungan, komunikasi, lingkungan sehat, serta akses terhadap bantuan.
10. Siapa yang bertanggung jawab mencegah penyalahgunaan narkotika pada pelajar?
Pencegahan merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua, sekolah, pelajar, masyarakat, tenaga profesional, dan berbagai pihak terkait dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya.
Link Internal yang Direkomendasikan
Untuk memperkuat SEO topical cluster tentang penyalahgunaan narkotika dan permasalahan remaja, artikel ini dapat dihubungkan dengan:
- Penyalahgunaan Narkotika pada Pelajar: Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya
- Bahaya Penyalahgunaan Narkotika pada Pelajar dan Upaya Pencegahannya Sejak Dini
- Penyebab Pelajar Terjerumus Penyalahgunaan Narkotika dan Cara Mengatasinya
- Dampak Penyalahgunaan Narkotika bagi Pelajar, Pendidikan, Kesehatan, dan Masa Depan
- Kenakalan Remaja: Pengertian, Penyebab, Jenis, Dampak, dan Cara Mengatasinya
- Penyebab Kenakalan Remaja di Era Digital dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
- Contoh Kenakalan Remaja di Lingkungan Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
- Dampak Kenakalan Remaja bagi Masa Depan dan Upaya Pencegahannya
- Cara Mengatasi Kenakalan Remaja: Peran Orang Tua, Sekolah, dan Lingkungan Sosial
- Tawuran Antarpelajar: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya
- Penyebab Tawuran Antarpelajar dan Upaya Efektif untuk Mencegahnya
- Dampak Tawuran Antarpelajar bagi Pelajar, Sekolah, dan Masyarakat
- Cara Mencegah Tawuran Antarpelajar: Peran Orang Tua, Sekolah, dan Lingkungan
- Tawuran Antarpelajar di Era Digital: Faktor Pemicu, Dampak, dan Solusi Pencegahannya
Referensi
- Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN) — informasi dan edukasi mengenai pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — informasi mengenai kesehatan remaja, penggunaan zat, dan pencegahan masalah kesehatan.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia — informasi mengenai pendidikan, pembinaan peserta didik, dan lingkungan sekolah.
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia — informasi mengenai perlindungan dan pemenuhan hak anak.
- Badan Pusat Statistik (BPS) — publikasi mengenai kondisi sosial, pendidikan, dan kependudukan.
- World Health Organization (WHO) — sumber mengenai kesehatan remaja, penggunaan zat, dan faktor risiko kesehatan.
- UNICEF — sumber mengenai perkembangan remaja, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak.
- United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) — sumber mengenai pencegahan penggunaan narkoba dan pendekatan kesehatan masyarakat.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

