Advertisement
Advertisement
IPS Kelas 8Sejarah

Perlawanan Bangsa Indonesia pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda Abad XIX

Advertisement

Perlawanan Bangsa Indonesia pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda Abad XIX, Sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda, rakyat Indonesia telah melakukan perlawanan di berbagai daerah. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, perlawanan rakyat semakin besar.

Berbagai peristiwa perang besar terjadi pada abad XIX. Hal ini tidak lepas dari semakin besarnya nafsu Belanda menguasai Indonesia dan semakin beratnya penderitaan bangsa Indonesia.

Hingga akhir abad XVIII, Belanda belum berhasil menguasai Indonesia secara keseluruhan. Masih banyak kerajaan besar didukung kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi ancaman Belanda.

Advertisement

Perlawanan abad XIX benar-benar membutuhkan tenaga dan biaya yang sangat besar. Bahkan beberapa kali Belanda mengalami krisis keuangan karena menghadapi perlawanan-perlawanan tersebut. Berbagai bentuk perlawanan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut.

Perang Saparua di Ambon

Masih ingatkah kalian dengan kekuasaan Inggris yang menggantikan Belanda tahun 1811–1816? Peralihan kekuasaan tersebut menyadarkan rakyat bahwa Belanda bukanlah kekuatan yang paling hebat. Ketika Belanda kembali berkuasa di Indonesia tahun 1817, rakyat Ambon mengadakan perlawanan dipimpin oleh Thomas Matulessy (Pattimura).

Pattimura memimpin pemberontakan di Saparua dan berhasil merebut benteng Belanda. Ia juga berhasil membunuh Residen van den Berg. Pemberontakan Pattimura dapat dikalahkan setelah bantuan Belanda. dari Batavia datang. Pattimura bersama tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung.

Kenali Tokoh

(ilustrasi foto/Makassar Today)

Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura lahir di Desa Haria, Pulau Saparua pada 8 Juni 1783. Thomas Matulessy adalah seorang kesatria keturunan dari keluarga besar Matulessia (Matulessy) yang tidak lain masih bersaudara dengan raja Maluku.

Pattimura beserta pasukannya sempat berhasil menguasai benteng Duurstede, namun akhirnya tertangkap oleh Belanda. Perlawanan sejati ia tunjukkan dengan keteguhannya yang tidak mau berkompromi dengan Belanda.

Advertisement

Beberapa kali Belanda berusaha membujuk Pattimura untuk mau bekerja sama, tetapi selalu ditolaknya. Ia lebih memilih gugur di tiang gantungan sebagai pahlawan daripada hidup sebagai pengkhianat.

Perang Padri di Sumatra Barat (1821-1838)

Minangkabau Sumatra Barat merupakan pusat gerakan kebangkitan Islam di Indonesia. Gerakan Wahabiah yang bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dibawa oleh para haji yang pulang dari Mekkah. Tokohnya adalah Haji Miskin, Haji Malik, dan Haji Piabang. Kelompok pembaru Islam di Sumatra Barat ini disebut sebagai Kaum Padri.

Ide pembaruan Kaum Padri berbenturan dengan kelompok adat. Belanda memanfaatkan perselisihan tersebut dengan mendukung Kaum Adat yang posisinya sudah terjepit. Pada Februari 1821, Kaum Adat menandatangani perjanjian yang menyerahkan kekuasaan Minangkabau kepada Belanda sebagai imbalan bantuan Belanda untuk membantu Kaum Adat melawan Kaum Padri.

Advertisement
Perlawanan kaum Padri berhasil mendesak benteng-benteng Belanda (ilustrasi foto/Wikipedia)

a. Perlawanan Padri Tahap I (1821-1825)

Perlawanan kaum Padri berubah dengan sasaran utama Belanda meletus tahun 1821. Kaum Padri dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol (M. Syahab), Tuanku nan Cerdik, Tuanku Tambusai, dan Tuanku nan Alahan.

Perlawanan kaum Padri berhasil mendesak benteng-benteng Belanda. Karena menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda akhirnya melakukan perdamaian di Bonjol pada 15 November 1825.

b. Perang Padri Tahap II (1825-1837)

Belanda berkonsentrasi untuk menghadapi perlawanan Diponegoro hingga tahun 1830. Setelah itu, Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap kedudukan Padri.

Advertisement

Kaum Adat yang semula bermusuhan dengan kaum Padri akhirnya banyak yang mendukung perjuangan Padri. Bantuan dari Aceh juga datang untuk mendukung pejuang Padri.

Baca juga Serangan Kedua Belanda Pada Kaum Padri Setelah Perang Dipenogoro

Setelah berhasil memadamkan perlawanan Pangeran Diponegoro, Belanda kembali berkonsentrasi menghadapi Perang Padri. Belanda bahkan berhasil memanfaatkan Sentot Ali Basyah Prawirodirjo (salah satu pimpinan pasukan Diponegoro yang telah menyerah kepada Belanda) untuk turut memperkuat pasukan Belanda. Kekuatan Belanda benar-benar pulih, apalagi dengan banyaknya tentara sewaan dari orang pribumi.

Belanda menerapkan sistem pertahanan Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan Benteng Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanan. Dengan siasat ini, Belanda akhirnya menang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan terakhir Padri di Bonjol pada 1837. Tuanku Imam Bonjol ditangkap, kemudian diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Manado hingga wafat tahun 1864. 

Jendela Info

Berakhirnya Perang Padri, membuat kekuasaan Belanda di Minangkabau semakin besar. Keadaan ini kemudian mendukung usaha Belanda untuk menguasai wilayah Sumatra yang lain.

Advertisement
Read article
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button