IPS Kelas 8Sejarah

Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830)

Perang Diponegoro di Yogyakarta (1825-1830), Latar belakang perlawanan Pangeran Diponegoro diawali dari campur tangan Belanda dalam urusan politik kerajaan Yogyakarta. Wafatnya Hamengkubuwono IV tahun 1822 menimbulkan perselisihan tentang siapa penggantinya.

Saat itu, putra mahkota baru berumur 3 tahun. Penderitaan rakyat semakin menjadi, terutama kegagalan panen pada 1820-an. Di samping itu, rakyat sudah jenuh dengan perlakuan Belanda yang tidak pernah menghormati hak-hak rakyat.

Belanda membangun jalan baru pada Mei 1825

Dengan memasang patok-patok pada tanah leluhur Diponegoro. Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro Patih Danureja IV mencabuti patok-patok tersebut. Belanda segera mengutus serdadu untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Pada 20 Juli, Tegalrejo direbut dan dibakar Belanda.

Diponegoro berhasil meloloskan diri dan segera mengumandangkan Perang Jawa (1825-1830). Pemberontakan tersebut menjalar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, pusat perlawanan berada di kawasan Yogyakarta. Lima belas dari 29 pangeran bergabung mendukung Diponegoro. Belanda benar-benar terjepit.

Belanda berusaha untuk membujuk pemberontak dengan memulangkan Hamengkubuwono II dari pengasingannya di Ambon. Akan tetapi, langkah ini gagal. Kemudian, Belanda mencoba untuk menerapkan siasat benteng-stelsel. Dengan sistem ini, Belanda mampu memecah belah jumlah pasukan musuh.

Perang Diponegoro di Yogyakarta pada 1829, Kiai Maja ditangkap oleh Belanda. Kemudian, disusul Pangeran Mangkubumi dan Panglima Sentot Ali Basyah Prawiryodirjo. Setelah kekalahan ini, Sentot Ali Basyah terpaksa menjalankan tugas membantu Belanda dalam menumpas Perang Padri di Sumatra Barat.

Kenali Tokoh

Pangeran Dipenogoro atau Raden Mas Ontowiryo (ilustrasi foto/Demokratis)

Diponegoro atau Raden Mas Ontowiryo merupakan putra sulung Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, dari Pacitan. Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, untuk mengangkatnya menjadi raja.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya. Setelah melakukan perlawanan terhadap Belanda, Diponegoro sempat beberapa kali dipindahkan ke tempat pembuangan sebelum akhirnya wafat di Makassar pada 8 Januari 1855.

Pada Maret 1830, Diponegoro akhirnya mau mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah. Perundingan tersebut hanya sebagai jalan tipu muslihat. Akhirnya Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makassar hingga wafat tahun 1855. Dengan berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro), tidak lagi muncul perlawanan yang lebih berat di Jawa.

Di Sekitar Kita

Museum Diponegoro terletak di sayap kiri Pendopo Karesidenan Kedu. Saat ini, di museum tersimpan benda-benda bernilai sejarah, antara lain jubah berukuran tinggi 1.57 m, lebar 1.35 m terbuat dari kain santung, kitab tahrib, balai-balai tempat sembahyang, 7 cangkir tempat 7 macam minuman kegemaran beliau, dan lain-lain.

Satu hal yang menarik, di museum tersebut, terdapat pula meja kursi bekas kemarahan beliau berupa guratan kuku. Pangeran Diponegoro memang ditangkap secara licik dalam suatu perundingan dengan Belanda di karesidenan Kedu Magelang.

Baca juga Serangan Kedua Pasukan Mataram Terhadap Kekuasaan VOC

Perang Aceh (1873–1904)

Pada 1871 diadakan Traktat London, di mana Belanda menyerahkan Sri Lanka kepada Inggris dan Belanda mendapat hak di Aceh. Berdasarkan traktat tersebut, Belanda mempunyai alasan untuk menyerang istana Aceh tahun 1873.

Saat itu, Aceh masih merupakan negara merdeka. Belanda juga membakar Masjid Baiturrahim sebagai benteng pertahanan Aceh pada 14 April 1873.

Dengan semangat jihad, rakyat mengadakan perlawanan. Jenderal Kohler terbunuh. Siasat konsentrasi stelsel dengan sistem bertahan dalam benteng besar oleh Belanda tidak berhasil. Belanda semakin terdesak, korban semakin besar, dan keuangan terus terkuras. 

Belanda sama sekali tidak mampu menghadapi perlawanan rakyat Aceh secara fisik. Menyadari hal tersebut, Belanda akhirnya mengutus Dr. Snouck Hurgronje untuk mencari kelemahan rakyat Aceh. Ia memakai nama samaran Abdul Gafar seorang ahli bahasa, sejarah, dan sosial Islam.

Setelah lama belajar di Arab, Snouck Hurgronje memberikan saran-saran kepada Belanda mengenai cara mengalahkan orang Aceh. Menurut Hurgronje, Aceh tidak mungkin dilawan dengan kekerasan sebab karakter orang Aceh tidak akan pernah menyerah. Jiwa jihad orang Aceh sangat tinggi.

Taktik yang paling ampuh adalah dengan mengadu domba antara golongan uleebalang (bangsawan) dengan ulama. Belanda menjanjikan kedudukan pada uleebalang yang bersedia damai. Taktik ini berhasil.

Banyak uleebalang yang tertarik pada tawaran Belanda. Belanda memberikan tawaran kedudukan kepada para Uleebalang apabila Kaum Ulama dapat dikalahkan. Sejak tahun 1898, kedudukan Aceh semakin terdesak.

Tokoh-Tokoh Perang Aceh

Para tokohnya banyak yang gugur. Teuku Umar gugur di Pertempuran Meulaboh 1899. Sultan Aceh Mohammad Daudsyah dapat ditawan tahun 1903 dan diasingkan hingga wafat di Batavia. 

Panglima Polem Mohammad Daud juga menyerah tahun 1903. Cut Nyak Dien, tokoh pemimpin perempuan ditangkap tahun 1905 kemudian diasingkan ke Sumedang. 

Gugurnya pahlawan perempuan Cut Meutia tahun 1910 membuat perlawanan Aceh terus menyusut. Hingga 1917, Belanda masih melakukan pengejaran. Hal ini menjadi bukti bahwa perlawanan Aceh tidak pernah padam. Belanda sendiri telah mengumumkan Perang Aceh selesai tahun 1904.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker