Media Pembelajaran Mengoptimalkan Kemampuan Anak

Media Pembelajaran Mengoptimalkan Kemampuan Anak, Adapun pemilihan media pembelajaran berdasarkan berbagai karakteristik perkembangan anak, maka guru harus mendesain program belajar bermedia yang sesuai untuk mengoptimalkan aspek-aspek perkembangan anak.

Program pembelajaran bermedia tersebut tersebut dirancang dengan memperhatikan beragam kriteria sebagai berikut :

1. Konkret:

Media Pembelajaran Mengoptimalkan Kemampuan Anak, berbagai stimulasi dalam pembelajaran yang digunakan bersifat konkret sesuai dengan fase perkembangan kognitif anak usia dini. Hal ini akan mempermudah mereka memahami intisari pengalaman-pengalaman baru yang dijumpai dalam lingkungannya dan mengintegrasikannya ke dalam struktur pemahaman yang sudah dipunyai sebelumnya.

Anakpun harus difasilitasi untuk secara konkret berada di tengah-tengah narasumber professional yang ahli di bidangnya masing-masing, agar anak mendapatkan gambaran nyata dalam proses pengenalan sebuah kehidupan dan lebih khusus lagi kehidupan profesi.

2. Menyenangkan:

belajar haruslah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak dan memberinya kebebasan untuk bereksplorasi dengan ide-ide baru sesuai minat maupun jenis kecerdasan yang dimilikinya tanpa mengabaikan stimulan untuk jenis kecerdasan lainnya.

Proses belajar sebagian besar akan dilalui anak dengan cara bermain dan bereksplorasi tanpa banyak kekangan atau formalitas dan tanpa harus disalahkan atau dibatasi oleh keinginankeinginan orang dewasa.

Hal ini menjadi sangat vital karena anak perlu membentuk sebuah nilai moral yang positif mengenai belajar, agar ada keriangan dan minat yang makin besar terhadap sebuah proses belajar.

3. Komunikatif :

berkomunikasi dengan anak usia dini membutuhkan strategi tersendiri, karena penting bagi mereka untuk juga mendengarkan orang lain, dan bukan hanya minta didengarkan saja. Untuk mencapai tujuan tadi maka guru yang terlibat dalam program ini perlu memahami hal-hal apa saja yang berpengaruh pada proses komunikasi dengan anak. Mereka juga perlu menempatkan diri pada posisi anak dan menyesuaikan diri dengan karakteristik anak usia dini secara empatis.

4. Integratif :

aspek yang dikembangkan dalam proses belajar tidak terfokus pada salah satu aspek saja. Dalam segala aktivitas yang dilakukannya, anak harus dapat mengoptimalkan berbagai aspek sekaligus, baik aspek-aspek kognitif, fisik, science dan aspek-aspek lainnya.

Aspek moral dan emosi juga amat penting untuk diperhatikan secara khusus mengingat bahwa kemampuan seorang anak untuk mengatur dan menyesuaikan emosinya dengan situasi yang dijumpai akan menjadi landasan sukses anak di kemudian hari.

5. Media dan Sumber belajar:

media dan sumber belajar yang digunakan dirancang sedemikian rupa sehingga memenuhi kriteria-kriteria :

a. Aman: Media harus aman dan sesuai dengan kematangan usia. Misalnya, pada anak usia sekitar 4 tahun yang masih cenderung bereksplorasi melalui alat inderanya, materi permainan yang digunakan seyogyanya tidak dibuat dari bahan kimia berbahaya dan berukuran terlalu kecil, karena beresiko tertelan atau dimasukkan ke dalam lubang hidung dan lubang telinga.

b. Tepat usia: media dan sumber belajar diharapkan menjadi stimulan yang sesuai dengan usia anak, karenanya disusun dengan mempertimbangkan fase perkembangan yang tengah dilalui anak.

Sebagai contoh, pada anak yang mulai belajar mengelompokkan atau mengklasifikasikan benda dan warna, perlu disediakan materi yang berwarna warni atau terdiri dari bentuk-bentuk tertentu yang mudah dikenali.

Atau dapat pula dikemas dalam kegiatan field trip yang memberikan pemuasan pada rasa ingin tahu anak.

c. Menarik: mampu menarik anak untuk terlibat secara aktif. media dan sumber belajar yang digunakan tidak boleh terlalu monoton, statis atau terstruktur ketat. Diupayakan agar media dan sumber belajar justru dapat merangsang anak untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut.

Misalnya pada anak diperkenalkan lingkungan sosial budaya desa tertentu secara terbatas sebelum memulai field trip, kemudian mereka ditugasi untuk mengeksplorasi lebih lanjut dan menyusun suatu cerita yang lebih lengkap tentang desa tersebut sesudahnya, lengkap dengan data-data pendukung, hasil kerajinan atau data apapun yang dapat dikumpulkan sesuai kreativitas dan minat mereka.

d. Variatif: mampu mengakomodasi berbagai minat dan jenis kecerdasan anak. Mengingat teori tentang kecerdasan majemuk atau kecerdasan ganda yang telah disinggung sebelumnya, perlu kiranya menyediakan sebanyak mungkin variasi media dan sumber belajar yang dapat mengakomodasi tiap jenis kecerdasan.

Bahan ajar tentang jenis-jenis mahluk hidup misalnya, dapat saja disusun dengan bentuk penyajian grafis atau berbentuk peta pikiran yang berwarna warni, untuk menarik dan mempermudah proses belajar mereka yang berciri visual.

Sementara itu, bagi anak-anak yang memiliki kecerdasan bahasa menonjol dapat dipergunakan bahan ajar serupa yang penyajiannya dalam bentuk bacaan atau rekaman naratif. Sebaliknya, field trip atau belajar langsung di alam bebas dan di Kebun Binatang mungkin akan menarik bagi anak-anak dengan jenis kecerdasan naturalis yang dominan.

e. Menantang: media dan sumber belajar haruslah menantang, artinya dirancang dengan taraf kesulitan sedikit di atas kemampuan dasar anak. Hal ini diperlukan agar tidak membosankan dan mendorong anak untuk terus mengalami kemajuan.

Meskipun demikian bahan ajar tersebut haruslah realistis dan dapat dicerna oleh anak pada usianya, supaya anak tidak mengalami keputusasaan karena terlalu sulit dan akhirnya merasa gagal.

Misalnya, bahan ajar/tema yang mengharuskan anak melakukan perkalian dan pembagian sementara kemampuan matematis yang dikuasainya baru sampai pada konsep penjumlahan satuan.

Baca juga Pengertian-Ragam dan Fungsi Media Pembejalaran

f. Integratif: media dan sumber belajar dirancang untuk sekaligus memberikan stimulasi pada berbagai aspek yang akan dikembangkan pada diri anak.

Field trip misalnya, diselenggarakan sesuai tema tiap kesempatan untuk sekaligus melatih segi motorik dan fisik anak saat ia diajak berjalan-jalan, segi kognitif ketika ia diajak menghitung berapa banyak rumah bata yang ia lihat sepanjang perjalanan, bahkan juga kemampuan berbahasa ketika anak diajak mendiskusikan hal-hal yang dialaminya sepanjang perjalanan.

Media Pembelajaran Mengoptimalkan Kemampuan Anak, tidak ketinggalan juga aspek moral dan sosial seperti tidak membuang bungkus permen secara sembarangan dan menyapa orang-orang yang ditemui bila anak mengenalnya.

Gambar 37a. Media pembelajaran harus disesuaikan dengan pertumbuhan dan usia anak (ilustrasi foto/Pemerintah Provinsi Riau)
DAFTAR PUSTAKA
  • Arief S. Sadiman, 1990 Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta : Pustekom Dikbud dan CV Rajawali.
  • Heinich, R., Molenda, M., Russell, J. D., & Smaldino, S.E. 2002. Instructional media and technology for learning, 7th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
  • Heinich, R., et. al. (1996) Instructional Media and Technologies for Learning. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.