Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia memiliki peran penting dalam perkembangan agama, politik, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan Nusantara. Beberapa kerajaan yang terkenal antara lain Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Demak, Mataram Islam, Banten, Cirebon, Banjar, Gowa-Tallo, Ternate, dan Tidore. Peninggalannya berupa masjid, keraton, makam sultan, benteng, naskah kuno, serta tradisi keagamaan yang masih bertahan hingga sekarang.
Pendahuluan
Perkembangan agama Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari munculnya kerajaan-kerajaan Islam di berbagai wilayah Nusantara. Setelah Islam dikenal melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan dakwah, sejumlah penguasa lokal mulai menerima Islam dan membentuk kerajaan bercorak Islam.
Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki peran penting dalam perkembangan agama, politik, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan masyarakat. Melalui kekuasaan kerajaan, Islam semakin berkembang karena mendapat dukungan dari penguasa, ulama, pedagang, dan masyarakat.
Kerajaan Islam di Indonesia muncul pada waktu dan wilayah yang berbeda. Di Sumatra terdapat Samudra Pasai dan Aceh Darussalam. Di Jawa berkembang Demak, Pajang, Mataram Islam, Cirebon, dan Banten. Sementara itu, di Kalimantan terdapat Kesultanan Banjar, di Sulawesi berkembang Gowa-Tallo, serta di Maluku terdapat Ternate dan Tidore.
Setiap kerajaan memiliki sejarah dan peninggalan yang menjadi bukti perkembangan Islam di Nusantara. Peninggalan tersebut dapat berupa masjid, makam, keraton, naskah, mata uang, tradisi keagamaan, dan berbagai benda bersejarah lainnya.
Latar Belakang Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
Sebelum kerajaan Islam berkembang, Nusantara telah memiliki berbagai kerajaan bercorak Hindu-Buddha dan kerajaan lokal. Perdagangan internasional kemudian mempertemukan masyarakat Nusantara dengan pedagang Muslim dari Arab, Persia, India, Tiongkok, dan wilayah lainnya.
Interaksi tersebut membuka jalan bagi perkembangan Islam di kawasan pesisir. Dalam perkembangannya, sebagian masyarakat dan penguasa lokal menerima Islam.
Beberapa faktor yang mendorong munculnya kerajaan Islam di Indonesia adalah sebagai berikut.
A. Perkembangan Perdagangan
Perdagangan menjadi salah satu jalur penting penyebaran Islam. Pelabuhan-pelabuhan di Nusantara menjadi tempat pertemuan pedagang Muslim dan masyarakat lokal.
Hubungan ekonomi yang berlangsung secara berulang mendorong terbentuknya komunitas Muslim di berbagai kawasan pesisir.
B. Peran Ulama dan Pendakwah
Ulama memperkenalkan ajaran Islam melalui pendidikan, pengajian, kegiatan sosial, dan hubungan dengan masyarakat.
Di beberapa wilayah, ulama juga memiliki hubungan dengan penguasa sehingga membantu perkembangan Islam di lingkungan kerajaan.
C. Perkawinan
Perkawinan antara pedagang atau tokoh Muslim dengan penduduk lokal turut memperluas hubungan sosial dan keagamaan.
Hubungan keluarga tersebut dapat memperkuat komunitas Muslim yang telah terbentuk.
D. Dukungan Penguasa Lokal
Ketika seorang penguasa menerima Islam, pengaruhnya dapat membantu perkembangan agama tersebut di lingkungan pemerintahan dan masyarakat.
Kerajaan kemudian menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan.
E. Hubungan Antarkerajaan
Hubungan perdagangan, diplomasi, perkawinan politik, dan keagamaan antarkerajaan turut mempercepat perkembangan Islam di berbagai wilayah Nusantara.
Kerajaan Islam di Pulau Sumatra
Sumatra menjadi salah satu wilayah penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan internasional menjadikan kawasan ini sebagai tempat pertemuan pedagang dan ulama dari berbagai wilayah.
A. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai merupakan salah satu kerajaan Islam awal yang penting dalam sejarah Nusantara. Kerajaan ini berkembang di pesisir utara Sumatra, sekitar wilayah yang sekarang termasuk Aceh Utara.
Samudra Pasai memiliki posisi strategis karena berada dekat jalur perdagangan Selat Malaka. Aktivitas perdagangan membantu kerajaan menjalin hubungan dengan pedagang dari India, Arab, dan berbagai kawasan Asia Tenggara.
Sejarah perkembangan Samudra Pasai
Samudra Pasai berkembang sekitar abad ke-13. Salah satu penguasa yang paling dikenal adalah Sultan Malik al-Saleh, yang wafat pada tahun 1297 Masehi.
Makam Sultan Malik al-Saleh menjadi salah satu bukti penting keberadaan kerajaan bercorak Islam di wilayah tersebut.
Kerajaan ini berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat penyebaran Islam. Pedagang, ulama, dan masyarakat dari berbagai daerah berinteraksi di kawasan tersebut.
Peninggalan Samudra Pasai
Beberapa peninggalan yang berkaitan dengan Samudra Pasai antara lain:
- Makam Sultan Malik al-Saleh.
- Makam para sultan dan tokoh kerajaan.
- Batu nisan bercorak Islam dengan tulisan Arab.
- Mata uang dirham yang digunakan dalam kegiatan ekonomi.
- Berbagai sumber sejarah mengenai hubungan perdagangan dan pemerintahan kerajaan.
Peran Samudra Pasai dalam perkembangan Islam
Samudra Pasai menjadi salah satu pusat perdagangan dan perkembangan Islam di kawasan Selat Malaka. Kerajaan ini memperlihatkan hubungan erat antara aktivitas ekonomi, kekuasaan politik, dan penyebaran agama.
B. Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh Darussalam berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Sumatra.
Kerajaan ini tumbuh di wilayah Aceh dan mencapai masa kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda (1607โ1636).
Sejarah perkembangan Aceh Darussalam
Aceh berkembang sebagai pusat perdagangan internasional, terutama perdagangan lada. Letaknya yang strategis menjadikannya salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Selat Malaka.
Pada masa Sultan Iskandar Muda, kekuasaan Aceh meluas dan kerajaan memiliki pengaruh besar dalam perdagangan serta politik kawasan Asia Tenggara.
Aceh juga menjadi pusat pendidikan dan keilmuan Islam. Ulama dari berbagai wilayah datang untuk mengembangkan pengetahuan agama dan tradisi intelektual.
Tokoh-tokoh yang dikenal dalam perkembangan keilmuan Aceh antara lain Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili. Mereka hidup dalam periode yang berbeda dan memiliki kontribusi dalam tradisi keilmuan Islam di kawasan tersebut.
Peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam
- Masjid Raya Baiturrahman.
- Kompleks makam Sultan Iskandar Muda.
- Gunongan, bangunan bersejarah yang berkaitan dengan lingkungan Kesultanan Aceh.
- Naskah-naskah keagamaan dan sastra Melayu.
- Tradisi keilmuan Islam dan manuskrip beraksara Arab-Melayu.
Peran Aceh dalam perkembangan Islam
Aceh berperan sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan penyebaran Islam. Kerajaan ini juga memiliki hubungan keagamaan dan diplomatik dengan berbagai wilayah di dunia Islam.
Kerajaan Islam di Pulau Jawa
Pulau Jawa menjadi salah satu pusat penting perkembangan kerajaan Islam. Kawasan pesisir utara Jawa memiliki pelabuhan yang ramai sehingga menjadi tempat berkembangnya komunitas Muslim.
A. Kesultanan Demak
Kesultanan Demak dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam penting pertama di Jawa. Kerajaan ini berkembang sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.
Raden Patah dikenal sebagai tokoh pendiri Demak dalam tradisi sejarah. Kerajaan ini memiliki peran penting dalam perkembangan politik dan agama Islam di pesisir utara Jawa.
Sejarah perkembangan Demak
Demak berkembang dari kawasan pesisir yang memiliki hubungan perdagangan luas. Letaknya strategis karena terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan di Jawa dan jalur perdagangan antarpulau.
Pada masa perkembangannya, Demak menjadi pusat kekuasaan Islam dan berperan dalam penyebaran Islam ke berbagai wilayah Jawa.
Sultan Trenggana merupakan salah satu penguasa penting yang memperluas pengaruh Demak.
Peninggalan Kesultanan Demak
- Masjid Agung Demak.
- Soko Guru atau empat tiang utama masjid.
- Tradisi Sekaten yang berkembang dalam lingkungan budaya keraton Jawa dan berkaitan dengan sejarah dakwah Islam.
- Kompleks makam tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan sejarah Demak.
- Berbagai tradisi keagamaan dan kebudayaan masyarakat Demak.
Masjid Agung Demak dikenal dengan bentuk atap bertingkat yang memperlihatkan perpaduan unsur arsitektur Islam dan tradisi bangunan lokal.
Peran Demak dalam perkembangan Islam
Demak berperan sebagai pusat politik dan keagamaan Islam di Jawa. Kerajaan ini juga sering dikaitkan dengan jaringan dakwah Wali Songo.
B. Kesultanan Pajang
Kesultanan Pajang berkembang setelah melemahnya Kesultanan Demak pada abad ke-16.
Jaka Tingkir, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya, merupakan tokoh penting dalam sejarah Pajang.
Sejarah perkembangan Pajang
Pajang berkembang di wilayah pedalaman Jawa Tengah. Perpindahan pusat kekuasaan dari kawasan pesisir menuju pedalaman menunjukkan perubahan dalam perkembangan politik kerajaan Islam di Jawa.
Pada masa Sultan Hadiwijaya, Pajang menjadi salah satu pusat kekuasaan penting di Jawa.
Peninggalan Kesultanan Pajang
Peninggalan fisik Pajang tidak sebanyak kerajaan Islam lainnya. Beberapa situs dan tradisi sejarah yang dikaitkan dengannya antara lain:
- Situs dan kawasan sejarah Pajang di sekitar Kartasura dan Surakarta.
- Makam tokoh-tokoh yang berkaitan dengan tradisi sejarah Pajang.
- Tradisi sejarah mengenai hubungan Pajang dengan Demak dan Mataram Islam.
Peran Pajang dalam perkembangan Islam
Pajang berperan sebagai penghubung perkembangan politik Islam dari masa Demak menuju munculnya Mataram Islam.
C. Kesultanan Mataram Islam
Mataram Islam berkembang pada akhir abad ke-16 dan menjadi salah satu kerajaan besar dalam sejarah Jawa.
Kerajaan ini didirikan oleh Panembahan Senapati dan mencapai masa kejayaan pada masa Sultan Agung.
Sejarah perkembangan Mataram Islam
Mataram Islam berkembang di wilayah pedalaman Jawa. Pada masa Sultan Agung (1613โ1645), kerajaan memperluas kekuasaan dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik Jawa.
Sultan Agung juga dikenal melalui upayanya membangun identitas politik dan budaya kerajaan.
Dalam bidang kebudayaan, Mataram Islam berperan dalam perkembangan tradisi Jawa yang berinteraksi dengan nilai-nilai Islam.
Peninggalan Mataram Islam
- Kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri.
- Tradisi Sekaten dan Grebeg Maulud yang berkembang dalam lingkungan keraton.
- Tradisi kalender Jawa-Islam yang dikaitkan dengan kebijakan Sultan Agung.
- Peninggalan keraton dan situs sejarah yang berkaitan dengan perkembangan Mataram.
- Naskah dan tradisi sastra Jawa.
Peran Mataram Islam dalam perkembangan Islam
Mataram Islam berperan dalam mengembangkan kebudayaan Islam-Jawa. Pengaruhnya terlihat dalam tradisi keagamaan, sistem kalender, sastra, dan kehidupan masyarakat.
D. Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon berkembang di wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan Islam dan pemerintahan Cirebon.
Sejarah perkembangan Cirebon
Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam. Letaknya strategis karena menghubungkan wilayah Jawa Barat dengan jalur perdagangan pesisir utara Jawa.
Dalam perkembangannya, Cirebon menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Islam yang memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain.
Peninggalan Kesultanan Cirebon
- Keraton Kasepuhan.
- Keraton Kanoman.
- Keraton Kacirebonan.
- Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
- Kompleks makam Sunan Gunung Jati.
- Berbagai naskah dan tradisi budaya Cirebon.
Peran Cirebon dalam perkembangan Islam
Cirebon menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat. Kerajaan ini juga berperan dalam perkembangan seni, tradisi, dan kebudayaan pesisir.
E. Kesultanan Banten
Kesultanan Banten berkembang di wilayah barat Pulau Jawa dan menjadi pusat perdagangan penting.
Kerajaan ini berkembang pesat setelah Islam memperoleh pengaruh kuat di wilayah Banten.
Sejarah perkembangan Banten
Banten berkembang sebagai pusat perdagangan lada dan memiliki hubungan dengan pedagang dari berbagai wilayah.
Sultan Maulana Hasanuddin dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan awal Kesultanan Banten.
Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651โ1683), Banten mencapai perkembangan penting dalam bidang perdagangan dan politik.
Peninggalan Kesultanan Banten
- Masjid Agung Banten.
- Menara Masjid Agung Banten.
- Keraton Surosowan.
- Keraton Kaibon.
- Benteng Speelwijk.
- Kompleks makam Sultan Maulana Hasanuddin dan tokoh kerajaan.
Peran Banten dalam perkembangan Islam
Banten menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus pusat penyebaran Islam. Hubungan perdagangan dengan berbagai bangsa memperkuat posisi Banten dalam jaringan ekonomi Nusantara.
Kerajaan Islam di Pulau Kalimantan
Kalimantan juga memiliki sejarah perkembangan kerajaan Islam yang penting. Salah satu kerajaan yang dikenal adalah Kesultanan Banjar.
A. Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar berkembang di wilayah Kalimantan Selatan dan memiliki peran penting dalam sejarah politik serta penyebaran Islam di Kalimantan.
Sultan Suriansyah dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal kerajaan ini.
Sejarah perkembangan Banjar
Kesultanan Banjar berkembang pada abad ke-16. Penerimaan Islam oleh penguasa Banjar menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan agama Islam di wilayah tersebut.
Hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah turut mendukung perkembangan ekonomi kerajaan.
Sungai menjadi jalur transportasi penting bagi kegiatan perdagangan dan hubungan antarmasyarakat di Kalimantan Selatan.
Peninggalan Kesultanan Banjar
- Masjid Sultan Suriansyah di Kuin, Banjarmasin.
- Kompleks makam Sultan Suriansyah.
- Tradisi keagamaan masyarakat Banjar.
- Naskah dan karya sastra keagamaan.
- Berbagai peninggalan sejarah dan budaya Kesultanan Banjar.
Peran Banjar dalam perkembangan Islam
Kesultanan Banjar menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Kalimantan. Perkembangan Islam didukung oleh hubungan kerajaan, ulama, pedagang, dan masyarakat setempat.
Kerajaan Islam di Pulau Sulawesi
Sulawesi memiliki peran penting dalam perdagangan Nusantara bagian timur. Salah satu kerajaan Islam yang terkenal adalah Gowa-Tallo.
A. Kerajaan Gowa-Tallo
Gowa-Tallo merupakan kerajaan kembar yang berkembang di wilayah Sulawesi Selatan. Dalam perkembangannya, kedua kerajaan ini dikenal sebagai pusat kekuatan politik dan perdagangan di kawasan timur Nusantara.
Sejarah perkembangan Gowa-Tallo
Islam mulai diterima oleh penguasa Gowa-Tallo pada awal abad ke-17.
Sultan Alauddin dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islamisasi Gowa-Tallo. Perkembangan Islam kemudian meluas ke wilayah lain di Sulawesi Selatan melalui hubungan politik, perdagangan, dan dakwah.
Makassar berkembang sebagai pelabuhan penting yang menghubungkan berbagai daerah di Nusantara.
Peninggalan Gowa-Tallo
- Benteng Somba Opu.
- Benteng Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang.
- Kompleks makam raja-raja Gowa.
- Masjid Katangka.
- Berbagai naskah dan tradisi sejarah Kesultanan Gowa.
Peran Gowa-Tallo dalam perkembangan Islam
Gowa-Tallo menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, dan penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini juga memiliki pengaruh dalam perkembangan Islam di wilayah Indonesia bagian timur.
Kerajaan Islam di Kepulauan Maluku
Maluku dikenal sebagai wilayah penghasil rempah-rempah yang memiliki hubungan perdagangan internasional sejak masa lampau.
Kondisi tersebut mendukung berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam, terutama Ternate dan Tidore.
A. Kesultanan Ternate
Kesultanan Ternate berkembang di wilayah Maluku Utara dan dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan rempah-rempah.
Sejarah perkembangan Ternate
Ternate berkembang sebagai kerajaan yang memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai bangsa. Islam diterima oleh penguasa Ternate secara bertahap dan kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan politik kerajaan.
Sultan Zainal Abidin sering disebut sebagai tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Ternate.
Kerajaan ini kemudian menjadi salah satu kekuatan politik dan ekonomi di kawasan Maluku.
Peninggalan Kesultanan Ternate
- Kedaton Kesultanan Ternate.
- Masjid Sultan Ternate.
- Benteng Tolukko.
- Benteng Oranje.
- Kompleks makam para sultan.
- Tradisi dan upacara adat Kesultanan Ternate.
Peran Ternate dalam perkembangan Islam
Ternate menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan penyebaran Islam di Maluku. Pengaruhnya berkembang melalui hubungan perdagangan dan politik dengan wilayah sekitarnya.
B. Kesultanan Tidore
Kesultanan Tidore berkembang di wilayah Maluku Utara dan menjadi salah satu kerajaan penting dalam perdagangan rempah-rempah.
Sejarah perkembangan Tidore
Tidore memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah di Nusantara dan kawasan Pasifik.
Kerajaan ini juga memiliki hubungan politik dan persaingan dengan Ternate, terutama dalam pengaruh perdagangan dan kekuasaan di Maluku.
Sultan Nuku merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Tidore, khususnya dalam perjuangan menghadapi kekuatan kolonial pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Peninggalan Kesultanan Tidore
- Kedaton Kesultanan Tidore.
- Masjid Kesultanan Tidore.
- Kompleks makam para sultan.
- Tradisi adat dan keagamaan masyarakat Tidore.
- Berbagai peninggalan sejarah perdagangan dan politik.
Peran Tidore dalam perkembangan Islam
Tidore berperan dalam perkembangan Islam di Maluku dan menjadi salah satu pusat kekuatan politik serta perdagangan rempah-rempah di Nusantara bagian timur.
Kerajaan Islam Lain di Indonesia
Selain kerajaan-kerajaan yang telah dijelaskan, terdapat sejumlah kerajaan Islam lainnya yang turut berperan dalam sejarah Nusantara.
A. Kesultanan Buton
Kesultanan Buton berkembang di wilayah Sulawesi Tenggara.
Kerajaan ini memiliki sejarah pemerintahan dan tradisi Islam yang khas. Islam berkembang melalui hubungan antara penguasa, ulama, dan masyarakat.
Peninggalan Kesultanan Buton:
- Benteng Keraton Buton atau Benteng Wolio.
- Kompleks keraton.
- Masjid Agung Keraton Buton.
- Naskah dan tradisi adat Kesultanan Buton.
B. Kesultanan Palembang Darussalam
Kesultanan Palembang Darussalam berkembang di Sumatra Selatan dan memiliki peran penting dalam perdagangan serta perkembangan Islam.
Kerajaan ini berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di kawasan Sungai Musi.
Peninggalan Kesultanan Palembang:
- Masjid Agung Palembang.
- Benteng Kuto Besak.
- Makam Sultan Mahmud Badaruddin I dan tokoh kerajaan.
- Berbagai naskah dan tradisi keagamaan.
C. Kesultanan Siak Sri Indrapura
Kesultanan Siak Sri Indrapura berkembang di wilayah Riau dan memiliki pengaruh penting dalam sejarah politik serta perdagangan Melayu.
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil pada awal abad ke-18.
Peninggalan Kesultanan Siak:
- Istana Siak Sri Indrapura.
- Masjid Syahabuddin.
- Makam para sultan.
- Berbagai benda koleksi kerajaan dan naskah sejarah.
Perbandingan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
Berikut ringkasan beberapa kerajaan Islam penting berdasarkan wilayah, tokoh, dan peninggalannya.
| Kerajaan | Wilayah | Tokoh yang dikenal | Peninggalan |
| Samudra Pasai | Aceh | Sultan Malik al-Saleh | Makam Sultan Malik al-Saleh, mata uang dirham |
| Aceh Darussalam | Aceh | Sultan Iskandar Muda | Masjid Raya Baiturrahman, Gunongan |
| Demak | Jawa Tengah | Raden Patah, Sultan Trenggana | Masjid Agung Demak |
| Pajang | Jawa Tengah | Sultan Hadiwijaya | Situs sejarah Pajang dan tradisi sejarah kerajaan |
| Mataram Islam | Jawa | Panembahan Senapati, Sultan Agung | Makam Imogiri, tradisi kalender Jawa-Islam |
| Cirebon | Jawa Barat | Sunan Gunung Jati | Keraton Kasepuhan, Masjid Sang Cipta Rasa |
| Banten | Banten | Maulana Hasanuddin, Sultan Ageng Tirtayasa | Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan |
| Banjar | Kalimantan Selatan | Sultan Suriansyah | Masjid Sultan Suriansyah |
| Gowa-Tallo | Sulawesi Selatan | Sultan Alauddin | Benteng Somba Opu, Masjid Katangka |
| Ternate | Maluku Utara | Sultan Zainal Abidin | Kedaton Ternate, Masjid Sultan Ternate |
| Tidore | Maluku Utara | Sultan Nuku | Kedaton Tidore, masjid kesultanan |
| Buton | Sulawesi Tenggara | Sultan Murhum | Benteng Keraton Buton |
| Palembang | Sumatra Selatan | Sultan Mahmud Badaruddin I | Masjid Agung Palembang, Benteng Kuto Besak |
| Siak | Riau | Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah | Istana Siak, Masjid Syahabuddin |
Catatan: Tokoh dan peninggalan pada tabel merupakan contoh yang dikenal dalam sejarah masing-masing kerajaan. Tidak semua peninggalan dibangun pada masa pendiri kerajaan, dan beberapa situs mengalami perubahan atau pembangunan ulang pada periode berikutnya.

