Kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan kemajuan dalam bidang sosial, ekonomi, agama, dan kebudayaan. Sriwijaya berkembang sebagai kerajaan maritim dan pusat pembelajaran agama Buddha, sedangkan Majapahit dikenal melalui pertanian, perdagangan, pemerintahan, serta perkembangan seni dan sastra. Kedua kerajaan memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara dan meninggalkan warisan budaya yang masih dipelajari hingga sekarang.
Pendahuluan
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan dua kerajaan besar yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. Keduanya berkembang pada masa yang berbeda dan memiliki karakteristik kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh kondisi geografis, kegiatan ekonomi, pemerintahan, serta agama dan kebudayaan.
Sriwijaya berkembang sejak sekitar abad ke-7 Masehi dan dikenal sebagai kerajaan maritim yang berpusat di Sumatra. Letaknya yang strategis mendukung hubungan perdagangan melalui jalur laut serta perkembangan agama Buddha.
Sementara itu, Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 Masehi dan mencapai masa kejayaan pada abad ke-14, terutama ketika Hayam Wuruk memerintah bersama dukungan Mahapatih Gajah Mada. Kehidupan masyarakatnya ditopang oleh pertanian, perdagangan, kerajinan, dan kegiatan pemerintahan.
Mempelajari kehidupan masyarakat kedua kerajaan tersebut membantu kita memahami bahwa perkembangan peradaban Nusantara tidak hanya ditentukan oleh kekuasaan politik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat memanfaatkan lingkungan, membangun hubungan dagang, dan mengembangkan kebudayaan.
Kehidupan Masyarakat Kerajaan Sriwijaya
A. Kondisi geografis dan lingkungan
Sriwijaya berkembang di Sumatra dan memiliki hubungan erat dengan jalur pelayaran serta perdagangan di kawasan Selat Malaka. Pusat awal kerajaannya sering dikaitkan dengan wilayah sekitar Palembang, meskipun perkembangan dan cakupan kekuasaannya berubah sepanjang sejarah.
Letak yang strategis memberi keuntungan bagi Sriwijaya karena kapal-kapal yang melakukan perjalanan antara kawasan India, Tiongkok, dan wilayah Asia Tenggara melewati jalur perdagangan di sekitarnya.
Kondisi geografis tersebut mendorong berkembangnya kegiatan pelayaran, perdagangan, dan hubungan dengan berbagai bangsa. Sungai-sungai di Sumatra juga menjadi jalur penghubung antara daerah pedalaman dan kawasan pesisir.
B. Kehidupan sosial
Masyarakat Sriwijaya terdiri atas beragam kelompok yang memiliki peran berbeda. Penguasa dan pejabat kerajaan menjalankan pemerintahan, sementara pedagang, pelaut, petani, pengrajin, dan pemuka agama berperan dalam kehidupan sosial serta ekonomi.
Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya memiliki hubungan dengan masyarakat dari berbagai wilayah. Interaksi tersebut memungkinkan pertukaran barang, bahasa, pengetahuan, dan kebiasaan budaya.
Namun, informasi mengenai kehidupan sehari-hari seluruh lapisan masyarakat Sriwijaya masih terbatas. Sebagian sumber sejarah lebih banyak menjelaskan penguasa, kegiatan keagamaan, dan hubungan luar negeri daripada kehidupan keluarga atau masyarakat biasa.
C. Kehidupan ekonomi
Perdagangan maritim menjadi salah satu unsur penting perekonomian Sriwijaya. Letaknya di dekat jalur pelayaran strategis mendukung kegiatan perdagangan dan pelayanan bagi kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut.
Barang yang diperdagangkan di jaringan perdagangan Asia Tenggara antara lain hasil hutan, rempah-rempah, dan berbagai komoditas dari wilayah kepulauan. Jenis barang yang diperdagangkan melalui Sriwijaya dapat berubah sesuai masa dan jaringan perdagangan.
Selain perdagangan, masyarakat juga melakukan pertanian, perikanan, dan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. Kegiatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan penduduk dan mendukung kehidupan kerajaan.
Perdagangan maritim memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi Sriwijaya sangat berkaitan dengan kemampuan menjalin hubungan dengan pelabuhan serta wilayah lain.
D. Kehidupan agama dan pendidikan
Sriwijaya dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara. Catatan perjalanan pendeta Buddha dari Tiongkok, I-Tsing, memberikan informasi penting mengenai kegiatan belajar agama Buddha di Sriwijaya.
I-Tsing singgah di Sriwijaya dalam perjalanannya menuju India untuk mempelajari ajaran Buddha dan bahasa Sanskerta. Catatannya menunjukkan bahwa Sriwijaya menjadi tempat persinggahan dan pembelajaran bagi tokoh agama dari luar Nusantara.
Perkembangan agama Buddha juga mendukung hubungan Sriwijaya dengan pusat pembelajaran di wilayah lain, termasuk Nalanda di India. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan keagamaan dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan lintas wilayah.
E. Kehidupan budaya
Kebudayaan Sriwijaya berkembang melalui interaksi antara tradisi lokal dan pengaruh dari luar. Hubungan perdagangan dan keagamaan membantu memperkenalkan gagasan, bahasa, serta praktik budaya yang kemudian beradaptasi dengan lingkungan Nusantara.
Prasasti-prasasti Sriwijaya menjadi sumber penting untuk mempelajari bahasa, kekuasaan, dan kehidupan keagamaan kerajaan. Sejumlah prasasti menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan aksara yang berasal dari tradisi penulisan India.
Warisan Sriwijaya menunjukkan bahwa hubungan internasional, perdagangan, dan pendidikan dapat berjalan berdampingan dalam perkembangan suatu kerajaan.
Kehidupan Masyarakat Kerajaan Majapahit
A. Kondisi geografis dan lingkungan
Kerajaan Majapahit berdiri pada 1293 Masehi dan pusat pemerintahannya umumnya dikaitkan dengan kawasan Trowulan, Jawa Timur. Wilayah Jawa yang memiliki lahan pertanian subur mendukung produksi pangan bagi masyarakat.
Jaringan sungai dan jalur darat membantu menghubungkan permukiman, pusat pemerintahan, serta daerah produksi. Sementara itu, hubungan dengan pelabuhan di pesisir mendukung perdagangan dengan wilayah lain.
Berbeda dengan Sriwijaya yang sangat dikenal sebagai kerajaan maritim, kehidupan Majapahit memperlihatkan perpaduan antara basis agraris di pedalaman dan hubungan perdagangan maritim melalui jaringan pelabuhan.
B. Kehidupan sosial
Masyarakat Majapahit terdiri atas kelompok penguasa, pejabat kerajaan, pemuka agama, petani, pedagang, pengrajin, dan pekerja lainnya. Setiap kelompok memiliki peran dalam mendukung kehidupan kerajaan.
Petani berperan menghasilkan bahan pangan, pengrajin memproduksi barang kebutuhan masyarakat, sedangkan pedagang menghubungkan hasil produksi dengan pasar dan wilayah lain.
Kehidupan sosial juga dipengaruhi oleh tradisi Hindu-Buddha dan adat setempat. Prasasti, karya sastra, serta peninggalan arkeologis memberikan gambaran mengenai struktur pemerintahan, hubungan keagamaan, dan kehidupan masyarakat pada masa Majapahit.
Walaupun terdapat pengelompokan sosial, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat menjalankan pola kehidupan yang sama. Kondisi masyarakat dapat berbeda berdasarkan wilayah, pekerjaan, kedudukan, dan hubungan mereka dengan pusat kerajaan.
C. Kehidupan ekonomi
Pertanian merupakan salah satu penopang utama kehidupan ekonomi Majapahit. Produksi padi dan hasil pertanian lainnya membantu memenuhi kebutuhan masyarakat serta menyediakan sumber daya bagi pemerintahan.
Selain pertanian, perdagangan berkembang melalui pasar, jalur darat, dan pelabuhan. Berbagai komoditas seperti beras, garam, hasil hutan, rempah-rempah, dan kain berperan dalam jaringan pertukaran barang, meskipun jenis serta skala perdagangannya berbeda menurut wilayah dan masa.
Kegiatan kerajinan juga mendukung kehidupan ekonomi. Masyarakat menghasilkan barang dari logam, tanah liat, dan bahan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun keperluan upacara.
Situs Trowulan, yang sering dihubungkan dengan pusat Majapahit, menyimpan berbagai temuan arkeologis yang membantu peneliti memahami kehidupan perkotaan, teknologi, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
D. Kehidupan agama
Kehidupan keagamaan Majapahit dipengaruhi oleh tradisi Hindu dan Buddha, bersama kepercayaan serta kebiasaan lokal. Tokoh agama memiliki peran dalam kehidupan spiritual dan dalam hubungan tertentu dengan lingkungan kerajaan.
Karya sastra seperti Nagarakretagama memberikan gambaran mengenai pemerintahan, wilayah, dan kegiatan keagamaan pada masa Hayam Wuruk. Sementara itu, Sutasoma karya Mpu Tantular menjadi sumber penting untuk mempelajari pemikiran keagamaan dan kebudayaan Majapahit.
Salah satu ungkapan terkenal yang berasal dari Sutasoma adalah “Bhinneka Tunggal Ika”. Ungkapan ini menggambarkan gagasan tentang perbedaan dalam kesatuan dan kemudian menjadi semboyan negara Indonesia.
Meski demikian, kehidupan beragama pada masa Majapahit tidak selalu dapat disamakan dengan pengertian toleransi dan kebebasan beragama pada masa modern. Pemahaman sejarah perlu memperhatikan konteks masyarakat dan zamannya.
E. Kehidupan budaya dan kesenian
Majapahit meninggalkan warisan budaya berupa karya sastra, arsitektur, seni pahat, dan berbagai benda arkeologis. Candi dan bangunan bercorak Hindu-Buddha memperlihatkan perkembangan teknik konstruksi serta seni hias.
Karya sastra berkembang sebagai sarana untuk menyampaikan pemikiran, kisah kepahlawanan, ajaran moral, dan gambaran kehidupan kerajaan. Para pujangga berperan dalam menghasilkan karya yang menjadi sumber penting bagi pengetahuan sejarah.
Seni dan kebudayaan Majapahit juga memperlihatkan perpaduan pengaruh Hindu-Buddha dengan tradisi lokal. Proses ini membuat kebudayaan Nusantara berkembang dengan ciri khasnya sendiri.
Persamaan Kehidupan Masyarakat Sriwijaya dan Majapahit
Meskipun berkembang pada masa dan wilayah yang berbeda, Sriwijaya dan Majapahit memiliki beberapa persamaan.
A. Memiliki jaringan perdagangan
Kedua kerajaan menjalin hubungan ekonomi dengan wilayah lain. Sriwijaya menonjol sebagai pusat perdagangan maritim, sedangkan Majapahit mengembangkan kegiatan ekonomi melalui pertanian, pasar, dan jaringan pelabuhan.
B. Memiliki masyarakat dengan pekerjaan beragam
Kehidupan masyarakat tidak hanya bergantung pada raja dan pejabat. Petani, pedagang, pelaut, pengrajin, serta kelompok lain turut berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
C. Mengalami perkembangan agama dan kebudayaan
Tradisi Hindu-Buddha memberikan pengaruh terhadap kehidupan keagamaan, pendidikan, sastra, seni, dan pemerintahan. Pengaruh tersebut berinteraksi dengan tradisi lokal dan menghasilkan bentuk kebudayaan yang khas.
D. Memiliki hubungan dengan wilayah luar Nusantara
Hubungan perdagangan dan keagamaan membantu kedua kerajaan terhubung dengan jaringan Asia. Pertukaran tersebut turut mendukung perkembangan ekonomi dan kebudayaan.
Perbedaan Kehidupan Masyarakat Sriwijaya dan Majapahit
| Aspek | Sriwijaya | Majapahit |
| Periode utama | Berkembang sejak abad ke-7 Masehi | Berdiri pada 1293 Masehi |
| Wilayah pusat | Sumatra, sering dikaitkan dengan Palembang | Jawa Timur, sering dikaitkan dengan Trowulan |
| Ciri ekonomi | Perdagangan maritim dan jaringan pelayaran | Pertanian, perdagangan, kerajinan, serta jaringan pelabuhan |
| Tradisi agama yang menonjol dalam sumber | Buddha, termasuk sebagai pusat pembelajaran | Tradisi Hindu dan Buddha serta kebiasaan lokal |
| Sumber sejarah penting | Prasasti dan catatan perjalanan I-Tsing | Prasasti, karya sastra, dan temuan arkeologis Trowulan |
| Warisan penting | Peran dalam perdagangan dan pembelajaran Buddha | Karya sastra, peninggalan arkeologis, dan tradisi kebudayaan |
Perbedaan tersebut tidak berarti Sriwijaya hanya mengandalkan perdagangan atau Majapahit hanya mengandalkan pertanian. Kedua kerajaan memiliki kegiatan ekonomi yang beragam, tetapi kondisi geografis dan jaringan hubungan masing-masing membuat beberapa kegiatan lebih menonjol.
Faktor yang Memengaruhi Kehidupan Masyarakat
Kehidupan masyarakat Sriwijaya dan Majapahit dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut.
A. Kondisi geografis
Letak wilayah, keberadaan sungai, kesuburan tanah, dan akses ke laut memengaruhi mata pencaharian masyarakat. Sriwijaya memiliki keuntungan dari jaringan pelayaran, sedangkan Majapahit didukung oleh wilayah pertanian dan hubungan dengan pelabuhan.
B. Kebijakan pemerintahan
Kebijakan penguasa dapat memengaruhi keamanan, perdagangan, pengelolaan sumber daya, dan hubungan dengan wilayah lain. Stabilitas pemerintahan membantu mendukung kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial.
C. Hubungan perdagangan
Perdagangan memungkinkan masyarakat memperoleh barang yang tidak tersedia di wilayah sendiri. Pertukaran barang juga membawa pengaruh pada bahasa, teknologi, kebiasaan, dan kebudayaan.
D. Perkembangan agama dan pendidikan
Pusat keagamaan menjadi tempat untuk mempelajari ajaran, bahasa, sastra, dan pemikiran tertentu. Kegiatan pendidikan turut mendukung perkembangan kebudayaan dan hubungan intelektual antardaerah.

