Tingkat literasi keuangan menunjukkan sejauh mana seseorang memahami dan mampu mengelola keuangan dengan baik. Kenali pengertian, indikator, faktor yang memengaruhi, serta contoh tingkat literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak.
Pengertian Tingkat Literasi Keuangan
Tingkat literasi keuangan adalah ukuran yang menggambarkan kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, dan mengambil keputusan terkait keuangan secara tepat.
Literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang uang. Seseorang juga perlu memiliki keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku yang mendukung pengelolaan keuangan.
Dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, parameter literasi keuangan terdiri atas pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan memiliki literasi keuangan yang baik apabila tidak hanya mengetahui konsep keuangan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tingkat Literasi Keuangan di Indonesia
Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia dapat diketahui melalui SNLIK yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama lembaga terkait.
Hasil SNLIK 2026 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, meningkat dari 66,64 persen pada 2025. Pada saat yang sama, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, naik dari 92,74 persen pada 2025. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman keuangan masyarakat. Namun, masih terdapat kelompok masyarakat yang tingkat literasinya berada di bawah angka nasional.
SNLIK 2026 juga menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat perkotaan mencapai 72,54 persen, sedangkan masyarakat perdesaan mencapai 64,42 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan perlu dilakukan secara merata di berbagai kelompok masyarakat.
Apa Perbedaan Literasi Keuangan dan Inklusi Keuangan?
Literasi keuangan dan inklusi keuangan merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi memiliki arti berbeda.
Literasi keuangan berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku dalam mengelola keuangan.
Sementara itu, inklusi keuangan lebih berkaitan dengan penggunaan produk dan layanan jasa keuangan. Dalam SNLIK 2026, inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan atau usage terhadap produk dan layanan jasa keuangan. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Contoh
Seseorang memiliki rekening bank dan menggunakan layanan pembayaran digital. Hal tersebut menunjukkan adanya akses atau penggunaan layanan keuangan.
Namun, jika orang tersebut tidak memahami biaya, risiko, keamanan, atau cara menggunakan layanan tersebut dengan benar, tingkat literasi keuangannya belum tentu tinggi.
Karena itu, memiliki akses terhadap layanan keuangan tidak selalu berarti memiliki literasi keuangan yang baik.
Indikator Tingkat Literasi Keuangan
Menurut parameter SNLIK 2026, terdapat lima indikator utama literasi keuangan.
1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan kemampuan memahami konsep dan informasi keuangan.
Contohnya:
- Mengetahui fungsi uang.
- Memahami tabungan.
- Mengetahui perbedaan kebutuhan dan keinginan.
- Memahami bunga.
- Mengetahui risiko investasi.
- Memahami manfaat dan biaya produk keuangan.
Contoh
Seorang siswa mengetahui bahwa uang yang ditabung dapat digunakan untuk kebutuhan masa depan dan memahami bahwa tidak semua uang yang dimiliki harus langsung dibelanjakan.
2. Keterampilan
Keterampilan berkaitan dengan kemampuan menerapkan pengetahuan keuangan.
Contohnya:
- Membuat anggaran.
- Mencatat pengeluaran.
- Menghitung pendapatan dan pengeluaran.
- Membandingkan biaya produk keuangan.
- Mengatur tabungan.
Contoh
Ani memperoleh uang saku Rp500.000 per bulan. Ia membuat catatan pengeluaran dan menetapkan jumlah tertentu untuk ditabung.
Ani tidak hanya memahami pentingnya menabung, tetapi juga mampu menerapkannya.
3. Keyakinan
Keyakinan berkaitan dengan kepercayaan seseorang terhadap kemampuan mengelola keuangannya dan terhadap keputusan keuangan yang diambil.
Contoh
Seseorang yakin bahwa membuat anggaran dapat membantunya mengendalikan pengeluaran.
Namun, keyakinan tersebut sebaiknya didukung oleh informasi yang benar dan pengalaman yang sesuai.
4. Sikap
Sikap menunjukkan bagaimana seseorang memandang dan menyikapi masalah keuangan.
Contohnya:
- Tidak mudah tergoda oleh promosi.
- Mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli.
- Berhati-hati sebelum berutang.
- Tidak mudah percaya pada investasi dengan keuntungan tidak masuk akal.
Contoh
Ketika melihat barang diskon, seseorang tidak langsung membelinya. Ia terlebih dahulu mempertimbangkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan.
5. Perilaku
Perilaku merupakan tindakan nyata dalam mengelola keuangan.
Contohnya:
- Menabung secara rutin.
- Membuat anggaran.
- Membayar kewajiban tepat waktu.
- Mengendalikan pengeluaran.
- Membandingkan produk keuangan.
- Melakukan evaluasi keuangan.
Contoh
Seseorang rutin menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dan mencatat pengeluarannya setiap bulan.
Hal tersebut menunjukkan adanya penerapan literasi keuangan dalam kehidupan nyata.
Faktor yang Memengaruhi Tingkat Literasi Keuangan
Tingkat literasi keuangan seseorang dapat berbeda-beda. Beberapa faktor yang berkaitan dengan perbedaan tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat membantu seseorang memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk memahami informasi keuangan.
Data SNLIK 2026 menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan dan tingkat literasi keuangan. Indeks literasi keuangan tercatat 45,23 persen pada kelompok yang tidak/belum pernah sekolah atau tidak tamat SD, 67,72 persen pada lulusan SMP, 79,17 persen pada lulusan SMA, dan 93,46 persen pada lulusan perguruan tinggi. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan tingkat literasi keuangan.
2. Usia
Usia juga berkaitan dengan pengalaman dan pemahaman seseorang mengenai keuangan.
Dalam SNLIK 2026, kelompok usia 26โ35 tahun memiliki indeks literasi keuangan tertinggi sebesar 78,70 persen. Sementara kelompok usia 15โ17 tahun mencapai 56,04 persen dan kelompok usia 51โ79 tahun mencapai 60,01 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
3. Pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat memengaruhi pengalaman seseorang dalam mengelola pendapatan dan menggunakan layanan keuangan.
SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan tertinggi pada kelompok pensiunan/purnawirawan sebesar 85,15 persen, pegawai/profesional sebesar 85,12 persen, dan pengusaha/wiraswasta sebesar 76,51 persen. Sementara pelajar/mahasiswa tercatat sebesar 62,72 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
4. Lingkungan Tempat Tinggal
Lingkungan tempat tinggal juga dapat berkaitan dengan kesempatan memperoleh informasi dan layanan keuangan.
SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan wilayah perkotaan sebesar 72,54 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan sebesar 64,42 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
5. Pengalaman Mengelola Uang
Pengalaman sehari-hari dapat membantu seseorang memahami bagaimana uang digunakan.
Seseorang yang terbiasa membuat anggaran, menabung, dan mencatat pengeluaran dapat memperoleh pengalaman praktis dalam mengelola keuangan.
Contoh
Seorang pelajar yang rutin mengatur uang saku dapat belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Ketika sudah bekerja, pengalaman tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan pendapatan yang lebih besar.
6. Akses Informasi
Kemudahan mendapatkan informasi mengenai keuangan dapat membantu seseorang meningkatkan pemahaman.
Namun, informasi yang diperoleh harus berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
Sumber resmi seperti OJK, Bank Indonesia, BPS, dan lembaga pemerintah dapat menjadi rujukan untuk mempelajari berbagai informasi keuangan.
7. Kebiasaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seseorang belajar tentang uang.
Anak dapat belajar melalui kebiasaan orang tua, misalnya:
- Menabung.
- Membuat anggaran.
- Membandingkan harga.
- Menentukan prioritas.
- Menghindari pembelian berlebihan.
Contoh Tingkat Literasi Keuangan
Contoh 1: Tingkat Literasi Keuangan Rendah
Budi mendapatkan uang saku Rp20.000 setiap hari.
Ia menghabiskan seluruh uangnya tanpa mencatat pengeluaran dan sering membeli barang hanya karena mengikuti teman.
Budi belum menerapkan pengelolaan uang secara terencana.
Contoh 2: Tingkat Literasi Keuangan Sedang
Sinta mulai mencatat pengeluaran dan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.
Namun, ia masih sering membeli barang secara spontan.
Sinta sudah memiliki beberapa kebiasaan keuangan yang baik, tetapi masih perlu meningkatkan pengendalian pengeluaran.
Contoh 3: Tingkat Literasi Keuangan Baik
Andi memiliki pendapatan Rp4.000.000 per bulan.
Ia:
- Membuat anggaran.
- Menentukan kebutuhan utama.
- Menyisihkan uang untuk tabungan.
- Menyiapkan dana cadangan.
- Memahami risiko sebelum berinvestasi.
- Mengevaluasi pengeluaran setiap bulan.
Kebiasaan tersebut menunjukkan penerapan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku keuangan.
Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Kelompok Masyarakat
Hasil SNLIK 2026 menunjukkan adanya perbedaan tingkat literasi keuangan pada sejumlah kelompok.
| Kelompok | Indeks Literasi Keuangan |
| Nasional | 69,57% |
| Perkotaan | 72,54% |
| Perdesaan | 64,42% |
| Usia 15โ17 tahun | 56,04% |
| Usia 18โ25 tahun | 73,32% |
| Usia 26โ35 tahun | 78,70% |
| Usia 36โ50 tahun | 73,81% |
| Usia 51โ79 tahun | 60,01% |
Data tersebut merupakan hasil SNLIK 2026 yang dilaksanakan oleh BPS, OJK, dan LPS. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Tingkat Literasi Keuangan Pelajar
Pelajar merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam peningkatan literasi keuangan.
Dalam SNLIK 2026, indeks literasi keuangan kelompok pelajar/mahasiswa tercatat 62,72 persen, lebih rendah dibandingkan indeks nasional 69,57 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Hal tersebut menunjukkan pentingnya pendidikan keuangan sejak sekolah.
Literasi keuangan bagi pelajar dapat dimulai dari hal sederhana seperti:
- Mengatur uang saku.
- Menabung.
- Membuat daftar kebutuhan.
- Mencatat pengeluaran.
- Membedakan kebutuhan dan keinginan.
- Memahami risiko membeli atau menggunakan produk keuangan.
Cara Meningkatkan Tingkat Literasi Keuangan
1. Belajar Mengatur Pendapatan
Ketahui jumlah uang yang diterima dan buat rencana penggunaannya.
2. Mencatat Pengeluaran
Catat pengeluaran harian agar mengetahui ke mana uang digunakan.
3. Membuat Anggaran
Tetapkan batas pengeluaran untuk berbagai kebutuhan.
4. Membiasakan Menabung
Sisihkan uang secara rutin sesuai kemampuan.
5. Mempelajari Investasi
Sebelum berinvestasi, pahami potensi keuntungan dan risiko.
6. Memahami Utang
Ketahui bunga, biaya, jangka waktu, dan kemampuan membayar sebelum mengambil utang.
7. Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Prioritaskan kebutuhan sebelum memenuhi keinginan.
8. Menggunakan Sumber Informasi Tepercaya
Pelajari keuangan melalui sumber resmi agar tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru.
9. Berhati-hati terhadap Penipuan
Jangan mudah percaya pada tawaran keuntungan tinggi yang diklaim tanpa risiko.
10. Mengevaluasi Keuangan
Periksa kondisi keuangan secara berkala dan lakukan perbaikan jika diperlukan.
Mengapa Tingkat Literasi Keuangan Perlu Ditingkatkan?
Tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan perlu diimbangi dengan kemampuan memahami produk dan layanan tersebut.
SNLIK 2026 mencatat indeks inklusi keuangan sebesar 93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan sebesar 69,57 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan layanan keuangan perlu disertai pemahaman yang memadai.
Seseorang yang memiliki rekening bank, menggunakan layanan pembayaran digital, atau memiliki produk investasi tetap perlu memahami manfaat, biaya, risiko, keamanan, dan kewajibannya.
Hubungan Tingkat Literasi Keuangan dengan Kehidupan Sehari-hari
Tingkat literasi keuangan dapat memengaruhi berbagai keputusan sehari-hari.
Saat Berbelanja
Seseorang dapat mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli.
Saat Menabung
Seseorang dapat menentukan target dan jumlah tabungan.
Saat Berutang
Seseorang dapat menghitung kemampuan membayar.
Saat Berinvestasi
Seseorang dapat mempertimbangkan potensi keuntungan dan risiko.
Saat Mendapatkan Pendapatan
Seseorang dapat membagi pendapatan berdasarkan prioritas.
Kesimpulan
Tingkat literasi keuangan menunjukkan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengelola keuangan. Literasi keuangan tidak hanya diukur dari pengetahuan, tetapi juga mencakup keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Hasil SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen, meningkat dari 66,64 persen pada 2025. Namun, masih terdapat perbedaan berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat literasi keuangan antara lain pendidikan, usia, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, pengalaman mengelola uang, akses informasi, serta kebiasaan keluarga.
Untuk meningkatkan literasi keuangan, seseorang dapat mulai dari kebiasaan sederhana seperti mencatat pengeluaran, membuat anggaran, menabung, memahami utang dan investasi, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menggunakan sumber informasi yang tepercaya.
Dengan literasi keuangan yang baik, seseorang dapat membuat keputusan keuangan secara lebih bijak dan mempersiapkan masa depan dengan lebih terencana.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa yang dimaksud dengan tingkat literasi keuangan?
Tingkat literasi keuangan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, dan mengambil keputusan mengenai keuangan secara tepat.
2. Apa saja indikator literasi keuangan?
Dalam SNLIK 2026, indikator literasi keuangan terdiri atas pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
3. Berapa tingkat literasi keuangan Indonesia?
Berdasarkan SNLIK 2026, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
4. Apa saja faktor yang memengaruhi literasi keuangan?
Beberapa faktor yang berkaitan dengan tingkat literasi keuangan antara lain pendidikan, usia, pekerjaan, wilayah tempat tinggal, pengalaman, akses informasi, dan lingkungan keluarga.
5. Apakah pendidikan memengaruhi tingkat literasi keuangan?
Data SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan meningkat seiring dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
6. Mengapa pelajar perlu memiliki literasi keuangan?
Pelajar perlu belajar mengelola uang sejak dini agar terbiasa mengatur uang saku, menabung, menentukan prioritas, dan membedakan kebutuhan dengan keinginan.
7. Apa perbedaan literasi dan inklusi keuangan?
Literasi keuangan berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku, sedangkan inklusi keuangan berkaitan dengan penggunaan produk dan layanan keuangan. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
8. Bagaimana cara meningkatkan literasi keuangan?
Caranya dapat dimulai dengan belajar membuat anggaran, mencatat pengeluaran, menabung, memahami investasi dan utang, serta menggunakan informasi dari sumber resmi.
9. Apakah tingkat literasi keuangan setiap orang sama?
Tidak. Tingkat literasi keuangan dapat berbeda berdasarkan berbagai karakteristik seperti usia, pendidikan, pekerjaan, dan wilayah tempat tinggal.
10. Mengapa literasi keuangan penting?
Literasi keuangan penting agar seseorang dapat menggunakan uang secara lebih bijak, menghindari keputusan yang merugikan, dan mempersiapkan kebutuhan masa depan.
Link Internal
- Literasi Keuangan: Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
- Pentingnya Literasi Keuangan: Cara Mengelola Uang dengan Bijak untuk Masa Depan
- Investasi: Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat, Risiko, dan Contohnya
- Risiko Investasi: Jenis, Penyebab, Contoh, dan Cara Mengelolanya dengan Bijak
- Tabungan: Pengertian, Fungsi, Jenis, Manfaat, dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Referensi dan Link
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) โ Hasil SNLIK 2026
Siaran Pers SNLIK 2026 OJK - Badan Pusat Statistik (BPS) โ Hasil SNLIK 2026
SNLIK 2026: Akses Keuangan Meningkat, Literasi Terus Diperkuat - BPS โ Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Meningkat
Hasil SNLIK 2026 BPS, OJK, dan LPS - OJK โ Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025
SNLIK 2025 OJK - OJK โ Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2024
SNLIK 2024 OJK

