Lunturnya budaya gotong royong dipengaruhi kesibukan, individualisme, urbanisasi, teknologi, dan perubahan gaya hidup. Simak penyebab, dampak, serta solusinya.
Gotong royong merupakan salah satu nilai sosial yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai ini mencerminkan semangat bekerja sama, saling membantu, kepedulian terhadap sesama, dan kesadaran bahwa persoalan bersama dapat diselesaikan melalui kebersamaan. Bagaimana Lunturnya Budaya Gotong Royong di Era Modern?
Namun, perubahan kehidupan masyarakat di era modern membuat praktik gotong royong menghadapi berbagai tantangan. Kesibukan pekerjaan, urbanisasi, perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan meningkatnya individualisme dapat membuat interaksi antarwarga semakin berkurang.
Lunturnya budaya gotong royong di era modern tidak berarti bahwa nilai gotong royong telah hilang sepenuhnya. Di berbagai daerah, semangat kebersamaan masih dapat ditemukan dalam kegiatan sosial, kerja bakti, penanggulangan bencana, kegiatan keagamaan, hingga aksi kemanusiaan.
Meski demikian, perubahan pola kehidupan membuat nilai tersebut perlu terus dirawat dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Pengertian Budaya Gotong Royong
Gotong royong adalah bentuk kerja sama masyarakat untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan kepentingan bersama.
Gotong royong tidak hanya berarti bekerja secara fisik. Nilai ini juga mencakup:
- Kepedulian.
- Solidaritas.
- Saling membantu.
- Tanggung jawab bersama.
- Kebersamaan.
- Sukarela.
- Mengutamakan kepentingan bersama.
Contoh gotong royong
Beberapa contoh budaya gotong royong dalam kehidupan masyarakat antara lain:
- Kerja bakti membersihkan lingkungan.
- Membantu tetangga yang mengalami musibah.
- Membangun fasilitas umum secara bersama.
- Mengadakan kegiatan sosial.
- Membantu pelaksanaan acara masyarakat.
- Menolong korban bencana.
- Mengumpulkan bantuan bagi warga yang membutuhkan.
Gotong royong pada dasarnya merupakan praktik sosial yang memperkuat hubungan antarmanusia.
Apa yang Dimaksud dengan Lunturnya Budaya Gotong Royong?
Lunturnya budaya gotong royong adalah kondisi ketika keterlibatan masyarakat dalam kegiatan bersama semakin berkurang atau nilai saling membantu tidak lagi menjadi kebiasaan seperti sebelumnya.
Lunturnya gotong royong dapat terlihat dari berkurangnya partisipasi dalam kerja bakti, semakin jarangnya interaksi antarwarga, serta meningkatnya kecenderungan menyelesaikan berbagai persoalan secara individual.
Namun, fenomena ini perlu dilihat secara kontekstual. Tidak semua perubahan bentuk gotong royong berarti hilangnya nilai kebersamaan.
Misalnya, masyarakat modern mungkin tidak lagi memiliki waktu untuk kerja bakti setiap minggu, tetapi mereka dapat menggunakan grup komunikasi untuk mengumpulkan bantuan ketika terjadi bencana.
Artinya, bentuk gotong royong dapat berubah, tetapi nilai kebersamaannya tetap dapat dipertahankan.
Penyebab Lunturnya Budaya Gotong Royong di Era Modern
Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi berkurangnya praktik gotong royong.
1. Kesibukan dan Perubahan Pola Kerja
Masyarakat modern memiliki aktivitas pekerjaan yang semakin beragam.
Jam kerja, perjalanan, pekerjaan tambahan, dan tuntutan profesional dapat mengurangi waktu untuk mengikuti kegiatan lingkungan.
Contoh
Warga yang bekerja dari pagi hingga sore mungkin tidak dapat mengikuti kerja bakti pada waktu yang sama dengan warga lainnya.
Solusi
Jadwal kegiatan sosial dapat dibuat lebih fleksibel agar sesuai dengan kondisi masyarakat.
2. Meningkatnya Individualisme
Modernisasi dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi kebebasan individu.
Kebebasan tersebut memiliki banyak manfaat, tetapi individualisme yang berlebihan dapat mengurangi kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Contoh
Seseorang lebih memilih menyelesaikan kebutuhan rumah tangganya sendiri dan tidak tertarik terlibat dalam kegiatan masyarakat.
3. Urbanisasi
Pertumbuhan kota dan perpindahan penduduk dapat mengubah pola hubungan sosial.
Di lingkungan perkotaan, seseorang dapat tinggal berdekatan dengan banyak orang tetapi tidak selalu mengenal tetangganya dengan baik.
Contoh
Penghuni apartemen atau perumahan baru mungkin memiliki interaksi terbatas karena masing-masing memiliki aktivitas sendiri.
4. Perkembangan Teknologi Digital
Teknologi mempermudah komunikasi, tetapi juga dapat mengubah cara manusia berinteraksi.
Masyarakat dapat menghabiskan banyak waktu di ruang digital sehingga interaksi langsung dengan lingkungan sekitar berkurang.
Contoh
Warga lebih sering berkomunikasi melalui media sosial daripada bertemu dan berbicara secara langsung.
Namun, teknologi juga dapat menjadi alat untuk menghidupkan gotong royong, misalnya melalui penggalangan dana dan koordinasi kegiatan sosial.
5. Perubahan Gaya Hidup
Gaya hidup modern memberikan masyarakat banyak pilihan dalam menggunakan waktu.
Hiburan digital, pekerjaan, belanja online, dan aktivitas pribadi dapat mengurangi keterlibatan dalam kegiatan masyarakat.
6. Berkurangnya Interaksi Antarwarga
Gotong royong membutuhkan hubungan sosial.
Jika warga jarang berinteraksi, kesempatan untuk bekerja sama juga semakin sedikit.
Contoh
Warga di suatu lingkungan jarang mengadakan pertemuan sehingga tidak banyak mengetahui kebutuhan dan kondisi satu sama lain.
7. Perubahan Bentuk Permukiman
Perumahan modern, apartemen, dan kawasan dengan mobilitas tinggi dapat memiliki pola hubungan sosial yang berbeda dari komunitas tradisional.
Bukan berarti masyarakat modern tidak dapat bergotong royong, tetapi diperlukan ruang dan kegiatan yang sengaja dirancang untuk membangun kebersamaan.
8. Kurangnya Regenerasi Kegiatan Sosial
Kegiatan gotong royong membutuhkan partisipasi generasi muda.
Jika anak muda jarang dilibatkan dalam kegiatan masyarakat, keberlanjutan tradisi sosial dapat menghadapi tantangan.
Solusi
Kegiatan sosial perlu dibuat lebih menarik dan memberikan ruang bagi kreativitas generasi muda.
Contoh Lunturnya Budaya Gotong Royong
1. Kerja Bakti Semakin Jarang
Dahulu warga dapat melakukan kerja bakti secara rutin. Kini kegiatan tersebut mungkin hanya dilakukan pada waktu tertentu.
2. Kurangnya Kepedulian terhadap Tetangga
Sebagian masyarakat tidak lagi mengetahui kondisi tetangganya karena jarang berinteraksi.
3. Penyelesaian Masalah Secara Individual
Pekerjaan yang dahulu dilakukan bersama dapat lebih sering diserahkan kepada pihak profesional.
4. Partisipasi Generasi Muda Menurun
Sebagian anak muda lebih tertarik pada kegiatan pribadi daripada kegiatan lingkungan.
5. Kegiatan Sosial Beralih ke Ruang Digital
Sebagian aktivitas gotong royong kini dilakukan melalui penggalangan dana atau koordinasi online.
Perubahan terakhir sebenarnya tidak selalu negatif. Teknologi dapat menjadi sarana baru untuk memperkuat solidaritas.
Dampak Lunturnya Budaya Gotong Royong
Jika semangat gotong royong terus berkurang tanpa adanya bentuk kebersamaan yang menggantikannya, beberapa dampak dapat muncul.
1. Solidaritas Sosial Menurun
Masyarakat menjadi kurang terbiasa membantu satu sama lain.
2. Hubungan Antarwarga Melemah
Kurangnya interaksi dapat membuat hubungan sosial menjadi lebih renggang.
3. Individualisme Meningkat
Kepentingan pribadi dapat lebih dominan daripada kepentingan bersama.
4. Kepedulian terhadap Lingkungan Berkurang
Jika masyarakat tidak merasa memiliki tanggung jawab bersama, kegiatan menjaga lingkungan dapat berkurang.
5. Penanganan Masalah Bersama Menjadi Lebih Sulit
Masalah seperti kebersihan lingkungan, bencana, atau kegiatan sosial membutuhkan kerja sama.
6. Nilai Budaya Lokal Melemah
Gotong royong merupakan salah satu nilai sosial yang diwariskan melalui kehidupan masyarakat.
Dampak Positif Jika Gotong Royong Dipertahankan
Mempertahankan gotong royong memberikan berbagai manfaat.
1. Mempererat Hubungan Sosial
Kegiatan bersama membuat masyarakat lebih mengenal satu sama lain.
2. Meningkatkan Solidaritas
Masyarakat terbiasa membantu ketika ada orang lain yang membutuhkan.
3. Menumbuhkan Kepedulian
Gotong royong mengajarkan bahwa lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
4. Mempermudah Penyelesaian Masalah
Pekerjaan berat dapat menjadi lebih ringan ketika dilakukan bersama.
5. Memperkuat Identitas Sosial
Kegiatan bersama dapat memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas.
6. Menjadi Sarana Pendidikan Karakter
Anak-anak dan generasi muda dapat belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan empati.
Cara Menumbuhkan Kembali Budaya Gotong Royong
Melestarikan gotong royong tidak berarti harus mengulang persis bentuk kegiatan masa lalu.
Nilai gotong royong dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
1. Mengadakan Kerja Bakti secara Fleksibel
Jadwal kerja bakti dapat disesuaikan dengan waktu luang warga.
Misalnya, kegiatan dilakukan pada akhir pekan atau berdasarkan kesepakatan bersama.
2. Melibatkan Generasi Muda
Anak muda perlu diberi ruang untuk menjadi penggerak kegiatan sosial.
Contohnya:
- Komunitas lingkungan.
- Kegiatan olahraga.
- Festival kampung.
- Program relawan.
- Kegiatan sosial.
- Aksi kebersihan.
Generasi muda juga dapat memanfaatkan media sosial untuk mengajak masyarakat berpartisipasi.
3. Memanfaatkan Teknologi
Teknologi dapat digunakan untuk mengorganisasi kegiatan gotong royong.
Contoh
Grup komunikasi warga dapat digunakan untuk:
- Menyampaikan informasi.
- Mengatur jadwal kerja bakti.
- Menggalang bantuan.
- Melaporkan kondisi lingkungan.
- Mengkoordinasikan kegiatan sosial.
Dengan demikian, teknologi bukan hanya menjadi penyebab perubahan sosial, tetapi juga dapat menjadi solusi.
4. Mengembangkan Kegiatan yang Relevan
Gotong royong tidak harus selalu berbentuk kerja bakti.
Kegiatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Contohnya:
- Donor darah.
- Penanaman pohon.
- Bank sampah.
- Penggalangan dana.
- Dapur bersama.
- Bantuan pendidikan.
- Kegiatan olahraga.
- Kegiatan sosial untuk warga lanjut usia.
5. Memperkuat Peran Keluarga
Nilai gotong royong dapat diajarkan sejak anak-anak.
Orang tua dapat mengajak anak:
- Membantu tetangga.
- Membersihkan lingkungan.
- Berbagi dengan orang lain.
- Mengikuti kegiatan sosial.
- Menolong anggota keluarga.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membentuk karakter peduli terhadap lingkungan.
6. Menghidupkan Kembali Kegiatan Komunitas
Komunitas lokal dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat.
Kegiatan seperti arisan warga, kelompok olahraga, kegiatan seni, dan forum pemuda dapat menjadi sarana membangun kembali hubungan sosial.
7. Memberikan Apresiasi
Partisipasi masyarakat dapat diperkuat dengan memberikan penghargaan kepada individu atau kelompok yang aktif dalam kegiatan sosial.
Apresiasi tidak harus berupa hadiah besar.
Ucapan terima kasih, publikasi kegiatan, atau pengakuan dari masyarakat dapat menjadi motivasi.
8. Menggabungkan Gotong Royong Tradisional dan Modern
Gotong royong dapat menggabungkan kegiatan langsung dan digital.
Contoh
Warga membersihkan lingkungan secara bersama-sama, sementara generasi muda membantu membuat dokumentasi dan kampanye digital mengenai kebersihan.
Dengan cara tersebut, nilai lama dapat berjalan bersama teknologi modern.
9. Membangun Ruang Publik
Ruang publik seperti taman, lapangan, balai warga, dan pusat komunitas dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat.
Ruang bersama membantu menciptakan kesempatan untuk berinteraksi dan bekerja sama.
10. Menjadikan Gotong Royong sebagai Kebiasaan
Gotong royong tidak harus menunggu adanya masalah besar.
Kegiatan kecil yang dilakukan secara rutin dapat membangun kebiasaan kebersamaan.
Contohnya:
- Membersihkan selokan.
- Menanam tanaman.
- Membantu tetangga.
- Menjaga fasilitas umum.
- Mengadakan kegiatan sosial.
Contoh Program Gotong Royong di Era Modern
Program 1: Kampung Bersih Digital
Warga menggunakan grup komunikasi untuk menentukan jadwal kerja bakti.
Generasi muda membuat dokumentasi digital dan membagikan hasil kegiatan untuk mengajak lebih banyak warga berpartisipasi.
Program 2: Bank Sampah Bersama
Warga mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang.
Hasil pengelolaan sampah dapat digunakan untuk mendukung kegiatan sosial lingkungan.
Program ini menggabungkan kepedulian lingkungan dan kerja sama masyarakat.
Program 3: Donasi Berbasis Komunitas
Ketika ada warga mengalami musibah, masyarakat dapat melakukan penggalangan dana melalui platform digital.
Masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung tetap dapat berkontribusi.
Program 4: Relawan Generasi Muda
Pemuda di suatu wilayah membentuk komunitas relawan.
Mereka dapat membantu kegiatan pendidikan, kebersihan lingkungan, kebencanaan, dan kegiatan sosial lainnya.
Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Gotong Royong
Keluarga merupakan tempat pertama untuk mengajarkan kerja sama.
Orang tua dapat:
- Memberikan contoh membantu orang lain.
- Mengajak anak mengikuti kegiatan masyarakat.
- Mengajarkan berbagi.
- Membiasakan pekerjaan rumah dilakukan bersama.
- Menjelaskan pentingnya kepedulian sosial.
Anak yang terbiasa melihat praktik kerja sama di rumah akan lebih mudah memahami pentingnya gotong royong.
Peran Sekolah
Sekolah juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai gotong royong.
Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
- Kerja kelompok.
- Bakti sosial.
- Program kebersihan.
- Penghijauan sekolah.
- Kegiatan relawan.
- Organisasi siswa.
- Proyek sosial.
Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada kemampuan bekerja sama.
Peran Masyarakat
Masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendorong partisipasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Mengadakan kegiatan rutin.
- Membuka ruang bagi generasi muda.
- Menghargai kontribusi warga.
- Membuat kegiatan yang inklusif.
- Menggunakan teknologi untuk koordinasi.
- Mengutamakan musyawarah.
Peran Pemerintah
Pemerintah dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung gotong royong melalui:
- Penyediaan ruang publik.
- Program pemberdayaan masyarakat.
- Dukungan komunitas.
- Program lingkungan.
- Kegiatan sosial.
- Penguatan pendidikan karakter.
- Pelestarian budaya.
Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan komunitas dan organisasi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan berbasis partisipasi warga.
Gotong Royong di Era Digital
Era digital tidak harus dianggap sebagai ancaman bagi budaya gotong royong.
Sebaliknya, teknologi dapat menciptakan bentuk gotong royong baru.
Contohnya:
- Crowdfunding untuk bantuan sosial.
- Grup komunitas.
- Penggalangan donasi online.
- Kampanye lingkungan.
- Relawan digital.
- Promosi kegiatan sosial.
Dengan demikian, esensi gotong royong tetap dapat dipertahankan meskipun medianya berubah.
Hal yang penting bukan apakah gotong royong dilakukan dengan cara tradisional atau modern, melainkan apakah masyarakat masih memiliki semangat untuk membantu dan bekerja bersama.
Hubungan Gotong Royong dengan Nilai Sosial Budaya Indonesia
Gotong royong memiliki hubungan erat dengan nilai kebersamaan dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Nilai yang terkandung di dalamnya meliputi:
- Kebersamaan.
- Persatuan.
- Solidaritas.
- Kepedulian.
- Musyawarah.
- Tanggung jawab.
- Saling membantu.
Karena itu, menjaga gotong royong bukan hanya mempertahankan sebuah kegiatan sosial, tetapi juga mempertahankan nilai yang membantu membangun hubungan antarmanusia.
Tabel Penyebab dan Solusi Lunturnya Gotong Royong
| Penyebab | Contoh | Dampak | Solusi |
| Kesibukan | Warga sulit meluangkan waktu | Partisipasi menurun | Jadwal fleksibel |
| Individualisme | Fokus pada kepentingan pribadi | Solidaritas berkurang | Kegiatan komunitas |
| Urbanisasi | Warga kurang mengenal tetangga | Hubungan sosial lemah | Forum warga |
| Teknologi | Interaksi langsung berkurang | Kebersamaan menurun | Teknologi untuk koordinasi |
| Perubahan gaya hidup | Lebih banyak aktivitas pribadi | Partisipasi sosial berkurang | Kegiatan yang relevan |
| Regenerasi lemah | Anak muda kurang dilibatkan | Tradisi sulit berlanjut | Libatkan generasi muda |
Link Internal yang Direkomendasikan
Untuk memperkuat struktur internal linking dan topical authority, artikel ini dapat dihubungkan dengan:
- Permasalahan Sosial Budaya di Indonesia: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya
- 10 Permasalahan Kehidupan Sosial Budaya di Indonesia yang Perlu Diperhatikan
- Contoh Permasalahan Sosial Budaya di Masyarakat dan Solusi Mengatasinya
- Dampak Globalisasi terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia
- Perubahan Sosial Budaya di Era Digital: Tantangan dan Dampaknya bagi Masyarakat
- Masalah Sosial Budaya di Kalangan Generasi Muda: Penyebab dan Upaya Pencegahannya
- Pergeseran Nilai Budaya di Indonesia: Penyebab, Dampak, dan Cara Melestarikannya
- Kesenjangan Sosial dan Budaya di Indonesia: Faktor Penyebab dan Solusinya
- Mengapa Warisan Budaya Penting? Manfaat, Fungsi, dan Upaya Pelestariannya
Kesimpulan
Lunturnya budaya gotong royong di era modern merupakan salah satu tantangan sosial budaya yang muncul akibat perubahan pola kehidupan masyarakat. Kesibukan, urbanisasi, individualisme, perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, serta berkurangnya interaksi antarwarga dapat memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan bersama.
Namun, gotong royong tidak harus hilang hanya karena masyarakat menjadi semakin modern. Nilai kebersamaan dapat disesuaikan dengan kondisi kehidupan saat ini.
Teknologi bahkan dapat digunakan untuk memperkuat gotong royong melalui grup komunitas, penggalangan dana, kampanye sosial, dan koordinasi kegiatan masyarakat.
Upaya menumbuhkan kembali gotong royong membutuhkan peran keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan generasi muda.
Kegiatan seperti kerja bakti, kegiatan sosial, relawan, bank sampah, penghijauan, dan bantuan kemanusiaan dapat menjadi sarana nyata untuk membangun kembali solidaritas.
Pada akhirnya, yang perlu dipertahankan bukan hanya bentuk gotong royong masa lalu, tetapi semangat saling membantu, kepedulian, persatuan, dan tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa yang dimaksud dengan lunturnya budaya gotong royong?
Lunturnya budaya gotong royong adalah kondisi ketika partisipasi masyarakat dalam kegiatan bersama dan kebiasaan saling membantu semakin berkurang.
2. Apa penyebab lunturnya budaya gotong royong?
Penyebabnya antara lain kesibukan, individualisme, urbanisasi, perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, berkurangnya interaksi antarwarga, serta kurangnya regenerasi kegiatan sosial.
3. Apa contoh lunturnya budaya gotong royong?
Contohnya adalah kerja bakti yang semakin jarang dilakukan, berkurangnya kepedulian terhadap tetangga, rendahnya partisipasi dalam kegiatan lingkungan, dan kecenderungan menyelesaikan masalah secara individual.
4. Apa dampak lunturnya gotong royong?
Dampaknya dapat berupa menurunnya solidaritas, melemahnya hubungan antarwarga, meningkatnya individualisme, berkurangnya kepedulian terhadap lingkungan, dan semakin sulitnya menyelesaikan masalah bersama.
5. Bagaimana cara menumbuhkan kembali budaya gotong royong?
Caranya antara lain mengadakan kegiatan sosial secara rutin, melibatkan generasi muda, memperkuat komunitas, menyediakan ruang publik, memanfaatkan teknologi, dan membuat kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
6. Apakah teknologi menyebabkan gotong royong hilang?
Tidak selalu. Teknologi dapat mengurangi sebagian interaksi langsung, tetapi juga dapat digunakan untuk mengorganisasi kegiatan sosial, menggalang bantuan, dan memperluas partisipasi masyarakat.
7. Apa peran generasi muda dalam melestarikan gotong royong?
Generasi muda dapat menjadi penggerak kegiatan sosial, membuat komunitas, menjadi relawan, menggunakan media digital untuk mengajak masyarakat berpartisipasi, serta mengembangkan kegiatan sosial yang kreatif.
8. Mengapa gotong royong penting bagi masyarakat?
Gotong royong memperkuat solidaritas, mempererat hubungan sosial, meningkatkan kepedulian, dan membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan secara bersama-sama.
9. Apakah gotong royong hanya berupa kerja bakti?
Tidak. Gotong royong dapat berupa kerja bakti, membantu tetangga, kegiatan sosial, penggalangan dana, relawan, menjaga lingkungan, kegiatan kemanusiaan, dan berbagai bentuk kerja sama untuk kepentingan bersama.
Referensi
- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), berbagai sumber mengenai nilai Pancasila, kebersamaan, dan gotong royong.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, berbagai sumber mengenai pendidikan karakter dan kebudayaan.
- Badan Pusat Statistik (BPS), berbagai publikasi mengenai kondisi sosial masyarakat Indonesia.
- UNESCO, berbagai sumber mengenai kebudayaan, kehidupan masyarakat, dan keberagaman budaya.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
- Berbagai publikasi pemerintah dan dokumentasi mengenai kehidupan sosial, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat Indonesia.

