Ekonomi

Pinjaman Pemerintah, dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek

Pinjaman Pemerintah, dalam bentuk bantuan program dan bantuan proyek, Kajian tentang bantuan program dan bantuan proyek pada dasarnya adalah salah satu macam dari pinjaman pemerinah. Pinjaman pemerintah dapat berupa pinjaman sukarela dan pinjaman paksa; dapat pula dibedakan antara pinjaman dalam negeri dan luar negeri. 

Pinjaman sukarela merupakan jenis pinjaman yang diterima oleh pemerintah secara sukarela dari pihak mana saja, dapat dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Sedangkan pinjaman paksa merupakan jenis pinjaman yang dapat dipaksakan oleh pemerintah kepada masyarakat.

Ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1950-an, dimana pemerintah memotong uang kertas dan memberlakukan potongan sebelah kanan sebagai bagian pinjaman obligasi pemerintah dan hanya sebagian kiri yang laku yaitu 50% dari nilai asalnya.

Pinjaman dalam negeri merupakan jenis pinjaman yang diperoleh pemerintah dari penduduk di negeri sendiri, sedangkan pinjaman luar negeri merupakan jenis pinjaman yang diperoleh pemerintah dari para individu di luar negeri ataupun dari pemerintah negara lain.

Konsekuensi dari pinjaman dalam negeri adalah tidak ada tambahan dana secara makro karena tidak terjadi aliran dana yang masuk ke negeri kita. Sedangkan untuk pinjaman luar negeri, tidak disangkal lagi pasti ada dana yang masuk dari negara lain ke negara kita, dan ini sungguh-sungguh menolong dalam arti memperbesar dana yang tersedia untuk pembangunan secara keseluruhan (secara makro).

Pada saat pengembalian pinjaman, akan terdapat pindahan dana pemerintah kepada para pemegang obligasi.

Untuk pinjaman dalam negara, dana yang semula pindah dari tangan pemilik modal kepada pemerintah akan mengalir kembali dari pemerintah kepada pemilik modal, di mana di samping adanya pengembalian pokok pinjaman dibayar pula bunga pinjamannya.

Dengan demikian maka akan terjadi suatu pelebaran dari jurang perbedaan pendapatan/kekayaan pada saat terjadinya pengembalian itu. 

Pinjaman Luar Negeri

Sebaliknya untuk pinjaman luar negeri pada saat terjadinya pinjaman, akan terdapat aliran dana dari luar negeri ke dalam negeri, dan pada saat terjadi pengembalian pinjaman, akan ada aliran dana dari dalam negeri dalam bentuk pokok pinjaman dan bunga pinjaman ke luar negeri.

Bagaimana pengaruhnya terhadap distribusi bebanpajak dalam pengumpulan pajak guna membayar kembali pinjaman tersebut.

Apabila pajak ditarik secara progresif, maka beban pembayaran pokok dan bungan pinjaman akan terletak lebih banyak pada kelompok masyarakat yang relatif kaya, sedangkan untuk pajak yang sistem pajaknya adalah regresif maka beban pokok dan bungan pinjaman akan terletak pada kelompok miskin.

Apabila kita tinjau dari distribusi beban pinjaman antar generasi, maka jelas bahwa yang meminjam adalah generasi pada saat ini, tetapi yang yang memikul tugas pengembalian adalah generasi yang akan datang.

Ini tidak berarti bahwa generasi yang akan datang yang memikul beban pengembalian pinjaman dan bunganya, tetapi mereka juga yang akan lebih banyak menerima manfaat dari adanya pinjaman pemerintah yang diguakan untuk membangun dan memberikan hasil yang baik.

Hal ini khususnya berlaku bagi proyek-proyek yang menghasilkan barang dan jasa yang tahan lama, terutama yang berupa prasarana seperti jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan listrik, waduk/bendungan dan lain-lain.

Pinjaman bank memikul beban pengembalian pinjaman dan bunga (ilustrasi foto/istimewa)

Pengelolaan Pinjaman

Sebaliknya, bilamana gagal dalam mengelola pinjaman itu, maka mau tidak mau generasi yang akan datang yang akan memikul beban pinjaman tersebut.  Pertanyaan sekarang ialah mengapa pemerintah harus meminjam, apakah tidak lebih baik membangun dengan dana tabungan yang ada saja? Bila alternatif kedua yang ditempuh dapat terjadi tidak ada pembangunan di negara tersebut.

Baca juga Bentuk-bentuk struktur pasar dapat dikelompokan menjadi 4

Misalkan: pemerintah mentargetkan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan 5% per tahun, sedangkan penduduk meningkat dengan 3% per tahun, maka pendapatan per kapita hanya akan meningkat dengan 2% per tahun.

Dana investasi yang dibutuhkan bila diketahui rasio tambahan investasi untuk menambah produksi (incremental capital output ratio= ICOR) sebesar 4, adalah 4 x 5% = 20%). 

Sedangkan bila dana tabungan hanya sebesar 10% per tahun, maka akan ada kekurangan dan untuk investasi dapat tetap mendorong pendapatan nasional naik dengan 5% maka pemerintah harus pinjam dari luar negeri sebesar 10% dari pendapatan nasional.

Bagaimana kalau investasi hanya sebesar tabungan saja yaitu 10%? Akibatnya pendapatan nasional akan meningkat dengan 2,5 % dan pendapatan per kapita akan merosot dengan 0,5% per tahun. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button