PJJ IPS KELAS 8

Menganalisis Perlawanan Terhadap Pemerintah Hindia Belanda

Menganalisis Perlawanan Terhadap Pemerintah Hindia Belanda, Ananda yang hebat, perlawanan rakyat Indonesia tidak berhenti pada perlawanan terhadap Portugis dan persekutuan dagang saja, tetapi perang melawan pemerintahan Hindia Belanda. Perlawanan ini terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Bagaimana gagah dan gigihnya rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda? Yuk, Ananda baca ulasan dibawah ini!

1) Perang Saparua di Ambon

Rakyat Ambon melakukan perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Pattimura (Thomas Matulesi) dan berhasil membunuh Residen van den Berg. Bersama Pattimura ikut seorang pejuang wanita yang gagah berani bernama Chistina Martha Tiahahu yang merupakan putri tunggal dari Paulus Tiahahu sahabat Pattimura.

Belanda licik menangkap Pattimura bersama tiga temannya dan Pattimura meninggal dihukum gantung oleh Belanda.

2) Perang Padri di Sumatra Barat (1821- 1838)

Perlawanan kaum Padri dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol, Tuanku nan Cerdik, Tuanku Tambusi, dan Tuanku nan Alahan. Perlawanan kaum Padri berhasil membuat Belanda terpojok. Padahal saat itu Belanda sedang berperang juga melawan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah.

Ahirnya Belanda meminta berdamai kepada kaum Padri agar bisa konsentrasi melawan Pangeran Diponegoro. Dasar Belanda mempunyai jiwa licik, setelah berhasil memenangkan perang melawan Pangeran Diponegoro Belanda menyerang kembali kaum Padri.

Tuanku Imam Bonjol ditangkap, kemudian diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan berahir di Menado hingga wafat tahun 1864.

3). Pangeran Diponegoro

Gambar. Pangeran Dipenogoro (ilustrasi foto/iphedia.com)

Perang Diponegoro merupakan salah satu perang besar yang dihadapi oleh Belanda. Ada banyak hal yang melatarbelakangi perang ini selain dari kegelisahan dan penderitaan rakyat akibat penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Hal lainnya yaitu campur tangan pemerintah Hindia Belanda dalam urusan Keraton Jogjakarta, pajak-pajak yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda dan kebijakan ekonomi lainnya yang menjadi sumber penderitaan rakyat juga merupakan latarbelakang terjadinya perang Diponegoro.

Puncakya ketika terjadi perselisihan antara pengikut Pangeran Diponegoro marah dan mencabut patok-patok yang dipasangi di tanah leluhur Diponegoro oleh Belanda. Perang tidak dapat dihindari. Perang Diponegoro disebut juga Perang Jawa (1825-1830).

Diponegoro dan panglima perangnya yang bernama Sentot Prawiryodirjo, beserta rakyatnya sangat gigih dalam menegakan keadilan dan mempertahankan harga diri rakyat Indonesia. Belanda sangat kewalahan menghadapi perang ini.

Menganalisis Perlawanan Terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang memang licik memasang strategi, pada bulan Maret 1830 di Magelang, Jawa Tengah dengan kedok mengadakan perundingan ternyata hanya siasat untuk menangkap Diponegoro. Setelah ditangkap Pangeran Diponegoro dibuang ke Menado, terus dibuang lagi ke Makassar hingga wafat tahun 1855.

4). Perang Aceh

Belanda mendapatkan hak atas Aceh berdasarkan traktat London, sehingga Belanda menyerang Aceh yang saat itu merupakan negara yang masih merdeka. Rakya Aceh dengan Teuku Umar yang dibantu istrinya Cut Nyak Dien melawan Belanda.

Serangan rakyat Aceh yang tiada gentar dan sangat berani membuat Belanda semakin kalah dan menguras keuangan. Ahirnya Belanda mengutus Dr. Snouck Hurgronje yang memakai samaran Abdul Gafar untuk mencari kelemahan rakyat Aceh. Setelah belajar di Arab ahirnya dia tahu kelemahan rakyat Aceh. Dengan siasat adu domba rakyat Aceh dapat dikalahkan.

Sejak tahun 1898 Aceh semakin terdesak. Banyak tokoh Aceh yang gugur, termasuk Teuku Umar dalam pertempuran di Meulaboh tahun 1899. Cut Nyak Dien, tokoh pemimpin perempuan ditangkap tahun 1906 dan diasingkan di Sumedang.

Pahlawan perempuan Cut Meutia gugur. Walaupun Belanda sudah mengumumkan Perang Aceh berahir tahun 1904 tetapi perlawanan seporadis rakyat Aceh masih berlangsung hingga tahun 1930an.

5). Perlawanan Sisingamangaraja, Sumatra Utara

Di Sumatra Utara tepatnya di daerah Tapanuli berlangsung perlawanan terhadap Belanda selama 29 tahun. Perlawanan ini disebut juga dengan Perang Batak, dipimpin oleh Sisingamangaraja XII. Untuk mengahadapi perlawanan ini Belanda menarik pasukannya dari Aceh.

Rakyat Tapanuli sangat berani melawan Belanda, tetapi pasukan Sisingamangaraja dapat dikalahkan oleh Belanda. Kedua putra Sisingamangarajapun ikut gugur, sehingga Belanda berhasil menguasai seluruh Tapanuli.

6). Perang Banjar

Gambar. Pangeran Antasari (ilustrasi foto/mapel kelas)

Perlawanan terhadap Belanda ini terjadi di daerah Banjarmasin Kalimantan. Berawal dari kebiasaan Belanda yang suka mencampuri urusan Kerajaan Banjarmasin, dimana Belanda mendukung Pangeran Tamjidillah yang tidak disukai rakyat, ahirnya terjadi perang.

Perlawanan ini pertama dipimpimpin oleh Prabu Anom dan Pangern Hidayat pada tahun 1859. Setelah kedua tokoh tersebut ditangkap oleh Belanda, perlawanan selanjutnya dipimpin oleh Pangeran Antasari.

Belanda berhasil membuat Pangeran Antasari menyerah sehingga perlawanan di Banjar Kalimantan ini padam pada tahun 1905.

7). Perang Jagaraga di Bali

Perang di Bali ini berawal dari persengketaan antara Belanda dan Kerajaan Buleleng di Bali tentang hak tawan karang, dimana dalam hak ini dinyatakan bahwa setiap kapal yang kandas di perairan Bali menjadi hak penguasa setempat.

Nah, saat itu ada dua kapal milik Belanda yang disita oleh Raja Buleleng. Belanda menuntut dan meminta kembali kedua kapalnya tetapi Raja Buleleng tidak menerima tuntutan Belanda. Ahirnya pada tahun 1846 Belanda menyerang Kerajaan Buleleng dan berhasil menguasainya.

Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga dengan dibantu Raja Karangasem. Belanda menguasai benteng Jagaraga dan melanjutkan menaklukan kerajaan Gianjar dan Klungkung tahun 1906.

Seluruh rakyat Bali bersatu melawan Belanda, mereka dengan gagah berani berperang habis-habisan sampai mati sehingga dikenal dengan perang Puputan Jagaraga. Rakyat Bali tidak segan-segan melakukan perang puputan dalam melawan Belanda.

Menganalisis Perlawanan Terhadap Pemerintah Hindia Belanda, Perang ini terjadi lagi pada 20 November 1946 dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Dengan tekad pantang menyerah rakyat Bali melakukan perang “Puputan” atau perang habis-habisan di Desa Margarana.

Baca juga Perbedaan agama di Indonesia dalam Kerangka Bhineka Tunggal Ika

Referensi : MODUL PEMBELAJARAN JARAK JAUH PADA MASA PANDEMI COVID-19 UNTUK JENJANG SMP/MTs Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas VIII Semester Gasal. Direktorat Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button