Sejarah

Periodisasi Masa Pra Asksara Berdasarkan Geologis

Periodisasi Masa Pra Asksara Berdasarkan Geologis, Geologi adalah studi tentang bumi dan bumi sebagi seluruh kelompok studi, asal, struktur, komposisi, sejarah termasuk perkembangan kehidupannya, dan proses alami yang sudah ada dan yang sedang berlangsung yang membuat kadaan bumi seperti hari ini. Noer Aziz M., dkk (2002).

Sedangkan menurut Jackson Bates dan Amp (1990), geologi adalah ilmu yang planet bumi, terutama mengenai bahan penyusunannya sebuah proses yang terjadi pada bumi, hasil dari proses, sejarah planet dan kehidupan sejak bumi terbentuk.

Periodisasi Masa Pra Asksara, berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa geologi merupakan ilmu yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat sifat fisik, sejarah dan pembentukannya. secara keseluruhan.

Periodisasi Masa Pra Asksara Berdasarkan Geologis, berdasarkan teori geologis tersebut maka perkembangan bumi dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Dari perubahan-perubahan tersebut maka dapat di kelompokkan menjadi beberapa fase atau zaman. Setiap zaman memakan waktu yang sangat lama.

Setidaknya ada empat zaman periode perkembangan bumi ini. Yaitu zaman arkaikum, palaeozoikum mesozoikum dan neozoikum. Zaman neozoikum terbagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman tertier dan zaman kwartier. Zaman kuartier terdiri dari dua kurun waktu yaitu kala plestosen dan kala holosen.

1) Zaman Arkaikum

Zaman ini berlangsung kira kira 2500 juta tahun yang lalu. Pada saat itu kulit bumi masih panas. Lempengan bumi masih menyatu dan belum terbentuk. Kondisi bumi belum stabil dengan udara yang sangat panas sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan.

2) Zaman Palaeozoikum

Paleozoikum artinya zaman bumi purba. Zaman ini berlangsung kira kira 340 juta tahun yang lalu. Pada masa ini lapisan hidrosfer dan atmosfer mulai terbentuk. Lempengan bumi juga terbentuk namun masih bersatu menjadi sebuah benua besar yang di sebut “Pangea”. Namun lambat laun Pangea ini terpecah menjadi beberapa bagian sehingga terbentuk lima benua sampai sekarang ini.

Hal ini telah diteliti oleh para ilmuwan seperti Antonio Snidar dan Pellegrini yang memberikan gagasan tentang adanya pergeseran di bumi dengan mengamati pergeseran benua-benua Afrika dan Amerika selatan yang pernah bersatu.

Seorang ahli ilmu cuaca dari Jerman yang bernama Alfred Wegener (1912), dalam teorinya yang terkenal yaitu teori pengapungan benua (continental drift theory) mengemukakan bahwa sekitar 225 juta tahun lalu, di bumi hanya ada satu benua dan samudra yang maha luas. Benua raksasa ini dinamakan Pangea, sedangkan kawasan samudera yang mengapitnya dinamakan Panthalassa.

Dengan terbentuknya lempeng bumi dan dua unsur pembentuk bumi yakni hidrosfer dan atmosfer maka tanda-tanda kehidupan mulai bermunculan. Dimulai dengan munculnya organisme-organisme sederhana ber sel tunggal yang berkembang menjadi organisme ber sel banyak (multiseluler).

Kemudian muncullah organisme-organisme yang bertubuh kompleks seperti binatang- binatang kecil yang tidak bertulang belakang, berbagai jenis ikan, amfibi dan reptil. Juga ditandai munculnya tumbuh-tumbuhan sederhana seperti tumbuhan paku-pakuan.

3) Zaman Mesozoikum

Zaman mesozoikum adalah zaman kehidupan pertengahan, berlangsung kira- kira sejak 140 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini bumi mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini di tandai munculnya hewan hewan bertubuh besar seperti reptili pemakan daging, berbagai jenis burung, dan beberapa hewan mamalia.

Pada masa ini jenis reptilia meningkat jumlahnya. Semua daratan dikuasai oleh reptilia yang selanjutnya disebut “Dinosaurus”. Oleh sebab itu zaman ini disebut juga zaman reptil atau zaman dinosaurus.

4) Zaman Neozoikum

Zaman neozoikum adalah zaman kehidupan baru, berlangsung kira-kira sejak 60 juta tahun yang lalu. zaman ini terbagi menjadi dua zaman, yaitu zaman tertier dan zaman kuartier.

(a) Zaman Tertier

Pada zaman tertier, jenis-jenis reptil besar mulai mengalami kepunahan dan digantikan hewan-hewan besar yang menyusui. Jenis primata dan burung tak bergigi berukuran besar menyerupai burung unta mulai bermunculan.

Sementara itu muncul pula fauna laut yang sudah mirip seperti saat ini yaitu berbagai jenis ikan dan mollusca. Sedangkan tumbuhan berbunga dan rumput terus mengalami fariasi seperti semak belukar, rumput ilalang dan jenis-jenis tumbuhan merambat lainnya.

(b) Zaman Kuartier

Dengan perubahan cuaca global yang lambat namun pasti, perkembangan bumi ini mulai pada kondisi stabil. Iklim dan cuaca mulai bersahabat dengan makhuk hidup di lingkungannya. Kepunahan dan kemunculan hewan dan tumbuhan mulai silih berganti.

Pada zaman kuartier ini merupakan zaman yang amat penting dalam kehidupan manusia, karena pada zaman inilah diperkirakan munculnya awal manusia. Berlangsung sekitar 3 juta tahun yang lalu. Zaman kuartier terdiri dari dua kurun waktu atau biasa di sebut dengan “Kala”, yaitu kala plestosen dan kala holosen.

Kala Plestosen

Kala plestosen dimulai sekitar 600.000 tahun yang lalu. Pada masa ini telah terjadi masa glasial (zaman es) sebanyak lima kali. Sebagian besar Benua Eropa bagian Utara, Amerika bagian Utara dan Asia bagian Utara ditutupi es. Bagitu pula Pegunungan Alpen dan Himalaya.

Baca juga Periodisasi Sejarah Zaman Pra Aksara dalam kehidupan manusia

Jenis jenis flora dan fauna pada kala plestosen sudah mirip dengan zaman sekarang ini. Pada masa inilah di perkirakan manusia pithecanthropus erectus muncul. Dengan perjuangan melawan kerasnya alam, manusia ini mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungannya.

Kala Holosen

Kala holosen dimulai sekitar 200.000 tahun yang lalu. Pada masa ini manusia sudah seperti zaman sekarang ini. mereka sudah mengenal alat dan bercocok tanam untuk mempertahankan hidupnya. Interaksi sosial, keadaan masyarakatnya jauh lebih sempurna di bandingkan zaman plestosen. Dari sinilah munculnya peradapan dan kebudayaan yang tinggi pada kawasan-kawasan tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button