Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar

Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar, Taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyeleggarakan program pendidikan anak usia 4-6 tahun. Taman kanak-kanak bukan merupakan jenjang pendidikan untuk prasyarat memasuki pendidikan dasar atau sekolah dasar, sehingga pendidikan di jenjang TK tidak diwajibkan.

Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa para orang tua memandang perlu memasukkan anak-anak mereka ke taman kanak-kanak, karena pendidikan yang diselenggarakan di TK merupakan bentuk sosialisasi awal anak dengan lingkungan sekitarnya selain untuk pengembangan berbagai aspek kemampuan anak baik kognitif, bahasa, motorik, emosi dan moral.

Pemanfaatan Media di TK

Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar, pada dasarnya tujuan pendidikan di taman kanak-kanak adalah untuk membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik fisik dan psikis yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian, dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

Siswa usia Taman Kanak-kanak menurut Piaget dalam pekembangan kognitifnya berada pada fase Pra Operasional. Dalam tahap ini anak dapat merepresentasikan suatu objek dalam bentuk lain atau kegiatan yang bersifat simbolik.

Pada tahap ini anak juga masih berpikir konkrit sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan konsep harus diperkenalkan anak dalam bentuk yang konkrit. Fase ini dapat dikatakan memberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif manusia.

Proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak akan berjalan dengan baik dan produktif apabila guru memiliki kemampuan dalam menciptakan suasana belajar siswa yang menyenangkan. Guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dalam menyampaikan bahan ajar sesuai tema dengan menggunakan media pembelajaran.

Guru Taman kanak-kanak dituntut untuk dapat berpikir kreatif memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitarnya. Untuk mengatasi hambatan yang dihadapi dalam setiap proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan penyampaian pesan yang sulit dimengerti oleh peserta didik jika disampaikan dengan penjelasan verbal saja.

Menurut Edgar dale dalam Rumampuk (1988 : 8) mengemukakan bahwa pengalaman belajar seseorang 75% melalui indera penglihatan, 13% melalui indera pendengaran, dan selebihnya untuk indera yang lainnya. Oleh karena itu penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran terutama di Taman Kanak-kanak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kompetensi yang akan dicapai.

Selain itu dengan media, verbalisme dalam pembelajaran dapat dikurangi karena pembelajaran yang efektif untuk anak usia TK yang masih dalam tahap berpikir konkrit adalah menggunakan media pembelajaran.

Pembelajaran ditaman kanak-kanak memiliki peran penting dari seluruh kegiatan pembelajaran yang akan dialami oleh siswa, karena selain pada saat taman kanak-kanak guru menanamkan nilai moral, nilai-nilai agama, social emosional, konsep diri, disiplin dan kemandirian serta mengembangkan kemampuan dasar fisik, kognitif, bahasa dan seni pada pembelajaran di taman kanak-kanak kegiatan pembelajaran juga disajikan secara tematik yaitu menyajikan pembelajaran secara konkrit tanpa dipilah satu dengan lainnya menjadi bidang-bidang ilmu tertentu.

Implikasi dari pembelajaran tematik antara lain adalah guru yang akan menyajikan pembelajaran harus memiliki kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam membuat alat peraga dan media pembelajaran.

Karena tanpa alat peraga dan media yang tepat kegiatan pembelajaran yang diharapkan akan menjadi bias dan hanya bersifat verbalitas. Secara khusus ada beberapa tujuan penggunaan media pembelajaran ditaman kanak-kanak antara lain:

  1. Membangkitkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya.
  2. Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran
  3. Memberikan pengalaman – pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar.
  4. Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan
  5. Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materimateri yang lain dan menjadi proses belajar mendalam dan beragam.
  6. Menyamakan persepsi siswa terhadap konsep yang dipelajari sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman antara anak yang satu dengan yang lain.

Baca juga Pengembangan Media Pembelajaran AUD

Gambar 47a. Belajar Bersama perlu pengawasan dan bimbingan orang tua (ilustrasi foto/Edukasi Kompas)
DAFTAR PUSTAKA
  • Sudono, Anggani. 2004. Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta : Grasindo
  • Bean, Reynold. 1995. Cara Mengembangkan Kreativitas Anak (terjemahan Med. Meitasari Tjandrasa). Jakarta : Binarupa Aksara
  • Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Cv. Rajawali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.