Advertisement
Advertisement
IPS Kelas 8Sejarah

Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia awal abad kedua puluh

Advertisement

Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia awal abad kedua puluh, perjuangan kemerdekaan Indonesia ditandai oleh era kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional, yaitu masa kesadaran bangsa Indonesia untuk berjuang bersama-sama dalam mengusir penjajahan. Terdapat beberapa perbedaan perjuangan bangsa Indonesia sebelum abad kedua puluh dengan perjuangan setelah abad kedua puluh sebagai berikut.

Boedi Oetomo (20 Mei 1908)

Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia. Pada 1906 dan 1907, dr. Wahidin Sudirohusodo melakukan perjalanan keliling Jawa. Dalam pertemuannya dengan tokoh-tokoh pergerakan, ia mengajak untuk melakukan perluasan pengajaran sebagai langkah memajukan kehidupan rakyat.

Pada 20 Mei 1908, para mahasiswa School tot Opleideing van Inlansche Aartsen (STOVIA) atau sekolah dokter pribumi di Jawa Boedi Oetomo terbentuk. Ketua Boedi Oetomo adalah dr. Sutomo.

Advertisement

Tonggak berdirinya Boedi Oetomo 20 Mei 1908 dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh lain pendiri Boedi Oetomo adalah Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T. Ario Tirtokusumo.

Pada awalnya, Boedi Oetomo bukanlah organisasi politik. Tujuan utama Boedi Oetomo adalah memajukan pendidikan, sosial, dan budaya masyarakat Jawa dan Madura. Para tokohnya kebanyakan adalah para bangsawan, seperti bupati dan pangreh praja.

Namun, Boedi Oetomo kemudian menjadi organisasi kebangsaan dan bersifat nasional. Boedi Oetomo mengusahakan beasiswa para mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan studi. Keanggotaan Boedi Oetomo baru meluas ke semua golongan pada 1930.

Pada tahap selanjutnya, Boedi Oetomo melakukan kegiatan politik tahun 1915. Banyak anggota Boedi Oetomo yang masuk dalam Dewan Rakyat Hindia Belanda (Volksraad). Pada 1929, Boedi Oetomo masuk anggota Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Tahun 1932, Boedi Oetomo telah mempunyai orientasi Indonesia Merdeka. Selanjutnya, Boedi Oetomo bergabung dengan Persatuan Bangsa Indonesia dan membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra).

Tonggak berdirinya Boedi Oetomo 20 Mei 1908 dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. (ilustrasi foto/Kompas)

Sarekat Islam (SI)

Semula Sarekat Islam bernama Serikat Dagang Islam (SDI). Pendirinya adalah K.H. Samanhudi dan R.M. Tirtoadisuryo di Solo pada 1911. Tujuan utama SDI pada awalnya adalah melindungi kepentingan pedagang pribumi dari ancaman pedagang Cina. Saat itu, para pedagang Cina banyak menggeser para pedagang lokal yang kurang pendidikan dan pengalaman.

Advertisement

Dalam Kongres di Surabaya pada 30 September 1912, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama tersebut dimaksudkan agar anggota dan kegiatan organisasi lebih terbuka. Pada 1913, SI dipimpin oleh Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto.

Kegiatan SI sangat menarik rakyat karena kegiatannya membela rakyat.

Tahun 1915 jumlah anggota SI berjumlah 800.000 orang. SI banyak mendampingi protes para pekerja, terutama di pusat-pusat perdagangan. Pada 1915, SI juga mendesak Pemerintah Belanda untuk membentuk Dewan Rakyat (Volksraad) yang proporsional. Sepak terjang SI tersebut membuat Belanda menjadi khawatir. Pemerintah kemudian memutuskan untuk membatasi ruang gerak SI.

Advertisement

Baca juga Para pemimpin Perhimpunan Indonesia menyatakan bahwa organisasi mereka merupakan organisasi pergerakan nasional

Masalah yang dihadapi oleh SI semakin sulit ketika gerakan komunis berkembang di Indonesia. Infiltrasi gerakan komunis ke dalam SI menimbulkan perpecahan. SI kemudian terpecah menjadi dua kubu, yaitu sayap merah dan sayap putih.

Sayap putih hanya mau berpegang pada ajaran Islam yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto dan K.H. Agus Salim. Sementara sayap merah yang mencampuradukkan Islam dengan paham sosialis kiri adalah Semaun, Alimin, Darsono, dan Muso.

Advertisement

Tahun 1923 SI berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang bersifat nonkooperatif terhadap Belanda. Pada 1927, PSI telah menetapkan tujuan pergerakan untuk Indonesia merdeka berasaskan Islam.

Advertisement
Read article
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button