Advertisement
Advertisement
Advertisement
IPS Kelas 10Sejarah

Jepang menghentikan revolusi-revolusi yang mengancam pasukannya

Advertisement

Jepang menghentikan revolusi-revolusi yang mengancam pasukannya. Salah satu tugas pertama pihak Jepang adalah menghentikan revolusi-revolusi yang mengancam upaya penaklukan mereka.

Serangan terhadap orang-orang Eropa, perampokan terhadap rumah-rumah mereka di Banten, Cirebon, Surakarta, dan daerah-daerah lainnya menjurus ke suatu gelombang revolusi. Di Aceh dan di Sumatera Barat dan Timur ketegangan-ketegangan di antara penduduk asli yang timbul dari jaman penjajahan Belanda mulai meletus.

Para pemimpin agama (ulama) Aceh membentuk PUSA (Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh) pada tahun 1939 di bawah pimpinan Mohammad Daud Beureu’eh (1899-1987) untuk mempertahankan Islam dan mendorong pemodernisasian sekolah-sekolah Islam.

Advertisement

Organisasi tersebut segera menjadi pusat perlawanan terhadap pejabat-pejabat keturunan uleebalang, yang mendapat dukungan Belanda. PUSA telah menghubungi pihak Jepang dan merencanakan akan membantu serangan mereka.

Sabotase para ulama Aceh

Pada tanggal 19 Februari 1942, tiga minggu sebelum mendaratnya Jepang di daerah itu, para ulama Aceh memulai suatu kampanye sabotase terhadap Belanda dan pada awal bulan Maret Aceh memberontak.

Kebanyakan para uleebalang memutuskan untuk tidak melawan arus, dan Belanda tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengungsi ke selatan. Para pemimpin PUSA berharap pihak Jepang menghadiahi mereka atas usaha-usaha mereka menggeser kekuasaan para uleebalang.

Di Sumatera Timur orang-orang Batak Karo bersama pimpinan Gerindo yang beraliran nasionalis membantu pihak Jepang dengan harapan menyaksikan terdepaknya kaum bangsawan dukungan Belanda dari kekuasaan mereka.

Mereka mulai mendiami tanah yang mereka nyatakan sebagai milik mereka sendiri dan menyerang lawan-lawan mereka, terutama di daerah Deli pada bulan Juni-Juli 1942.

Jepang melakukan pendekatan terhadap penguasa daerah

Seperti halnya Belanda, Jepang harus memerintah Indonesia dan tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyandarkan diri pada orang-orang setempat yang berpengalaman, diantaranya adalah:

Advertisement

para raja di Sumatera Timur, para penghulu di Minangkabau, para uleehalcing di Aceh, para penguasa priyayi di Jawa, dan kelompok-kelompok serupa di daerah-daerah lainnya.

Walaupun sudah sejak lama propaganda mereka ditujukan untuk mendapatkan simpati para pemimpin Islam, tetapi pihak Jepang menyadari bahwa suatu kelompok yang pada dasarnya telah menolak bekerja sama dengan Belanda mungkin pula akan menyusahkan mereka.

Baca juga Pemberontakan Untung Surapati terhadap VOC

Advertisement

Mereka memberi para pemimpin Islam kesempatan yang tidak pernah diberikan oleh Belanda, yaitu kebebasan untuk mengembangkan agama islam. Akan tetapi, kesempatan itu baru diberikan ketika kekalahan Jepang sudah tak terelakkan lagi. Pihak Jepang memutuskan untuk membiarkan gelombang revolusi berjalan dengan harapan menghalangi penaklukan kembali oleh Sekutu.

Gambar 73a. Ulama dan santri-santri pada masa penjajahan tidak mendapatkan kebebasan (ilustrasi foto/Artikula.id)

Advertisement

Advertisement
Read article
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button