Pedagogi

Perkembangan Motorik Peserta Didik

Perkembangan Motorik Peserta Didik, Salah satu faktor penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan yang perlu dikenali dan dipahami pendidik adalah faktor perkembangan motorik peserta didiknya. Perkembangan motorik menurut Hurlock diartikan perkembangan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkordinasi.

Perkembangan motorik Peserta didik merupakan proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan, dimana gerakan individu meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisir, dan tidak terampil, kearah penguasaan keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisir dengan baik.

Perkembangan motorik menurut Santrock (2011: 242) dikelompokkkan menjadi motorik kasar dan motorik halus. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas akan dijelaskan sebagai berikut:

Motorik kasar

Gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Contoh perkembangan motorik kasar anak yaitu, anak pada usia 3 tahun gemar melakukan gerakan seperti melompat, berlari ke depan dan ke belakang.

Usia 4 tahun anak masih melakukan gerakan sejenis namun mereka menjadi lebih berani, seperti berani melompat dari tempat tinggi atau bergelantung. Mereka juga berani memanjat alat untuk memperlihatkan kemampuannya. Usia 5 tahun, anak mengembangkan jiwa petualang yang lebih besar lagi dibandingkan dengan Ketika ia berusia 4 tahun, mampu berlari dengan kencang dan senang berlomba, seperti balapan lari dan balapan sepeda, usia 6 tahun dapat menggunakan palu.

Pada usia 7 tahun tangan-tangan anak sudah lebih mantap, pada usia 10 atau 11 tahun anak dapat memanjat, melompati tali, berenang, dan dapat memukul bola tenis melewati net. Keterampilan motorik kasar ini banyak melibatkan aktivitas otot, biasanya anak laki-laki lebih unggul dibandingkan anak perempuan.

Motorik halus

Gerakan yang menggunakan otot halus, atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Perkembangan motorik halus anak usia 3 tahun missal bermain puzzle sederhana, tapi kadang tidak disangka dapat membangun menara tinggi dengan menggunakan balok.

Pada usia 4 tahun koordinasi motorik halus sudah memperlihatkan kemajuan yang bersifat substansial dan menjadi lebih cermat. Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak telah memperlihatkan kemajuan yang lebih jauh lagi. Tangan, lengan, dan tubuh, semuanya bergerak di bawah komando mata. Pada usia 6 tahun, anak dapat menempel, mengikat tali sepatu, mengancingkan pakaian. Pada usia 7 tahun, tangan anak sudah lebih matap.

Di usia 7 tahun anak lebih suka menggunakan pensil dibanding menggunakan krayon untuk menulis. Pada usia 8 sampai 10 tahun, tangan anak-anak sudah dapat digunakan secara mandiri dengan lebih tenang dan tepat, anak-anak sudah dapat menulis daripada sekedar mencetak kata-kata. Pada usia 10 sampai 12 tahun anak- anak dapat melakukan gerakan-gerakan kompleks, rumit, dan cepat. Keterampilan motoric halus biasanya perempuan lebih unggul disbanding anak laki-laki.

Kedua jenis keterampilan motorik sebagaimana dijelaskan di atas, penting untuk dikenali dan dipahami guru agar proses pembelajaran yang dilakukan dapat mengembangkan potensi dan memaksimalkan hasil peserta didiknya.

Baca juga Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik

Disamping itu dengan dikenali dan dipahaminya perkembangan motorik anak, pendidik dan sekolah dapat menggunakan strategi pembelajaran, metode yang tepat, dan dapat menyediakan, memanfaatkan alat, media, dan sumber belajar yang memadai.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button