SejarahSMA Kelas x

Historiografi tradisional naskah sejarah

Historiografi tradisional naskah sejarah, Dalam ilmu sejarah, naskah dapat dimasukkan ke dalam bentuk historiografi tradisional. Sebutan tradisional tersebut berdasar pada tahun ketika naskah itu ditulis, tempat penulisan naskah, dan bentuk cerita yang dikisahkan dalam naskah.

Tahun penulisan naskah biasanya ditulis pada waktu yang sudah lama. Tempat naskah itu ditulis sangat mempengaruhi isi naskah. Kebudayaan masyarakat setempat akan mewarnai isi cerita naskah. Bentuk cerita yang disampaikan biasanya memuat bagian-bagian yang sepertinya tidak masuk akal. Ada cerita-cerita yang bersifat mitos.

Cerita sejarah

Cerita sejarah yang ada dalam naskah, biasanya lebih banyak menceritakan peran “orang-orang besar”, seperti raja, penguasa, tokoh, dan lain-lain. Pemunculan peran penguasa dalam naskah dikarenakan subjektivitas penulisnya.

Pada masa lalu biasanya di kerajaan terdapat seorang pujangga. Pujangga ini mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kerajaan tersebut.

Peristiwa-peristiwa penting itu misalnya kapan raja itu memerintah, siapa rajanya, kapan raja berakhir berkuasa, siapa yang menggantikan raja yang lama, peristiwa apa yang terjadi pada saat pergantian raja, dan peristiwa-peristiwa lainnya.

Tidak semuanya naskah yang berisi tentang sejarah ditulis oleh pujangga kerajaan. Ada juga naskah yang ditulis oleh orang biasa. Bahkan naskahnaskah tersebut mengalami proses penyalinan kembali.

Baca juga Melacak sejarah melalui folklore

Pada zaman Belanda, terdapat orang-orang yang kembali menyalin naskah. Penyalinan itu dilakukan karena para ilmuwan Belanda yang tertarik pada pengumpulan naskah meminta menyalin kembali.

Baca juga Sejarah tradisi lisan mengandung unsur kearifan

Pandangan penulis

Pandangan dari penulis naskah akan berpengaruh terhadap hasil penulisannya. Bagi pembuat naskah yang sekaligus berprofesi sebagai pengarang atau pujangga, pekerjaan menulis naskah merupakan suatu pemenuhan batin untuk menyatakan pikiran-pikirannya, untuk mempraktikkan kiat-kiat estetikanya, untuk menyatakan sikap hidup dan tanggapan dunianya.

Berbeda halnya dengan para pembuat naskah yang semata-mata melakukan penyalinan, baik atas perintah, keinginan sendiri, maupun atas pesanan. Pada waktu itu, para pembuat naskah yang ada pada umumnya adalah golongan penyalin. Para pengarang pada umumnya telah menggunakan media penulisan modern untuk langsung diproduksi secara massal.

Fakta yang ada dalam naskah-naskah lama tidak selamanya dapat digunakan sebagai fakta sejarah. Apabila kita menggunakan fakta-fakta tersebut, maka kita harus bersikap kritis, karena uraian atau cerita dari naskah lama biasanya banyak dibumbui oleh cerita yang bersifat mistik atau magis religius. Misalnya, seorang raja yang memiliki kesaktian luar biasa yang berbeda dengan manusia lain pada umumnya. (Pak’e/buguruku)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button