Advertisement
Advertisement
Advertisement
Sejarah

Era Presiden Habibie Masalah Timor-Timor yang Bergejolak Diselesaikan

Advertisement

Pada Era Presiden Habibie Masalah Timor-Timor yang Bergejolak Diselesaikan, Masalah Timor-Timur terjadi bentrokan senjata antara kelompok pro dan kontra kemerdekaan di mana kelompok kontra ini masuk ke dalam kelompok militan yang melakukan teror pembunuhan dan pembakaran pada warga sipil. 

Tiga pastor yang tewas adalah pastor Hilario, Fransisco, dan Dewanto. Situasi yang tidak amandi Tim-Tim memaksa ribuan penduduk mengungsi ke Timor Barat, ketidak mampuan Indonesia mencegah teror. 

Menciptakan keamanan mendorong Indonesia harus menerima pasukan internasional, meskipun hasilnya berdasarkan referendum yang dilakukan oleh rakyat timor-timor memilih untuk merdeka dan berpisah dari Indonesia. 

Advertisement

Silahkan saudara menyaksikan video berikut ini mengenai pelaksanaan referendum di timor-timor: 

Pidato Pertanggungjawaban Presiden B.J Habibie dalam Sidang MPR 

Era Presiden Habibie, lepasnya timor-timor ini merupakan salah satu penyebab ditolaknya pidato pertanggungjawaban Presiden Habibie dalam sidang umum MPR. Pada tanggal 14 Oktober 1999, Presiden B. J. Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya didepan Sidang umum MPR. 

Dalam pemandangan umum fraksi-fraksi atas pidato pertanggungjawaban Presiden B. J. Habibie tanggal 15-16 Oktober 1999. Dari sebelas fraksi, empat fraksi menolak, lima fraksi meminta penjelasan tambahan, satu fraksi menyerahkan sikap dan penilaiannya kepada Komisi Pertanggung jawaban Pidato Presiden dan satu fraksi menerima. 

Atas dasar penilaian itu, Ketua MPR Amien Rais memutuskan bahwa persoalan SU MPR akan dilakukan votting. Pada tanggal 19 Oktober, votting pun dilaksanakan dengan hasil 355 suara menolak, 322 suara menerima, 9 abstain dan 4 suara tidak sah. 

Berdasarkan hasil votting tersebut, Sidang Paripurna XII SU MPR akhirnya menyatakan menolak pertanggungjawaban Presiden B. J.Habibie.  

Beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Habibie tampaknya belum memuaskan banyak pihak sehingga banyak anggota MPR/DPR yang di dalam Sidang Umum tahun 1999 menolak hasil pertanggungjawaban Habibie. 

Advertisement

Perubahan Peta Politik 

Sehingga terjadi perubahan peta politik di mana Habibie mundur setelah pertanggungjawabannya ditolak. Akhirnya pencalonan pun terpecah menjadi 2 kubu yaitu Megawati yang dicalonkan PDI-P dan Gus Dur yang dijagokan oleh Poros Tengah. 

Baca juga Presiden Soeharto Mengumumkan Pengunduran Diri Pada 21 Mei 1998

Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara. 

Advertisement

Advertisement
Read article
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button