Pada masa praaksara, manusia purba hidup sangat bergantung pada alam. Hasil buruan dan makanan yang dikumpulkan tidak selalu langsung habis dalam satu waktu. Oleh karena itu, manusia purba harus menemukan cara menyimpan makanan agar tidak cepat busuk. Meskipun tanpa teknologi modern, mereka memiliki berbagai metode cerdas untuk menjaga makanan tetap layak konsumsi.
Mengapa Penyimpanan Makanan Penting bagi Manusia Purba?
Penyimpanan makanan penting karena:
- Hasil buruan tidak selalu tersedia setiap hari
- Cuaca dan musim memengaruhi ketersediaan makanan
- Menjamin kelangsungan hidup kelompok
Kemampuan menyimpan makanan menunjukkan tingkat kecerdasan dan perencanaan manusia purba.
Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan
1. Mengeringkan Makanan
Mengeringkan adalah cara paling umum.
Contoh:
- Daging dijemur di bawah sinar matahari
- Ikan dikeringkan agar tahan lama
Cara ini mengurangi kadar air sehingga bakteri sulit berkembang.
2. Mengasapi Makanan
Makanan diasapi dengan:
- Menggantung daging di atas api kecil
- Menggunakan asap kayu
Asap membantu mengawetkan sekaligus memberi rasa.
3. Memasak dengan Api
Memasak membantu:
- Membunuh bakteri
- Memperpanjang masa simpan
Makanan yang dimasak bisa bertahan lebih lama dibandingkan makanan mentah.
4. Menyimpan di Tempat Sejuk
Manusia purba menyimpan makanan di:
- Gua
- Lubang tanah
- Tempat teduh dan kering
Lingkungan sejuk memperlambat pembusukan.
5. Membungkus dengan Bahan Alami
Makanan dibungkus menggunakan:
- Daun besar
- Kulit kayu
Pembungkus alami melindungi makanan dari serangga dan kotoran.
Contoh Praktik Penyimpanan di Nusantara
Beberapa contoh praktik manusia purba di Indonesia:
- Manusia Toala (Sulawesi) mengeringkan ikan dan kerang
- Manusia gua Sampung menyimpan daging di gua sejuk
- Manusia pesisir memanfaatkan asap api unggun
Temuan sisa tulang dan abu menjadi bukti praktik ini.
Keunikan Cara Penyimpanan Makanan Purba
Keunikan metode ini antara lain:
- Ramah lingkungan
- Tidak membutuhkan alat rumit
- Memanfaatkan alam sekitar
Cara ini menjadi cikal bakal teknik pengawetan modern.
Baca juga: Perbedaan Dongeng, Legenda, dan Mitos dalam Cerita Rakyat
