Sejarah

Budaya Masa Kehidupan Bercocok Tanam di Indonesia

Budaya Masa Kehidupan Bercocok Tanam telah menghasil budaya yang mengarah pada usaha bercocok tanam yang syarat dengan kepercayaan/religi. Bentuk alat-alatnya pun lebih halus dan sudah bergaya seni.

Secara fungsi alat-lat ini digunakan selain sebagai alat bercocok tanam juga sebagai alat upacara keagamaan. Alat tersebut antara lain kapak persegi, kapak lonjong, gerabah, alat pemukul kayu dan perhiasan/manik-manik.

Kapak persegi digunakan sebagai pengerjaan kayu membuat rumah, menggarap ladang dan alat upacara. Kapak Lonjong digunakan untuk mencangkul tanah dan memotong kayu. Alat pemukul kulit kayu di gunakan untuk memukul-mukul kulit kayu hingga halus.

Kerajinan gerabah di gunakan untuk alat-alat rumah tangga dan upacara keagamaan. Perhiasan berupa gelang dari batu dan kulit kerang di gunakan sebagai seni asesoris dan benda benda upacara sebagai kepercayaan terhadap roh nenek moyang.

Kepercayaan

Budaya Masa Kehidupan Bercocok Tanam, ada sebuah kepercayaan bahwa orang yang meninggal dunia akan memasuki alam tersendiri. Oleh karena itu, pada masa ini, jika ada orang yang meningal dunia di bekali benda benda keperluan sehari-hari seperti perhiasan, manik- manik dan alat periuk lainnya.

Tujuannnya adalah agar arwah orang yang meninggal dunia mendapatkan perjalanan yang lancar dan mendapatkan kehudupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Mereka percaya bahwa ada suatu kekuatan ghaib di alam sekitar ini. Kekuatan ghaib berasal dari arwah nenek moyang mereka yang telah maninggal dunia.

Mereka mempercayai bahwa kekuatan ghaib dari arwah roh nenek moyang mereka bisa bertempat tempat di gunung tinggi, hutan lebat, batu besar, pohon tua, gua yang gelap, pantai dengan ombak yang besar dan temapat tempat keramat lainnya.

Mereka menghubungkan antara kejadian-kejadian alam seperti gunung meletus, petir, ombak, gempa bumi, gerhana matahari dan bulan adalah atas ikut campur tangan dari kekuatan ghaib yaitu arwah nenek moyang mereka.

Agar kejadian-kejadian tersebut tidak menimpa mereka, maka mereka mengadakan pemujaan dan persembahan. Kepercayaan terhadap arwah roh nenek moyang inilah yang di sebut kepercayaan animisme.

Selain kepercayaan terhadap arwah roh nenek moyang mereka juga mempercayai pada benda- benda tertentu yang memiliki kekuatan ghaib.

Karena benda tersebut mempunyai kekuatan ghaib maka harus di puja. Kepercayaan terhadap benda-banda yang memiliki kekuatan ghaib inilah yang di sebut dengan kepercayaan dinamisme.

Tradisi Megalitik

Berkaitan erat dengan kepercayaan diatas, maka pada masa bercocok tanam ini munculah tradisi pendirian bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu yang di sebut tradisi megalitihk.

Tradisi ini di dasari oleh kepercayaan bahwa ada hubungan yang erat antara orang yang sudah meninggal dengan kesejahteraan masyarakat dan kesuburan ketika bercocok tanam.

Oleh sebab itu jasa seseorang yang berpengaruh terhadap masyarakat perlu di abadikan dalam sebuah monumen atau bangunan besar yang terbuat dari batu.

Baca juga Pra Aksara Zaman Tembaga dan Zaman Besi di Indonesia

Bangunan ini kemudian menjadi lambang orang yang meninggal dunia sekaligus tempat penghormatan serta media persembahan dari orang yang masih hidup ke orang yang sudah meninggal dunia tersebut.

Bangunan megalithik tersebut antara lain dolmen, menhir, kubur peti batu, waruga, sarkofagus,dan punden berndak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button