Interaksi sosial merupakan konsep mendasar dalam ilmu sosiologi yang menjelaskan bagaimana manusia berhubungan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini dapat bersifat positif, membangun kerja sama dan keharmonisan, ataupun negatif, yang memicu konflik dan pertentangan. Para ahli membagi interaksi sosial menjadi dua bentuk utama, yaitu interaksi asosiatif dan interaksi disosiatif. Bagaimana Perbedaan Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif Menurut Para Ahli?
Pemahaman mengenai perbedaan kedua bentuk interaksi ini sangat penting, terutama bagi pelajar, pendidik, dan masyarakat umum. Dengan memahaminya, seseorang dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berperilaku yang lebih efektif dalam lingkungan sosialnya. Artikel ini akan mengulas secara detail perbedaan interaksi sosial asosiatif dan disosiatif menurut berbagai ahli, dilengkapi dengan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Interaksi Sosial Menurut Para Ahli
Sebelum membahas perbedaan bentuk interaksi sosial, penting untuk memahami definisi interaksi sosial menurut para ahli:
1. Gillin dan Gillin
Menurut Gillin dan Gillin, interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis antara individu atau kelompok yang menunjukkan adanya aksi dan reaksi.
2. Soerjono Soekanto
Soerjono Soekanto mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan timbal balik yang memengaruhi satu sama lain dan merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial dalam masyarakat.
3. Horton dan Hunt
Mereka menyatakan bahwa interaksi sosial adalah proses sosial di mana orang berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung, memengaruhi perilaku, perasaan, dan pikiran satu sama lain.
Dari definisi para ahli tersebut, jelas bahwa interaksi sosial merupakan proses yang menyatu dengan kehidupan manusia. Proses tersebut kemudian dibagi menjadi dua kategori besar: asosiatif dan disosiatif.
A. Interaksi Sosial Asosiatif Menurut Para Ahli
Interaksi asosiatif adalah proses sosial yang membawa individu atau kelompok menuju kerja sama, harmoni, dan keselarasan. Bentuk interaksi ini umumnya berkontribusi pada kohesi sosial dan pembangunan hubungan yang positif.
Menurut Soerjono Soekanto, bentuk interaksi asosiatif meliputi empat jenis: kooperasi, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
1. Kooperasi (Kerja Sama)
Gillin dan Gillin menyatakan bahwa kerja sama muncul ketika orang atau kelompok menyadari perlunya tujuan bersama.
Contoh nyata:
- Siswa bekerja kelompok membuat proyek IPA.
- Warga melakukan gotong royong membersihkan lingkungan.
- Karyawan satu tim menyelesaikan target perusahaan.
Kerja sama merupakan aspek penting dalam kehidupan sosial karena dapat memperkuat solidaritas.
2. Akomodasi
Soekanto menjelaskan bahwa akomodasi merupakan proses meredakan pertentangan untuk mencapai kestabilan.
Contoh nyata:
- Guru menengahi siswa yang bertengkar.
- Rapat keluarga untuk menghentikan perselisihan antarkakak beradik.
- Mediasi antara dua pihak oleh tokoh masyarakat.
Akomodasi mengurangi ketegangan sosial dan menjaga keutuhan hubungan.
3. Asimilasi
Koentjaraningrat mendefinisikan asimilasi sebagai proses peleburan dua budaya yang menghasilkan budaya baru.
Contoh nyata:
- Pengaruh budaya Tionghoa dan lokal menghasilkan tradisi Cap Go Meh di beberapa daerah Indonesia.
- Siswa dari berbagai budaya membentuk kebiasaan sekolah yang sama.
Asimilasi memperkuat persatuan melalui pembauran budaya.
4. Akulturasi
Akulturasi adalah proses masuknya unsur budaya baru tanpa menghilangkan budaya asli.
Contoh nyata:
- Arsitektur masjid dengan sentuhan budaya lokal (seperti Masjid Demak).
- Kuliner Indonesia seperti bakso atau mie ayam yang terpengaruh budaya Tionghoa.
Baca juga: Faktor Modal dalam Produksi: Pengertian, Jenis, dan Perannya dalam Kegiatan Ekonomi
B. Interaksi Sosial Disosiatif Menurut Para Ahli
Interaksi disosiatif adalah proses sosial yang cenderung menjauhkan atau memisahkan individu maupun kelompok. Interaksi ini dapat menimbulkan persaingan hingga konflik terbuka.
Menurut Soerjono Soekanto, bentuk interaksi disosiatif meliputi: kompetisi, kontravensi, dan konflik.
1. Kompetisi (Persaingan)
Gillin dan Gillin menjelaskan bahwa kompetisi adalah proses sosial ketika individu atau kelompok berusaha mendapatkan keuntungan atau pencapaian tertentu tanpa kekerasan.
Contoh nyata:
- Siswa berlomba mendapatkan juara kelas.
- Perusahaan bersaing menawarkan produk terbaik.
- Atlet bertanding dalam perlombaan olahraga.
Jika dilakukan secara sehat, kompetisi dapat meningkatkan kualitas diri dan prestasi.
2. Kontravensi
Kontravensi adalah bentuk interaksi yang berada di antara persaingan dan konflik. Menurut Soekanto, kontravensi ditandai oleh gejala ketidakpuasan atau penolakan, tetapi tidak sampai terjadi pertentangan fisik.
Contoh nyata:
- Bisik-bisik tidak setuju terhadap keputusan ketua kelas.
- Warga yang menolak aturan baru namun tidak menyatakannya secara terbuka.
- Siswa yang menyindir temannya melalui media sosial.
Kontravensi sering tersembunyi, tetapi berdampak pada hubungan sosial.
3. Konflik
Konflik adalah pertentangan yang terjadi akibat perbedaan pendapat, kepentingan, atau nilai. Lewis Coser menyatakan bahwa konflik dapat memperkuat identitas kelompok, tetapi juga berpotensi merusak harmoni sosial.
Contoh nyata:
- Perselisihan antarwarga akibat batas tanah.
- Pertengkaran antara siswa yang berebut barang.
- Demonstrasi yang berujung bentrokan.
Konflik dapat dikelola melalui komunikasi efektif dan mediasi.
C. Perbedaan Interaksi Asosiatif dan Disosiatif Menurut Para Ahli
Berikut perbedaan mendasar antara interaksi sosial asosiatif dan disosiatif berdasarkan pandangan para ahli:
| Aspek | Interaksi Asosiatif | Interaksi Disosiatif |
| Tujuan | Harmoni, kerja sama, penyatuan | Persaingan, pertentangan, pemisahan |
| Pandangan Soekanto | Terdiri dari kooperasi, akomodasi, asimilasi, akulturasi | Terdiri dari kompetisi, kontravensi, konflik |
| Dampak Sosial | Meningkatkan solidaritas | Berpotensi menimbulkan ketegangan |
| Bentuk Komunikasi | Terbuka, positif, kolaboratif | Tertutup, penuh ketegangan, bisa agresif |
| Contoh | Gotong royong, musyawarah | Kompetisi lomba, pertengkaran, sindiran |
Dari perbedaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua bentuk interaksi sosial memiliki peran penting dalam dinamika masyarakat. Interaksi asosiatif diperlukan untuk membangun kerja sama, sementara interaksi disosiatif mendorong perubahan dan kompetisi yang bisa menghasilkan inovasi.
Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Contoh Interaksi Asosiatif
- Di sekolah: Siswa membuat proyek kelompok.
- Di keluarga: Orang tua dan anak bermusyawarah menentukan jadwal liburan.
- Di masyarakat: Warga gotong royong membangun pos ronda.
2. Contoh Interaksi Disosiatif
- Di sekolah: Persaingan merebutkan juara kelas.
- Di keluarga: Perdebatan kakak-adik tentang barang yang diperebutkan.
- Di masyarakat: Perselisihan batas tanah antarwarga.
Kesimpulan
Interaksi sosial asosiatif dan disosiatif merupakan dua bentuk proses sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Para ahli seperti Soerjono Soekanto, Gillin & Gillin, dan Koentjaraningrat menjelaskan keduanya secara detail. Interaksi asosiatif menekankan kerja sama dan keteraturan sosial, sedangkan interaksi disosiatif menyoroti persaingan dan pertentangan.
Meski terlihat bertolak belakang, keduanya sama-sama berperan dalam membentuk dinamika sosial. Interaksi asosiatif menjaga harmoni, sementara interaksi disosiatif memicu perubahan dan perkembangan.
Pemahaman mendalam tentang perbedaan keduanya membantu kita meningkatkan kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa perbedaan utama interaksi asosiatif dan disosiatif?
Interaksi asosiatif bersifat membangun dan mengarah pada kerja sama, sedangkan disosiatif berhubungan dengan persaingan atau konflik.
2. Apakah interaksi disosiatif selalu negatif?
Tidak selalu. Kompetisi atau persaingan dapat menjadi positif jika dilakukan secara sportif dan sehat.
3. Mengapa perlu memahami bentuk interaksi sosial?
Agar kita dapat berperilaku lebih bijak, menghindari konflik, serta membangun hubungan sosial yang harmonis.
4. Siapa ahli yang membagi interaksi sosial menjadi dua bentuk?
Soerjono Soekanto adalah salah satu ahli yang paling dikenal dalam membagi interaksi sosial menjadi asosiatif dan disosiatif.
5. Apa contoh interaksi asosiatif di masyarakat?
Gotong royong, musyawarah warga, serta aksi sosial bersama.
Referensi
- Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers.
- Gillin & Gillin. Cultural Sociology.
- Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi.
- Kemendikbud RI. Buku IPS SMP Kelas VIII Kurikulum 2013.
interaksi sosial, interaksi asosiatif, interaksi disosiatif, sosiologi, proses sosial, IPS, SMP, kerja sama sosial, konflik sosial, artikel pendidikan,
