Masa Neolitikum menandai awal manusia bercocok tanam secara menetap. Strategi bertani yang digunakan pada masa itu sederhana namun efektif untuk kondisi alam dan sosial saat itu. Menariknya, beberapa strategi pertanian Neolitikum tetap relevan dan bisa dipelajari hingga sekarang, terutama dalam konteks pertanian berkelanjutan dan tradisional. Bagaimana Strategi Bertani di Masa Neolitikum yang Masih Bisa Dipelajari?
Strategi Bertani di Masa Neolitikum
1. Pemilihan Lahan Subur
Manusia Neolitikum memilih lahan dekat sungai atau tanah yang subur untuk menanam padi, umbi, dan biji-bijian.
Contoh:
Permukiman di Bali Aga dibangun di dekat sawah untuk memudahkan pengairan.
2. Rotasi Tanaman
Menanam tanaman bergantian di lahan yang sama untuk menjaga kesuburan tanah.
Contoh:
Menanam padi di musim hujan, lalu menanam umbi-umbian di musim kemarau.
3. Pengairan Sederhana
Manusia Neolitikum membangun saluran air dari sungai untuk mengairi sawah secara manual.
Contoh:
Saluran irigasi sederhana di situs Neolitikum Jawa Tengah.
4. Penyimpanan Hasil Panen
Setelah panen, hasil tanaman dijemur dan disimpan di keranjang anyaman atau gudang mini untuk mencegah rusak.
5. Pemanfaatan Hewan Ternak
Walau masih terbatas, manusia mulai memanfaatkan hewan untuk membantu mengolah tanah atau sebagai sumber pupuk alami.
Contoh:
Sapi dan kerbau digunakan untuk membajak lahan atau membantu membawa hasil panen.
6. Penanaman Berkelompok
Menanam tanaman di kelompok atau petak kecil agar mudah dijaga, dipanen, dan meminimalkan risiko gagal panen.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
- Pentingnya adaptasi terhadap kondisi alam
- Rotasi tanaman untuk menjaga produktivitas tanah
- Pengelolaan air dan sumber daya lokal sangat penting
- Penyimpanan hasil panen menjaga ketahanan pangan
- Kerja sama masyarakat mendukung keberhasilan pertanian
Baca juga: Cara Manusia Beradaptasi dengan Keberagaman Lingkungan
