Home » Sejarah » Raja Kertanegara: Pemimpin Visioner Kerajaan Singasari yang Melebarkan Nusantara
Posted in

Raja Kertanegara: Pemimpin Visioner Kerajaan Singasari yang Melebarkan Nusantara

Raja Kertanegara: Pemimpin Visioner Kerajaan Singasari yang Melebarkan Nusantara (ft.istimewa)
Raja Kertanegara: Pemimpin Visioner Kerajaan Singasari yang Melebarkan Nusantara (ft.istimewa)
sekolahGHAMA

Raja Kertanegara adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Nusantara yang patut dikenang sebagai pemimpin visioner dan ambisius. Ia adalah raja terakhir dari Kerajaan Singasari yang memimpin dari tahun 1268 hingga 1292 Masehi. Di bawah kepemimpinannya, Singasari berkembang pesat, baik dari sisi kekuatan militer, hubungan luar negeri, hingga ekspansi wilayah ke luar Pulau Jawa. Kertanegara merupakan sosok yang memiliki visi besar untuk menyatukan Nusantara di bawah satu kekuasaan, jauh sebelum visi tersebut diwujudkan oleh Majapahit.

Latar Belakang Kepemimpinan Kertanegara

Kertanegara merupakan putra dari Raja Wisnuwardhana. Ia naik tahta pada tahun 1268 M menggantikan ayahnya. Sejak awal, Kertanegara menunjukkan sikap yang berbeda dari raja-raja sebelumnya. Ia tidak hanya berfokus pada urusan dalam negeri, tetapi juga menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan besar lainnya, seperti Champa dan bahkan Dinasti Yuan di Tiongkok.

Visi besarnya adalah mewujudkan “Dwipantara” – cita-cita penyatuan kepulauan Nusantara. Ia menyadari bahwa kekuatan Singasari tidak akan bertahan lama jika hanya terkurung di Pulau Jawa. Untuk itu, ia mulai menyusun strategi perluasan wilayah ke luar Jawa, salah satunya melalui Ekspedisi Pamalayu.

Ekspedisi Pamalayu: Langkah Awal Menyatukan Nusantara

Salah satu kebijakan paling terkenal dari Raja Kertanegara adalah Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 M. Ekspedisi ini bertujuan untuk menguasai wilayah Sumatra, terutama Kerajaan Melayu Dharmasraya yang saat itu berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Sriwijaya.

Melalui ekspedisi ini, Kertanegara berhasil menunjukkan dominasi politik dan militer Singasari. Ia tidak semata-mata menaklukkan dengan kekuatan senjata, tetapi juga mengirimkan hadiah dan menjalin hubungan pernikahan antara bangsawan Singasari dan kerajaan-kerajaan di Sumatra. Salah satu hasil penting dari ekspedisi ini adalah dibawanya dua putri Melayu ke Jawa, yaitu Dara Jingga dan Dara Petak.

Langkah ini menjadi landasan penting bagi Majapahit kelak dalam membangun kekuasaannya di Sumatra dan seluruh Nusantara. Selain itu, Ekspedisi Pamalayu juga menjadi bukti bahwa Kertanegara adalah pemimpin dengan wawasan geopolitik yang luas.

Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional

Kertanegara bukan hanya memperluas wilayah secara militer, tapi juga secara diplomatik. Ia menjalin hubungan dengan Kerajaan Champa (Vietnam Selatan saat ini) dan bahkan mengirim utusan ke Tiongkok. Namun, hubungan dengan Dinasti Yuan (Mongol) tidak berjalan mulus.

Pada tahun 1289, Kubilai Khan – kaisar dari Dinasti Yuan – mengirim utusan ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk dan membayar upeti. Namun, Kertanegara menolak keras. Ia bahkan menghina utusan Mongol dengan melukainya. Tindakan ini dianggap sebagai penghinaan besar oleh Mongol, yang kelak mengirim pasukan besar ke Jawa untuk membalas penghinaan tersebut.

Keberanian Kertanegara menghadapi kekuatan sebesar Mongol menunjukkan karakternya sebagai pemimpin yang tidak mudah tunduk, bahkan kepada kekuatan superpower dunia pada zamannya.

Reformasi Keagamaan dan Budaya

Selain dalam bidang militer dan politik luar negeri, Kertanegara juga melakukan reformasi besar dalam bidang keagamaan dan budaya. Ia dikenal sebagai penganut Sinkretisme, yaitu menggabungkan ajaran Hindu dan Buddha dalam praktik keagamaannya. Pandangan ini tercermin dalam kebijakan religius dan pembangunan tempat-tempat suci.

Salah satu peninggalan penting dari masa pemerintahannya adalah Candi Jawi di Prigen, Jawa Timur. Candi ini mencerminkan perpaduan arsitektur dan kepercayaan Hindu-Buddha. Bahkan, setelah wafatnya, Kertanegara dianggap sebagai titisan Buddha dan dewa Siwa, yang menunjukkan betapa besar pengaruh religius yang ia miliki.

Keruntuhan Singasari dan Warisan Kertanegara

Sayangnya, visi besar Kertanegara tidak bisa ia lanjutkan karena pada tahun 1292, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang dari Kediri. Saat sebagian besar pasukan Singasari masih berada di luar Jawa, Jayakatwang melancarkan serangan mendadak ke ibu kota dan membunuh Kertanegara.

Meski Singasari runtuh, warisan politik dan ekspansi yang ditinggalkan oleh Kertanegara tidak sia-sia. Justru, melalui menantunya – Raden Wijaya – cita-cita penyatuan Nusantara diteruskan melalui berdirinya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.

Ekspedisi Pamalayu dan hubungan diplomatik yang dibina Kertanegara menjadi fondasi penting dalam pembentukan imperium Majapahit. Oleh karena itu, Kertanegara layak dikenang sebagai pemimpin transformatif dan visioner, yang merintis jalan bagi penyatuan Nusantara.

Baca juga: Dampak Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) terhadap Pertanian Indonesia

Kertanegara dalam Catatan Sejarah

Nama Kertanegara banyak disebut dalam sumber-sumber sejarah seperti Pararaton dan Negarakertagama. Dalam Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, Kertanegara disebut sebagai tokoh penting yang memberikan arah pada kekuasaan Majapahit.

Selain itu, catatan dari Tiongkok juga mengungkap bagaimana utusan Dinasti Yuan merasa terhina atas perlakuan Kertanegara, yang menunjukkan betapa kuatnya posisi diplomatik Singasari saat itu.

Penutup

Raja Kertanegara adalah contoh pemimpin Nusantara yang memiliki visi melampaui zamannya. Ia tidak hanya memikirkan kestabilan dalam negeri, tetapi juga bagaimana Singasari dapat menjadi kekuatan dominan di kawasan Asia Tenggara. Dengan menggabungkan kekuatan militer, diplomasi, dan reformasi budaya, ia membuka jalan bagi kelahiran kerajaan besar selanjutnya, Majapahit.

Warisan Kertanegara masih dapat dirasakan dalam narasi besar sejarah Indonesia, yaitu upaya penyatuan wilayah kepulauan yang sangat luas dan beragam.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Siapakah Raja Kertanegara?
Raja Kertanegara adalah raja terakhir Kerajaan Singasari yang memerintah dari tahun 1268 hingga 1292 M. Ia dikenal sebagai pemimpin visioner yang berusaha menyatukan Nusantara.

2. Apa itu Ekspedisi Pamalayu?
Ekspedisi Pamalayu adalah ekspedisi militer yang diluncurkan oleh Kertanegara ke Sumatra untuk memperluas pengaruh Singasari dan melemahkan kekuasaan Sriwijaya.

3. Mengapa Kertanegara menolak tunduk pada Mongol?
Kertanegara menolak permintaan Kubilai Khan untuk tunduk dan membayar upeti karena ia tidak ingin kekuasaan Singasari berada di bawah kekuasaan asing. Ia bahkan menghina utusan Mongol.

4. Apa warisan terpenting Kertanegara bagi Nusantara?
Warisan terpentingnya adalah visi penyatuan Nusantara dan langkah-langkah diplomatik serta militer yang menjadi fondasi Kerajaan Majapahit.

5. Apa yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singasari?
Runtuhnya Singasari disebabkan oleh serangan mendadak dari Jayakatwang dari Kediri pada saat sebagian besar pasukan Singasari berada di luar Jawa.


Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.