Kerajaan Pajajaran, yang dikenal sebagai simbol kejayaan Sunda di tanah Jawa Barat, mengalami masa keemasan di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Namun, seiring berjalannya waktu, kerajaan besar ini mengalami keruntuhan pada akhir abad ke-16. Artikel ini akan mengulas secara mendalam penyebab keruntuhan Kerajaan Pajajaran serta dampaknya terhadap masyarakat dan kebudayaan Sunda.
A. Sekilas Tentang Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran berpusat di Pakuan (kini Bogor) dan merupakan penerus dari Kerajaan Sunda-Galuh. Pada masa kejayaannya, Pajajaran memiliki wilayah kekuasaan yang luas, meliputi sebagian besar wilayah Jawa Barat, dan menjadi pusat peradaban Hindu-Sunda.
Kekuatan militer, stabilitas politik, dan kemakmuran ekonomi menjadi ciri khas kerajaan ini. Namun, pada abad ke-16, kekuasaan Pajajaran mulai mengalami kemunduran hingga akhirnya runtuh akibat berbagai faktor internal dan eksternal.
B. Penyebab Keruntuhan Kerajaan Pajajaran
Keruntuhan Kerajaan Pajajaran tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor:
1. Serangan dari Kesultanan Banten
Faktor utama keruntuhan Pajajaran adalah agresi militer dari Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf pada tahun 1579. Serangan ini berhasil merebut ibu kota Pakuan dan menghancurkan pusat kekuasaan kerajaan.
Kesultanan Banten memandang Pajajaran sebagai penghalang dalam ekspansi Islam di wilayah barat Pulau Jawa. Dengan semangat jihad dan dukungan rakyat Banten yang telah memeluk Islam, penyerangan ke Pajajaran berhasil dilaksanakan secara sistematis dan terencana.
2. Penyebaran Islam dan Melemahnya Dukungan Rakyat
Pada abad ke-15 dan 16, Islam berkembang pesat di wilayah pesisir Jawa, termasuk di wilayah kekuasaan Pajajaran. Banyak masyarakat, terutama di wilayah pantai utara seperti Cirebon dan Banten, mulai memeluk Islam dan tidak lagi setia kepada kerajaan Hindu.
Perubahan agama ini menyebabkan pergeseran loyalitas rakyat dari kerajaan Hindu (Pajajaran) ke kesultanan-kesultanan Islam. Akibatnya, kekuatan militer dan politik Pajajaran semakin melemah dari dalam.
3. Isolasi Politik dan Geografis
Letak Pajajaran yang berada di pedalaman (Pakuan) menjadikan kerajaan ini relatif terisolasi dari perdagangan internasional yang semakin ramai di pelabuhan-pelabuhan pesisir.
Sementara itu, kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Cirebon, dan Banten membangun kekuatan ekonomi melalui pelabuhan-pelabuhan strategis. Pajajaran menjadi tertinggal dalam dinamika ekonomi dan politik regional.
4. Konflik Internal dan Melemahnya Kepemimpinan
Setelah wafatnya raja besar seperti Sri Baduga Maharaja, penerusnya tidak mampu mempertahankan stabilitas politik dan kekuatan militer kerajaan. Terjadi perebutan kekuasaan dan konflik internal yang melemahkan struktur pemerintahan.
Di sisi lain, tidak adanya aliansi politik yang kuat dengan kerajaan-kerajaan sekitarnya membuat Pajajaran berdiri sendiri menghadapi ancaman dari luar.
C. Proses Keruntuhan: Penyerangan dan Kehancuran Pakuan
Puncak dari keruntuhan Kerajaan Pajajaran terjadi pada tahun 1579 ketika pasukan Kesultanan Banten menyerang dan menghancurkan ibu kota Pakuan. Serangan tersebut dikenal sebagai “Serangan Maulana Yusuf.”
Pusat pemerintahan dihancurkan, istana raja dibakar, dan simbol-simbol kekuasaan Hindu dihapuskan. Sejak saat itu, kerajaan tidak pernah bangkit kembali dan dianggap telah berakhir.
Beberapa tokoh kerajaan yang selamat melarikan diri ke wilayah pegunungan atau menyebar ke daerah lain, namun tidak berhasil membentuk pemerintahan baru.
D. Dampak Keruntuhan Kerajaan Pajajaran
Keruntuhan Pajajaran meninggalkan dampak besar, baik secara politik, sosial, maupun budaya bagi masyarakat Sunda dan Nusantara secara umum.
1. Berakhirnya Kekuasaan Hindu di Tatar Sunda
Setelah runtuhnya Pajajaran, tidak ada lagi kerajaan besar Hindu yang berkuasa di wilayah Jawa Barat. Wilayah ini secara bertahap masuk ke dalam kekuasaan Islam, terutama Kesultanan Banten dan Cirebon.
2. Islamisasi Wilayah Sunda
Dengan hancurnya Pajajaran, proses Islamisasi di tanah Sunda berlangsung lebih cepat dan luas. Banyak rakyat Sunda yang akhirnya memeluk Islam, baik karena pengaruh dakwah maupun karena perpindahan kekuasaan politik.
3. Hilangnya Pusat Kebudayaan Sunda Lama
Keruntuhan Pakuan sebagai pusat budaya dan pemerintahan menyebabkan hilangnya banyak warisan kebudayaan Sunda lama. Naskah-naskah kuno, peninggalan arsitektur, dan sistem pemerintahan tradisional Hindu-Sunda mulai tergantikan oleh sistem Islam.
Namun demikian, sebagian nilai-nilai budaya Sunda tetap hidup dan diwariskan secara turun-temurun, seperti dalam seni tradisi, bahasa, dan adat istiadat.
4. Munculnya Mitologi dan Legenda
Keruntuhan Pajajaran juga menumbuhkan berbagai mitos dan legenda yang hidup dalam masyarakat Sunda, salah satunya adalah legenda Prabu Siliwangi yang dikisahkan menghilang secara gaib dan tidak wafat.
Legenda ini menggambarkan kerinduan dan kebanggaan masyarakat terhadap kejayaan masa lalu, sekaligus sebagai simbol identitas budaya.
Baca juga: Warisan Ekonomi Kolonial: Bagaimana Sistem Monopoli Belanda Membentuk Perekonomian Indonesia?
E. Upaya Pelestarian Warisan Pajajaran
Meskipun kerajaan telah runtuh secara politik, berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan warisan sejarah dan kebudayaan Pajajaran:
- Penggalian arkeologis di kawasan Batu Tulis, Bogor.
- Pelestarian naskah-naskah kuno seperti Carita Parahyangan dan Sanghyang Siksakanda ng Karesian.
- Pengajaran sejarah Sunda dalam kurikulum pendidikan.
- Pengembangan budaya Sunda dalam bentuk seni tari, musik, dan upacara adat.
Kesimpulan
Kerajaan Pajajaran merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara yang mengalami keruntuhan akibat tekanan militer dari Kesultanan Banten, melemahnya dukungan rakyat karena Islamisasi, serta konflik internal dan isolasi politik. Dampak dari keruntuhan ini sangat besar bagi perubahan struktur sosial, politik, dan agama di wilayah Jawa Barat.
Meskipun secara politik telah punah, Kerajaan Pajajaran tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat Sunda melalui budaya, legenda, dan warisan sejarah yang masih dilestarikan hingga kini.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa penyebab utama keruntuhan Kerajaan Pajajaran?
Penyebab utama adalah serangan Kesultanan Banten pada tahun 1579, disertai melemahnya kekuatan internal kerajaan dan berkembangnya Islam yang mengurangi loyalitas rakyat.
2. Siapa yang memimpin serangan ke Kerajaan Pajajaran?
Penyerangan dipimpin oleh Maulana Yusuf, sultan dari Kesultanan Banten.
3. Apa dampak keruntuhan Pajajaran terhadap masyarakat Sunda?
Dampaknya antara lain: berakhirnya kekuasaan Hindu, percepatan Islamisasi, hilangnya pusat budaya Sunda lama, dan munculnya legenda-legenda yang diwariskan hingga kini.
4. Apakah Prabu Siliwangi wafat saat kerajaan runtuh?
Tidak, menurut legenda, Prabu Siliwangi telah lebih dahulu “menghilang secara gaib” dan tidak mengalami langsung kehancuran Pajajaran. Ia menjadi sosok mistis yang dihormati masyarakat Sunda.
5. Apakah ada peninggalan fisik dari Kerajaan Pajajaran yang masih bisa dilihat?
Beberapa peninggalan seperti Prasasti Batu Tulis di Bogor dan naskah-naskah kuno Sunda masih dapat ditemukan dan menjadi objek penelitian sejarah.
Referensi
- Ekadjati, Edi S. (1995). Kebudayaan Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.
- Pigeaud, Th. G. Th. (1960). Java in the 14th Century. The Hague: Martinus Nijhoff.
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id
- https://arkeologijabar.kemdikbud.go.id