Pada akhir Agustus 2025, tepatnya mulai tanggal 28–30 Agustus, kawasan Mako Brimob Kwitang di Jakarta Pusat menjadi sorotan publik nasional. Demonstrasi yang bermula dari insiden tragis seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan yang tewas dilindas mobil rantis Brimob, mendatangkan gelombang massa yang memprotes aksi represif aparat dan menuntut keadilan. Laporan-laporan menyebut kericuhan di Mako Brimob Kwitang terus berlangsung hingga malam, diselingi berbagai usaha diplomasi, keamanan, dan aksi lanjutan dari massa.
1. Awal Insiden: Tewasnya Affan Kurniawan
Pada 28 Agustus 2025, sekitar area Kompleks MPR/DPR, terjadi insiden tragis: Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) berusia 21 tahun, tewas setelah dilindas mobil taktis (rantis) Brimob. Video yang beredar menunjukkan kendaraan berhenti setelah menabrak Affan, namun kemudian “melanjutkan perjalanan,” menyebabkan kematian Affan. Setelah itu, massa mengepung markas Brimob di Kwitang sebagai bentuk protes atas kejadian ini.
2. Gelombang Demonstrasi dan Negosiasi Awal
Keesokan harinya, 29 Agustus 2025, puluhan hingga ratusan massa berkumpul di sekitar Mako Brimob Kwitang. Mereka terdiri dari mahasiswa, pengemudi ojol, dan masyarakat umum. Beberapa pihak seperti Brigjen TNI Muhammad Nas dan Kompol Anton Asar turun langsung untuk berdialog dengan perwakilan massa. Permintaan mereka: agar massa mundur secara tertib dan menyalurkan aspirasi melalui jalur resmi. Akhirnya massa merasa cukup dengan negosiasi dan mundur ke arah jalan Flyover Senen.
3. Demo Kembali Memanas: Gas Air Mata dan Petasan
Pada 30 Agustus 2025, situasi kembali memanas. Massa kembali berkumpul siang itu dekat Mako Brimob, hingga malam hari. Awalnya mereka menyalakan petasan, lalu bergerak ke arah markas Brimob, tidak mengindahkan imbauan aparat yang berjaga. Sebagai tanggapan, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Tembakan dilakukan sekitar pukul 18.28 WIB, menyulut kepanikan massa yang berhamburan ke arah Senen dan RSPAD Gatot Subroto. Beberapa pengunjuk rasa mengalami sesak dan wajah teriritasi, dibantu oleh rekan-rekannya yang menyiramkan air. Hingga pukul 18.59 WIB, tembakan gas air mata masih terdengar.
4. Kondisi Pasca Demo dan Keamanan di Area
Pada 31 Agustus 2025, pantauan menunjukkan situasi sudah lebih kondusif. Menurut Kompas.com, kerumunan sudah bubar pagi hari, meskipun aparat masih berjaga. Namun laporan lain menyebut malam sebelumnya sempat terjadi pemadaman listrik di sekitar Kwitang, meningkatkan ketegangan dan menambah kesan menakutkan saat bentrokan.
5. Respon Aparat dan Dampak Sosial-Ekonomi
Penegakan keamanan ditingkatkan. TNI—khususnya Kostrad dan Marinir—dikerahkan bersama Brimob untuk menjaga keamanan area. Demonstrasi ini turut memengaruhi operasional transportasi publik, seperti pembatasan layanan TransJakarta dan MRT Jakarta. Selain itu, beberapa pusat perbelanjaan di dekat Kwitang, seperti Atrium Senen, ditutup sementara karena alasan keamanan.
6. Reaksi Publik, Media, dan Pemerintah
Peristiwa ini memancing perhatian luas dari media dan masyarakat. Banyak pihak menuntut transparansi atas kasus Affan Kurniawan, termasuk penyidikan terhadap anggota Brimob yang bertanggung jawab. Pemerintah dan kepolisian merespons dengan melakukan pemeriksaan terhadap tujuh anggota Brimob yang terlibat. Solidaritas pun datang dari berbagai elemen masyarakat—mahasiswa, ojol, hingga organisasi kemanusiaan yang siap memberi bantuan medis.
7. Kesimpulan
kericuhan di Mako Brimob Kwitang pada 28–30 Agustus 2025 merupakan titik puncak kemarahan publik terhadap kekerasan aparat dan tuntutan keadilan. Terjadi eskalasi dari insiden memilukan hingga konfrontasi yang memicu gas air mata dan aksi desakan massa. Kapasitas dialog terbukti membantu meredakan, namun situasi malam yang mencekam menandai perlunya evaluasi pemulihan keamanan dan prosedur pengamanan publik. Isu keadilan dan pemeriksaan aparat tetap menjadi sorotan utama publik dan media.
Baca juga: Presiden Prabowo Sebagai Inspektur Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apa pemicu utama demonstrasi di Mako Brimob Kwitang?
Pemicu utama adalah kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol, yang dilindas oleh mobil taktis Brimob pada 28 Agustus 2025 saat demo di dekat komplek DPR/MPR. - Kapan demo terjadi dan bagaimana kronologinya?
- 28 Agustus: Insiden Affan.
- 29 Agustus: Massa demo, terjadi dialog dan massa mundur.
- 30 Agustus: Demo kembali, sempat bentrok dan terjadi tembakan gas air mata.
- 31 Agustus: Situasi mulai kondusif.
- 28 Agustus: Insiden Affan.
- Bagaimana reaksi aparat keamanan?
TNI, termasuk Kostrad dan Marinir, dikerahkan bersama Brimob. Dialog dilakukan untuk meredam massa, namun saat memanas, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan. - Apa dampaknya terhadap transportasi dan bisnis lokal?
Layanan TransJakarta ditunda, MRT Jakarta beroperasi terbatas. Beberapa pusat perbelanjaan seperti Atrium Senen ditutup sementara demi keamanan. - Apakah ada pemeriksaan terhadap anggota Brimob?
Ya. Tujuh anggota Brimob yang terlibat dalam insiden dengan Affan Kurniawan diamankan untuk diperiksa. - Apakah situasi akhirnya aman?
Pada pagi 31 Agustus, situasi sudah ramai terkendali, meski aparat masih bersiaga. Namun malam sebelumnya ada laporan pemadaman listrik yang memperkeruh suasana malam demo.
Referensi
- Artikel VOI – Demonstran mundur setelah dialog dengan TNI dan Brimob
- detik.com – Kronologi kericuhan, petasan, dan gas air mata
- Kompas.com – Situasi kondusif pada 31 Agustus
- Wikipedia – Laporan tentang gelombang demo & dampaknya kala Agustus 2025
- Wikipedia – Insiden Affan Kurniawan → pemicu gelombang demo