Pada masa Neolitikum, manusia mulai bercocok tanam dan menghasilkan pangan lebih stabil. Agar hasil panen tidak cepat rusak dan bisa digunakan sepanjang tahun, manusia mengembangkan cara menyimpan hasil pertanian. Cara ini merupakan inovasi penting dalam membangun kehidupan yang menetap dan stabil. Bagaimana Cara Manusia Zaman Neolitikum Menyimpan Hasil Pertanian?
Penyimpanan Hasil Pertanian pada Masa Neolitikum
1. Penyimpanan di Rumah
Manusia menyimpan hasil panen di dalam rumah atau gubuk sederhana.
Contoh:
Padi atau umbi-umbian diletakkan di wadah anyaman dari bambu agar tetap kering dan terhindar dari hama.
2. Penyimpanan di Gudang Sederhana
Beberapa kelompok manusia mulai membuat gudang mini untuk menyimpan hasil pertanian dalam jumlah besar.
Contoh:
Gudang dari batu atau bambu untuk menyimpan biji-bijian agar aman dari binatang dan lembab.
3. Penggunaan Wadah Alam
- Keranjang anyaman โ untuk menampung padi, jagung, dan umbi
- Lesung dan tempayan โ untuk menyimpan hasil olahan pangan
4. Teknik Pengeringan
Hasil panen, terutama umbi dan biji-bijian, dikeringkan sebelum disimpan untuk mengurangi risiko busuk.
Contoh:
Padi dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari.
5. Penyimpanan Bawah Tanah
Manusia juga menggali lubang di tanah untuk menyimpan hasil pertanian agar terlindung dari hama dan panas.
Manfaat Penyimpanan Hasil Pertanian
- Mengurangi risiko pangan habis
- Menjamin ketersediaan makanan sepanjang tahun
- Memudahkan perdagangan atau pertukaran antar desa
- Mendukung kehidupan menetap dan stabil
Pelajaran dari Cara Menyimpan Hasil Pertanian
- Pentingnya perencanaan dan pengelolaan sumber daya
- Kreativitas dalam memanfaatkan bahan alami
- Kerja sama dalam masyarakat untuk menjaga hasil panen
Baca juga: Keberagaman Lingkungan dan Perilaku Peduli Lingkungan
