Penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung lebih dari 350 tahun meninggalkan jejak mendalam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Budaya Kolonial Belanda di Indonesia, tidak hanya dalam bidang politik dan ekonomi, kolonialisme juga membawa pengaruh besar dalam pembentukan budaya, tata kota, pendidikan, kuliner, arsitektur, hingga sistem hukum. Budaya kolonial Belanda menjadi warisan yang masih dapat kita temui hingga saat ini, baik dalam bentuk fisik maupun non-fisik.
Artikel Budaya Kolonial Belanda di Indonesia ini akan membahas secara mendalam tentang budaya kolonial Belanda di Indonesia dan bagaimana pengaruhnya masih terasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia hingga masa kini.
1. Latar Belakang Munculnya Budaya Kolonial Belanda
Budaya kolonial muncul sebagai hasil interaksi panjang antara penjajah Belanda dan masyarakat pribumi. Ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) datang pada awal abad ke-17, mereka tidak hanya membawa kekuatan militer dan perdagangan, tetapi juga sistem nilai, gaya hidup, serta struktur sosial yang berbeda dari masyarakat Nusantara.
Proses kolonialisasi secara perlahan membentuk masyarakat kolonial yang hierarkis, di mana orang Eropa menempati posisi paling atas, disusul oleh keturunan campuran (Indo), Timur Asing (Tionghoa dan Arab), dan masyarakat pribumi. Sistem ini memengaruhi cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal berpakaian, berkomunikasi, dan berpendidikan.
2. Arsitektur dan Tata Kota Kolonial
Salah satu warisan kolonial yang paling mudah dikenali adalah gaya arsitektur Belanda. Banyak kota di Indonesia yang masih mempertahankan bangunan bergaya kolonial, seperti Batavia (kini Jakarta), Bandung, Semarang, dan Surabaya.
Ciri khas bangunan kolonial Belanda antara lain:
- Dinding tebal dan tinggi untuk menjaga suhu tetap sejuk.
- Jendela besar dan ventilasi lebar.
- Atap genteng lebar untuk melindungi dari hujan tropis.
- Taman depan rumah sebagai simbol status sosial.
Beberapa bangunan ikonik yang merupakan warisan kolonial antara lain Gedung Sate di Bandung, Lawang Sewu di Semarang, dan Museum Fatahillah di Jakarta. Selain itu, tata kota kolonial cenderung berorientasi pada segregasi sosial, memisahkan kawasan Eropa, Timur Asing, dan pribumi.
3. Pengaruh dalam Bidang Pendidikan
Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal bergaya Barat di Indonesia. Sekolah-sekolah yang didirikan pada masa kolonial memiliki sistem yang diskriminatif, di mana hanya anak-anak Eropa dan bangsawan pribumi yang dapat mengakses pendidikan tinggi.
Jenis sekolah pada masa itu antara lain:
- ELS (Europeesche Lagere School): Untuk anak-anak Eropa.
- HIS (Hollandsch-Inlandsche School): Untuk anak-anak pribumi kelas atas.
- MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs): Setara SMP.
- AMS (Algemeene Middelbare School): Setara SMA.
- STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen): Sekolah kedokteran untuk pribumi.
Pendidikan ini mencetak tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Soetomo, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara, yang kemudian menjadi pelopor perjuangan kemerdekaan Indonesia.
4. Gaya Hidup dan Kesenian
Budaya kolonial juga memengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia, terutama di kalangan elit dan bangsawan. Dalam kehidupan sosial, mulai dikenal pesta dansa, musik klasik Eropa, permainan bridge, serta konsumsi roti, keju, dan kopi.
Dalam bidang kesenian, muncul bentuk seni baru seperti lukisan bergaya naturalis, pertunjukan musik orkestra, dan pengaruh dalam pakaian seperti penggunaan kebaya encim atau baju kurung dengan sentuhan Eropa. Budaya ini melahirkan komunitas Indo-Belanda dengan identitas kultural yang unik.
5. Pengaruh dalam Bidang Hukum dan Administrasi
Salah satu warisan penting kolonial Belanda adalah sistem hukum yang masih digunakan hingga kini. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merupakan adaptasi dari hukum Belanda.
Selain itu, sistem administrasi pemerintahan kolonial juga menjadi dasar birokrasi modern Indonesia, meski kini telah mengalami banyak penyesuaian.
6. Bahasa Belanda dan Kosakata Serapan
Selama masa kolonial, bahasa Belanda menjadi bahasa resmi administrasi dan pendidikan. Meskipun saat ini tidak lagi digunakan secara luas, pengaruhnya masih terasa dalam bahasa Indonesia, terutama dalam istilah teknis dan birokrasi.
Beberapa contoh kata serapan dari bahasa Belanda:
- Polisi (politie)
- Kantor (kantoor)
- Sepatu (schoen)
- Meja (tafel)
- Jendela (raam)
- Resleting (ritssluiting)
Bahasa Belanda juga digunakan oleh para intelektual pribumi dalam menulis surat kabar, buku, dan dokumen hukum.
7. Kuliner Peranakan Kolonial
Pengaruh Belanda dalam dunia kuliner melahirkan masakan peranakan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Beberapa makanan khas yang dipengaruhi budaya kolonial antara lain:
- Roti gambang
- Klappertaart (kue kelapa asal Manado)
- Semur daging (dari kata โsmoorโ)
- Bistik jawa (versi lokal dari beef steak)
- Risoles, kroket, dan pastel
Tidak hanya itu, kebiasaan minum teh dan kopi pada sore hari atau yang dikenal dengan istilah “ngopi sore” juga merupakan warisan budaya kolonial.
Baca juga: Pelabuhan-Pelabuhan Kolonial: Bagaimana Belanda Mengembangkan Infrastruktur Maritim di Nusantara?
