Pada masa praaksara, manusia hidup sangat bergantung pada alam. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap berbagai bencana alam, seperti banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, kekeringan, dan badai. Tanpa teknologi modern, manusia praaksara mengandalkan pengamatan alam, pengalaman, serta kerja sama kelompok untuk menghadapi dan bertahan dari bencana alam. Bagaimana Manusia Zaman Praaksara Menghadapi Bencana Alam?
Jenis Bencana Alam pada Masa Praaksara
Beberapa bencana alam yang sering dihadapi manusia praaksara antara lain:
- Banjir akibat hujan lebat
- Letusan gunung berapi
- Gempa bumi
- Kekeringan panjang
- Tanah longsor
- Badai dan angin kencang
Cara Manusia Zaman Praaksara Menghadapi Bencana Alam
1. Memilih Tempat Tinggal yang Aman
Manusia praaksara belajar dari pengalaman dalam menentukan lokasi permukiman.
Contoh:
- Tinggal di dataran tinggi untuk menghindari banjir
- Menjauh dari daerah rawan longsor
- Menggunakan gua atau ceruk batu sebagai tempat berlindung
2. Berpindah Tempat (Nomaden)
Saat lingkungan tidak lagi aman, manusia praaksara akan berpindah tempat.
Contoh:
- Meninggalkan daerah yang sering banjir
- Berpindah saat terjadi kekeringan panjang
3. Mengamati Tanda-Tanda Alam
Manusia praaksara peka terhadap perubahan alam.
Contoh tanda alam:
- Perilaku hewan yang berubah
- Asap atau getaran dari gunung berapi
- Perubahan cuaca ekstrem
4. Membuat Alat dan Tempat Perlindungan Sederhana
Untuk menghadapi cuaca ekstrem, mereka membuat perlindungan dari bahan alam.
Contoh:
- Rumah panggung sederhana
- Tempat berteduh dari daun dan kayu
- Api unggun untuk menghangatkan tubuh
5. Kerja Sama dan Gotong Royong
Menghadapi bencana alam membutuhkan kekuatan kelompok.
Contoh:
- Saling membantu saat banjir
- Berbagi makanan saat paceklik
- Melindungi anggota kelompok yang lemah
Baca juga: Contoh Keberagaman Lingkungan Sekitar Rumah dan Sekolah
