Kerajaan Pajajaran, yang berdiri pada abad ke-14 dan berpusat di Pakuan (kini Bogor, Jawa Barat), merupakan salah satu kerajaan besar di Tatar Sunda. Hubungan Kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan-Kerajaan Lain di Nusantara, selain dikenal karena kekuatan pemerintahannya dan perkembangan budayanya yang pesat, Pajajaran juga memainkan peran penting dalam jaringan politik dan diplomatik di Nusantara.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana Kerajaan Pajajaran membangun hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, baik melalui perdagangan, aliansi politik, maupun peperangan.
Latar Belakang Politik dan Geopolitik Pajajaran
Kerajaan Pajajaran berdiri di wilayah yang sangat strategis, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Posisi ini menjadikannya sebagai pintu masuk perdagangan internasional di Selat Sunda, yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Jawa. Sebagai akibatnya, Pajajaran terlibat dalam berbagai hubungan eksternal, baik secara politik maupun ekonomi, dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti:
- Kerajaan Majapahit
- Kerajaan Demak
- Kesultanan Banten
- Kerajaan Cirebon
- Kerajaan Bali dan kerajaan-kerajaan di Sumatera
Hubungan Pajajaran dengan Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit, yang berkuasa di Jawa Timur sejak abad ke-13, merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh di Nusantara. Awalnya, hubungan antara Pajajaran dan Majapahit cukup erat.
Aliansi Awal
Pada masa awal berdirinya Pajajaran, hubungan antara kedua kerajaan berlangsung harmonis. Ini terlihat dari tidak adanya catatan konflik besar antara keduanya. Bahkan, dalam beberapa catatan, terdapat upaya untuk menjalin hubungan pernikahan antar bangsawan guna mempererat aliansi.
Ketegangan Politik
Namun, seiring melemahnya kekuasaan Majapahit pada abad ke-15, Pajajaran mulai memperkuat kekuasaan sendiri dan mengambil alih beberapa wilayah di perbatasan barat yang dulunya berada di bawah pengaruh Majapahit.
Hubungan dengan Kerajaan Islam: Demak, Banten, dan Cirebon
Seiring datangnya pengaruh Islam ke Nusantara, muncul kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Cirebon, dan Banten yang berkonflik dengan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, termasuk Pajajaran.
Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah di Jawa Tengah dan menjadi pusat penyebaran Islam. Hubungannya dengan Pajajaran bersifat kompetitif. Meski tidak ada catatan perang besar, perbedaan ideologi dan agama menjadi dasar ketegangan antara keduanya.
Kerajaan Cirebon
Cirebon awalnya adalah bagian dari wilayah kekuasaan Pajajaran. Namun, pada abad ke-15, Cirebon melepaskan diri dan mendeklarasikan sebagai kesultanan Islam di bawah Sunan Gunung Jati.
Pemisahan ini menciptakan konflik antara Pajajaran dan Cirebon, terutama karena Pajajaran melihat Cirebon sebagai wilayah yang membangkang. Hubungan antara keduanya memburuk dan beberapa pertempuran kecil pun terjadi.
Kesultanan Banten
Kesultanan Banten adalah musuh utama Pajajaran di masa akhir kerajaannya. Banten, yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin (putra Sunan Gunung Jati), menyerang Pajajaran dan merebut wilayah pesisir Sunda.
Pada tahun 1579, serangan Kesultanan Banten yang dibantu oleh Cirebon berhasil menaklukkan Pakuan Pajajaran. Kejatuhan ibu kota ini menandai berakhirnya Kerajaan Pajajaran secara de facto.
Hubungan dengan Kerajaan di Sumatera dan Kalimantan
Pajajaran juga menjalin kontak perdagangan dan kebudayaan dengan kerajaan-kerajaan di luar Jawa, seperti:
Kerajaan Sriwijaya (masa sebelumnya) dan Kerajaan Pagaruyung
Meski Sriwijaya telah melemah saat Pajajaran berjaya, hubungan dagang dan kebudayaan antara masyarakat Sunda dan Sumatera tetap berjalan melalui jalur laut. Barang-barang seperti emas, lada, dan kain menjadi komoditas utama.
Kerajaan di Kalimantan
Ada dugaan bahwa Pajajaran memiliki hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di Kalimantan, seperti Kutai dan Banjar, terutama dalam perdagangan kayu, damar, dan hasil hutan lainnya.
Hubungan dengan Kerajaan Bali
Kerajaan Bali dan Pajajaran memiliki kemiripan budaya karena keduanya menganut agama Hindu. Terdapat beberapa catatan yang menyebut bahwa terjadi pertukaran budaya dan kunjungan antara resi dan brahmana dari kedua wilayah tersebut.
Hal ini terlihat dari kemiripan upacara keagamaan dan penggunaan aksara serta kosakata yang serupa antara bahasa Sunda Kuno dan Bali Kuno.
Baca juga: Pengaruh Arsitektur Kolonial Belanda di Kota-Kota Besar Indonesia
Diplomasi dan Perdagangan
Selain jalur kekuasaan dan militer, hubungan Pajajaran dengan kerajaan lain juga terjalin lewat jalur diplomasi dan perdagangan.
Pelabuhan Penting
Pelabuhan di Banten dan Sunda Kalapa (sekarang Jakarta) adalah pusat perdagangan penting. Melalui pelabuhan ini, Pajajaran menjalin hubungan dengan pedagang dari:
- Kerajaan-kerajaan di Nusantara
- India
- Tiongkok
- Timur Tengah
Komoditas Perdagangan
- Lada (Sunda dikenal sebagai penghasil lada utama)
- Beras
- Kayu manis dan rempah-rempah lainnya
- Kain tenun dan kerajinan lokal
Peran Pajajaran dalam Dinamika Politik Nusantara
Kerajaan Pajajaran memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan politik antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam. Meskipun pada akhirnya kalah oleh ekspansi kerajaan Islam, Pajajaran memberikan perlawanan yang signifikan dan sempat menjadi pusat budaya dan politik di wilayah barat Nusantara.
Warisan dari Hubungan Antarkerajaan
Hubungan Pajajaran dengan kerajaan lain meninggalkan berbagai warisan sejarah yang bisa ditelusuri hingga kini:
- Sastra: Kisah-kisah dalam naskah Sunda Kuno seperti Carita Parahyangan dan Bujangga Manik memuat informasi penting tentang hubungan antarkerajaan.
- Artefak dan situs: Prasasti dan reruntuhan yang ditemukan di Jawa Barat dan Banten mencerminkan interaksi dan pengaruh budaya silang.
- Tradisi lisan dan adat istiadat: Banyak cerita rakyat Sunda yang mencerminkan konflik dan kerja sama dengan kerajaan lain.
Kesimpulan
Kerajaan Pajajaran bukanlah entitas yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari jaringan kerajaan-kerajaan Nusantara yang saling memengaruhi dalam bidang politik, ekonomi, agama, dan budaya. Hubungannya dengan Majapahit, Demak, Cirebon, Banten, serta kerajaan luar Jawa menunjukkan betapa pentingnya peran Pajajaran dalam percaturan sejarah Indonesia.
Meskipun akhirnya runtuh karena tekanan dari kerajaan-kerajaan Islam, pengaruh Kerajaan Pajajaran masih terasa hingga kini melalui warisan budaya dan nilai-nilai masyarakat Sunda.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah hubungan Kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan Majapahit baik?
Pada awalnya ya, tetapi menjelang keruntuhan Majapahit, hubungan mereka menjadi renggang karena perebutan pengaruh di wilayah barat Jawa.
2. Siapa yang menjadi musuh utama Pajajaran?
Musuh utama Pajajaran di masa akhir adalah Kesultanan Banten yang akhirnya menaklukkan ibu kota Pajajaran pada tahun 1579.
3. Apakah Pajajaran pernah menjalin hubungan dengan kerajaan di luar Jawa?
Ya, Pajajaran memiliki hubungan dagang dengan kerajaan di Sumatera, Kalimantan, dan Bali.
4. Apa komoditas utama Pajajaran dalam perdagangan?
Lada, beras, kayu manis, dan hasil bumi lainnya.
5. Bagaimana hubungan Pajajaran dengan Cirebon?
Awalnya Cirebon adalah bagian dari Pajajaran, namun kemudian melepaskan diri dan menjadi musuh ketika berubah menjadi kesultanan Islam.
Referensi
- Ekadjati, Edi S. (1995). Kebudayaan Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.
- Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.
- Ricklefs, M.C. (2001). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.
- Situs Kebudayaan Kemendikbud: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id
- Balai Arkeologi Jawa Barat: https://arkeologijabar.kemdikbud.go.id