Candi Borobudur merupakan mahakarya kebudayaan yang menjadi simbol kejayaan peradaban masa lalu di Indonesia. Terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, warisan candi Borobudur ini tidak hanya menjadi situs wisata bersejarah dan spiritual, tetapi juga menjadi bukti kuat akan kemegahan Kerajaan Syailendra yang pernah berkuasa di Pulau Jawa pada abad ke-8 hingga 9 Masehi.
Dibangun sebagai monumen agama Buddha Mahayana, Borobudur menunjukkan keunggulan arsitektur, spiritualitas, dan keilmuan pada masanya. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang warisan Candi Borobudur sebagai jejak kejayaan Kerajaan Syailendra yang masih bertahan hingga kini.
Kerajaan Syailendra: Dinasti Buddha yang Berkuasa di Jawa
Kerajaan Syailendra merupakan dinasti yang sangat berpengaruh di Nusantara pada abad ke-8 hingga awal abad ke-9. Mereka dikenal sebagai penganut agama Buddha Mahayana dan berpusat di wilayah Kedu, Jawa Tengah. Dalam sejarah, dinasti ini hidup berdampingan dengan Kerajaan Mataram Kuno yang mayoritas memeluk Hindu.
Syailendra berasal dari kata Sanskerta yang berarti โraja gunungโ (syaila = gunung, indra = raja). Mereka dikenal sebagai pelindung agama dan pembangun candi-candi besar. Selama masa kekuasaannya, dinasti ini membangun banyak monumen keagamaan, namun Candi Borobudur menjadi karya terbesar dan paling dikenal.
Sejarah dan Proses Pembangunan Candi Borobudur
Pembangunan Candi Borobudur diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra, sekitar tahun 775โ825 M. Candi ini dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh lembah subur dan perbukitan Menoreh.
Pembangunan candi memakan waktu sekitar 75 tahun dan selesai pada awal abad ke-9. Arsiteknya diyakini bernama Gunadharma. Candi Borobudur terdiri dari 9 tingkat: 6 tingkat berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat berbentuk lingkaran, dengan satu stupa besar di puncaknya. Struktur ini mencerminkan konsep kosmologi Buddha tentang perjalanan spiritual manusia dari dunia nafsu menuju pencerahan.
Candi dibangun menggunakan sekitar dua juta batu andesit tanpa menggunakan semen. Batu-batu ini dipahat dan disusun secara presisi sehingga membentuk struktur yang kokoh hingga kini, meskipun telah dilanda gempa dan letusan gunung berapi selama berabad-abad.
Makna Religius dan Filosofis Borobudur
Candi Borobudur tidak hanya memiliki nilai arsitektural tinggi, tetapi juga mengandung makna spiritual mendalam. Dalam ajaran Buddha Mahayana, struktur Borobudur menggambarkan Mandala, simbol alam semesta.
Setiap tingkat dalam candi melambangkan tahapan kehidupan:
- Kamadhatu (Dunia nafsu): Terletak di bagian dasar, menggambarkan dunia manusia yang masih terikat oleh keinginan dan hawa nafsu.
- Rupadhatu (Dunia bentuk): Terdiri dari empat tingkat tengah, menunjukkan kehidupan spiritual yang mulai melepaskan nafsu duniawi.
- Arupadhatu (Dunia tanpa bentuk): Tiga tingkat paling atas yang berbentuk melingkar, melambangkan kesempurnaan spiritual dan pencerahan.
- Stupa utama di puncak: Melambangkan Nirwana, keadaan tertinggi dalam ajaran Buddha.
Candi ini memiliki lebih dari 2.600 panel relief dan 504 arca Buddha. Relief-relief tersebut menggambarkan kisah-kisah Buddha Gautama, hukum karma, dan perjalanan menuju pencerahan. Candi Borobudur bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga semacam kitab suci batu yang dapat โdibacaโ melalui gambar dan simbol.
Bukti Kejayaan Arsitektur dan Inovasi Zaman Kuno
Borobudur adalah bukti nyata kemampuan teknik dan seni arsitektur bangsa Indonesia kuno. Keunggulan Borobudur antara lain:
- Presisi tanpa semen: Batu andesit disusun presisi tanpa menggunakan bahan perekat modern.
- Sistem drainase canggih: Lubang-lubang air dibuat untuk mengalirkan air hujan agar tidak merusak struktur.
- Konsep kosmologi: Desain candi sepenuhnya mencerminkan filosofi agama Buddha dan sistem alam semesta.
Kemegahan Borobudur juga menginspirasi banyak peneliti dunia untuk mempelajari teknologi konstruksi dan simbolisme budaya masa lampau Indonesia.
Masa Kejayaan dan Kemunduran Borobudur
Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dan putrinya, Pramodhawardhani, Borobudur menjadi pusat ziarah dan kegiatan keagamaan Buddha. Namun, seiring waktu, Dinasti Syailendra melemah dan wilayah kekuasaannya digantikan oleh dinasti baru yang lebih bercorak Hindu.
Faktor-faktor penyebab kemunduran Borobudur antara lain:
- Letusan Gunung Merapi: Menimbun Borobudur dengan abu dan menyebabkan wilayah sekitar ditinggalkan.
- Pergeseran pusat kekuasaan: Setelah Mataram Kuno berpindah ke Jawa Timur, Candi Borobudur mulai ditinggalkan.
- Masuknya Islam: Seiring dengan Islamisasi di Nusantara, peran Borobudur sebagai pusat spiritual Buddha memudar.
Selama berabad-abad, Borobudur terkubur dan terlupakan, tertutup oleh tanah dan tumbuhan.
Baca juga: Sejarah 350 Tahun Penjajahan Belanda di Indonesia: Dari Awal Kedatangan hingga Kemerdekaan
Penemuan Kembali dan Restorasi Borobudur
Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Ia mendengar kabar tentang sebuah bangunan besar di hutan Magelang, dan memerintahkan pembersihan situs tersebut.
Namun, restorasi besar-besaran baru dilakukan pada abad ke-20, terutama antara tahun 1975โ1982 atas kerja sama pemerintah Indonesia dan UNESCO. Setelah proses restorasi selesai, Candi Borobudur diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991.
Borobudur Hari Ini: Situs Wisata dan Spiritualitas Dunia
Saat ini, Borobudur menjadi ikon pariwisata Indonesia yang mendunia. Ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri mengunjungi Borobudur setiap tahunnya. Selain menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya, Borobudur juga menjadi tempat ritual Waisak yang sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia.
Pemerintah terus melakukan upaya pelestarian dengan membatasi jumlah pengunjung, mendorong riset budaya, serta memperkuat pendidikan sejarah agar generasi muda memahami pentingnya warisan ini.
Kesimpulan
Candi Borobudur adalah simbol keagungan dan kejayaan Kerajaan Syailendra yang telah memberi warisan luar biasa dalam bentuk arsitektur, seni, dan nilai-nilai spiritual. Borobudur membuktikan bahwa Indonesia pada masa lampau telah memiliki peradaban yang maju dan mendalam dalam aspek keagamaan dan kebudayaan.
Warisan ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga dunia. Oleh karena itu, pelestarian Borobudur adalah tanggung jawab bersama agar generasi masa depan tetap dapat menyaksikan jejak keagungan nenek moyang yang tertanam dalam batu-batu Borobudur.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Siapa yang membangun Candi Borobudur?
Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Syailendra pada masa pemerintahan Raja Samaratungga sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
2. Apa fungsi utama dari Candi Borobudur?
Fungsi utama Borobudur adalah sebagai tempat ibadah umat Buddha dan pusat ziarah spiritual untuk mencapai pencerahan.
3. Apa makna filosofi dari struktur Borobudur?
Struktur Borobudur menggambarkan perjalanan spiritual manusia dari dunia nafsu (Kamadhatu) menuju Nirwana melalui tingkat-tingkat spiritual (Rupadhatu dan Arupadhatu).
4. Mengapa Borobudur sempat terlupakan?
Borobudur sempat tertutup oleh abu vulkanik dan tertinggal setelah pusat pemerintahan Mataram pindah ke Jawa Timur. Ia ditemukan kembali pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Inggris.
5. Apakah Borobudur masih digunakan untuk ibadah saat ini?
Ya, Borobudur masih digunakan sebagai tempat ibadah, terutama saat perayaan Waisak yang dihadiri umat Buddha dari berbagai negara.
Referensi
- Coedรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.
- Soekmono, R. Candi: Fungsi dan Pengertiannya. Penerbit Balai Pustaka, 1988.
- UNESCO World Heritage Centre. โBorobudur Temple Compounds.โ
https://whc.unesco.org/en/list/592 - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id - https://candi.kemdikbud.go.id
