Home » Sejarah » Perkembangan Kerajaan Sriwijaya: Dari Awal Berdiri hingga Masa Kejayaan
Posted in

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya: Dari Awal Berdiri hingga Masa Kejayaan

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya: Dari Awal Berdiri hingga Masa Kejayaan (ft.istimewa)
Perkembangan Kerajaan Sriwijaya: Dari Awal Berdiri hingga Masa Kejayaan (ft.istimewa)
sekolahGHAMA

Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara. Berdiri sekitar abad ke-7 Masehi di wilayah Sumatra bagian selatan, Sriwijaya memainkan peran penting dalam perkembangan perdagangan, agama Buddha, dan hubungan diplomatik antarbangsa di kawasan Asia. Artikel Perkembangan Kerajaan Sriwijaya akan membahas secara komprehensif tentang perkembangan Kerajaan Sriwijaya dari awal berdiri hingga mencapai masa kejayaan.

Awal Berdirinya Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya diperkirakan berdiri sekitar abad ke-7 M di wilayah yang kini dikenal sebagai Palembang, Sumatra Selatan. Bukti awal keberadaan Sriwijaya dapat ditemukan dalam prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang ditemukan di tepi Sungai Tatang, Palembang. Prasasti ini mencatat perjalanan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, tokoh penting yang diyakini sebagai pendiri kerajaan.

Nama “Sriwijaya” berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti “cahaya kemenangan”. Hal ini menunjukkan aspirasi kerajaan untuk menjadi penguasa yang kuat dan cemerlang di wilayah Nusantara. Letak strategis Palembang yang berada di jalur perdagangan internasional menjadikan Sriwijaya berkembang pesat sebagai kerajaan maritim.

Struktur Pemerintahan dan Sistem Sosial

Sriwijaya dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan absolut. Raja dianggap sebagai titisan dewa dan memiliki peran sebagai pemimpin politik, militer, dan keagamaan. Di bawah raja terdapat pejabat-pejabat kerajaan, seperti mahapatih, senapati, dan dharmadikara yang membantu mengatur pemerintahan, militer, dan agama.

Struktur masyarakat Sriwijaya terbagi menjadi beberapa lapisan. Golongan bangsawan dan keluarga kerajaan menempati posisi tertinggi, diikuti oleh pedagang, pendeta Buddha, dan rakyat biasa. Aktivitas utama masyarakat Sriwijaya adalah perdagangan, pelayaran, dan pertanian.

Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim dan Perdagangan

Salah satu faktor utama kejayaan Sriwijaya adalah kemampuannya menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara, terutama Selat Malaka dan Selat Sunda. Kedua jalur ini merupakan rute penting dalam perdagangan antara Tiongkok, India, dan dunia Arab. Sriwijaya menjadi perantara penting dalam perdagangan rempah-rempah, emas, gading, kapur barus, dan komoditas lainnya.

Kerajaan ini menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan banyak negara, termasuk Dinasti Tang di Tiongkok dan kerajaan-kerajaan di India. Catatan dari biksu Tiongkok I-Tsing (Yi Jing) yang singgah di Sriwijaya pada tahun 671 M menyebutkan bahwa Sriwijaya adalah pusat pembelajaran agama Buddha yang besar dan makmur.

Peran Sriwijaya dalam Penyebaran Agama Buddha

Selain menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pembelajaran dan penyebaran agama Buddha Mahayana. Banyak biksu dari Tiongkok dan India yang datang ke Sriwijaya untuk belajar agama Buddha dan bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

I-Tsing mencatat bahwa Sriwijaya memiliki banyak biara dan guru yang ahli dalam ajaran Buddha. Kerajaan ini mendirikan lembaga pendidikan dan mendorong penerjemahan kitab-kitab suci agama Buddha. Peran Sriwijaya sebagai pusat keagamaan menjadikannya sangat dihormati di kawasan Asia Tenggara.

Ekspansi Wilayah dan Dominasi Regional

Pada masa kejayaannya (abad ke-8 hingga abad ke-10 M), Sriwijaya berhasil menguasai banyak wilayah di sekitar Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi:

  • Sumatra bagian selatan dan tengah
  • Jambi dan Riau
  • Pesisir barat Kalimantan
  • Jawa bagian barat
  • Selat Malaka dan sebagian Semenanjung Melayu
  • Beberapa bagian wilayah Filipina selatan

Melalui ekspansi militer dan kekuatan laut yang tangguh, Sriwijaya mampu mengendalikan lalu lintas perdagangan di perairan Asia Tenggara. Raja Sriwijaya bahkan dikenal mengirimkan utusan diplomatik ke Tiongkok dan India untuk memperkuat posisi geopolitiknya.

Tantangan dan Ancaman terhadap Kekuasaan Sriwijaya

Kendati Sriwijaya mencapai puncak kejayaan, kerajaan ini tidak luput dari ancaman luar. Salah satu peristiwa penting yang mengguncang Sriwijaya adalah serangan dari Raja Rajendra Chola I dari Kerajaan Chola (India Selatan) pada tahun 1025 M. Serangan ini menyebabkan beberapa pelabuhan penting Sriwijaya di Semenanjung Melayu direbut, dan melemahkan kontrol Sriwijaya atas jalur perdagangan.

Selain itu, munculnya kerajaan-kerajaan pesaing seperti Kerajaan Melayu di Jambi dan Majapahit pada abad-abad berikutnya turut mempersempit wilayah dan pengaruh Sriwijaya. Pergeseran pusat perdagangan ke arah timur juga berkontribusi pada kemunduran Sriwijaya.

Kemunduran dan Akhir Kekuasaan Sriwijaya

Secara bertahap, kekuatan Sriwijaya melemah akibat serangan luar, konflik internal, dan pergeseran rute perdagangan internasional. Pada abad ke-13, pengaruh Sriwijaya hampir sepenuhnya lenyap, dan pusat kekuasaan beralih ke kerajaan-kerajaan baru seperti Majapahit di Jawa Timur.

Namun demikian, warisan Sriwijaya tidak hilang begitu saja. Banyak peninggalan budaya, seperti prasasti, candi, dan pengaruh agama Buddha di Sumatra dan Semenanjung Melayu, menjadi bukti kejayaan masa lalu Sriwijaya. Pengaruhnya dalam membentuk identitas maritim dan jaringan perdagangan Nusantara sangat signifikan dalam sejarah Indonesia.

Kesimpulan

Perkembangan Kerajaan Sriwijaya merupakan contoh nyata dari kejayaan maritim dan kekuatan diplomasi dalam sejarah Nusantara. Dengan menguasai jalur perdagangan, menjadi pusat agama Buddha, dan membangun jaringan internasional, Sriwijaya mampu menjadi kekuatan utama di Asia Tenggara selama berabad-abad. Meskipun akhirnya mengalami kemunduran, warisan Sriwijaya tetap hidup dalam sejarah, budaya, dan kebanggaan nasional Indonesia.

Baca juga: Tiga Tujuan Bangsa Eropa Datang ke Indonesia


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Kapan Kerajaan Sriwijaya berdiri?
Sriwijaya diperkirakan berdiri sekitar abad ke-7 Masehi, dengan bukti tertulis tertua adalah Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M.

2. Siapakah pendiri Kerajaan Sriwijaya?
Pendiri Sriwijaya diyakini adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, seperti tercantum dalam Prasasti Kedukan Bukit.

3. Di mana letak pusat pemerintahan Sriwijaya?
Pusat pemerintahan Sriwijaya berada di Palembang, Sumatra Selatan.

4. Apa faktor utama kejayaan Sriwijaya?
Faktor utama adalah lokasi strategis di jalur perdagangan, kekuatan maritim, hubungan dagang internasional, dan peran sebagai pusat agama Buddha.

5. Apa yang menyebabkan Kerajaan Sriwijaya runtuh?
Faktor penyebab kemunduran meliputi serangan dari Kerajaan Chola, munculnya kerajaan-kerajaan pesaing, dan pergeseran rute perdagangan.

6. Apa peninggalan penting dari Kerajaan Sriwijaya?
Beberapa peninggalan penting antara lain Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Telaga Batu, dan pengaruh agama Buddha Mahayana di Sumatra dan Semenanjung Melayu.


Referensi

  • Coedes, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.
  • Miksic, John N. Sriwijaya: Palembang’s Maritime Heritage. National University of Singapore Press, 2010.
  • Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Palgrave Macmillan, 2001.
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, 1993.
  • Perpustakaan Nasional RI – Digital Repository
  • Kemdikbud – Cagar Budaya Sriwijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.