Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Berdiri pada tahun 1293 M dan mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit tidak hanya dikenal sebagai kekuatan politik dan militer, tetapi juga sebagai pusat penyebaran budaya dan agama Hindu-Buddha di wilayah kepulauan Indonesia. Bagaimana Peran Majapahit dalam Penyebaran Agama Hindu-Buddha di Nusantara?
Penyebaran agama Hindu-Buddha di masa Majapahit berlangsung secara damai, melalui jalur pendidikan, kebudayaan, dan kesenian. Artikel ini akan membahas bagaimana Majapahit memainkan peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai Hindu-Buddha ke berbagai wilayah Nusantara dan warisan yang ditinggalkannya hingga kini.
1. Latar Belakang Agama Hindu-Buddha di Nusantara
Sebelum munculnya Majapahit, pengaruh Hindu-Buddha telah masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan sejak awal abad pertama Masehi. Kerajaan-kerajaan awal seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan Mataram Kuno telah mengadopsi agama-agama ini.
Namun, Majapahit menjadi kerajaan pertama yang secara sistematis menyebarkan dan mengembangkan ajaran Hindu-Buddha secara luas ke berbagai penjuru Nusantara melalui pengaruh politik, budaya, dan administrasi negara.
2. Struktur Keagamaan di Majapahit
Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang menjunjung tinggi toleransi agama. Dalam struktur keagamaannya, agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan. Agama Hindu, khususnya aliran Siwaisme, menjadi agama resmi kerajaan, sedangkan Buddha Mahayana dan Tantrayana juga mendapat tempat yang penting.
Tokoh-tokoh seperti Mpu Prapanca (penulis Nagarakretagama) dan Mpu Tantular (penulis Sutasoma) adalah contoh pemikir yang menggabungkan ajaran Hindu dan Buddha dalam karya sastra dan filsafat. Bahkan, semboyan nasional Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari karya Mpu Tantular yang menggambarkan persatuan dua ajaran tersebut.
3. Peran Raja dan Brahmana dalam Penyebaran Agama
Para raja Majapahit memegang peran penting dalam penyebaran agama. Mereka dianggap sebagai titisan dewa (devaraja) dan pelindung agama. Raja Hayam Wuruk, misalnya, dikenal sebagai pelindung kedua agama tersebut dan mendukung pembangunan tempat-tempat ibadah di seluruh kerajaan.
Para Brahmana dan Bhiksu memainkan peran sebagai penyebar ajaran dan nilai-nilai keagamaan. Mereka tidak hanya tinggal di pusat kerajaan, tetapi juga dikirim ke daerah-daerah kekuasaan untuk menyebarkan ajaran melalui pendidikan, upacara keagamaan, dan pembinaan masyarakat.
4. Pusat-Pusat Keagamaan dan Pendidikan
Majapahit membangun banyak tempat ibadah dan pusat pendidikan agama yang menjadi sarana penyebaran nilai-nilai Hindu-Buddha. Beberapa pusat penting adalah:
- Trowulan: Sebagai ibu kota Majapahit, Trowulan dipenuhi dengan candi, vihara, dan mandala tempat para pemuka agama mengajar.
- Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Candi Brahu: Merupakan bagian dari pusat keagamaan dan tempat upacara penting kerajaan.
- Daerah-daerah vasal: Seperti Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi, yang juga menerima pengaruh budaya dan keagamaan dari pusat Majapahit.
5. Peran Seni dan Sastra dalam Penyebaran Agama
Majapahit menggunakan seni dan sastra sebagai alat penyebaran agama yang efektif. Kisah-kisah dalam epos Ramayana dan Mahabharata diadaptasi dalam bahasa Jawa Kuno dan dipertunjukkan dalam bentuk wayang, tari, dan teater rakyat.
Beberapa karya sastra terkenal yang mengandung ajaran Hindu-Buddha di masa Majapahit:
- Nagarakretagama oleh Mpu Prapanca: Menyebut banyak tempat suci dan candi di seluruh wilayah kekuasaan Majapahit.
- Sutasoma oleh Mpu Tantular: Mengajarkan toleransi antara umat beragama dan memuat filosofi moral yang dalam.
- Kakawin Arjunawiwaha oleh Mpu Kanwa: Menggambarkan ajaran Siwa dan kehidupan spiritual seorang kesatria.
Baca juga: Peran Politik Etis dalam Munculnya Kesadaran Nasional Indonesia
6. Penyebaran Agama ke Daerah-Daerah Nusantara
Majapahit secara aktif menyebarkan agama Hindu-Buddha ke berbagai wilayah melalui ekspansi politik dan aliansi budaya. Beberapa wilayah yang terpengaruh kuat oleh ajaran ini adalah:
a. Bali
Ketika Majapahit menguasai Bali pada abad ke-14, agama Hindu dan budaya Jawa mulai berkembang pesat di sana. Bahkan, setelah Majapahit runtuh, banyak bangsawan dan Brahmana Majapahit pindah ke Bali dan melestarikan ajaran Hindu hingga kini.
b. Lombok dan Sumbawa
Melalui ekspedisi Gajah Mada, wilayah ini masuk dalam pengaruh budaya Majapahit. Beberapa istilah dan upacara adat masih menunjukkan jejak ajaran Hindu-Buddha.
c. Kalimantan dan Sulawesi
Meskipun tidak seluruhnya menganut agama Hindu-Buddha, daerah ini mendapatkan pengaruh budaya dan seni Majapahit yang membawa unsur keagamaan dalam bentuk mitologi dan ritus tradisional.
7. Toleransi dan Sinkretisme
Majapahit memperkenalkan konsep sinkretisme, yaitu penggabungan antara ajaran Hindu dan Buddha. Hal ini memungkinkan masyarakat dengan latar belakang berbeda untuk hidup berdampingan dalam satu sistem kepercayaan yang fleksibel.
Salah satu contoh nyata sinkretisme adalah penggambaran tokoh-tokoh seperti Siwa-Buddha atau penggunaan arsitektur candi yang menggabungkan unsur kedua agama.
8. Warisan Keagamaan Majapahit hingga Kini
Warisan penyebaran agama Hindu-Buddha oleh Majapahit masih terlihat hingga saat ini, terutama di:
- Bali: Mayoritas masyarakat menganut Hindu Dharma, warisan dari Majapahit.
- Upacara adat Jawa: Seperti selamatan, slametan, dan berbagai ritual yang berakar pada kepercayaan Hindu-Buddha.
- Candi-candi peninggalan Majapahit: Masih menjadi objek ziarah dan penelitian keagamaan.
Kesimpulan
Kerajaan Majapahit memainkan peran besar dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara. Melalui strategi politik, diplomasi budaya, seni, pendidikan, dan toleransi, Majapahit tidak hanya memperluas wilayahnya secara fisik, tetapi juga menyatukan masyarakat dengan nilai-nilai spiritual dan etika dari ajaran Hindu-Buddha.
Warisan keagamaan ini menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia hingga kini, membuktikan bahwa Majapahit bukan hanya kerajaan besar dari sisi militer dan politik, tetapi juga pencetak sejarah spiritual dan intelektual Nusantara.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah agama resmi Kerajaan Majapahit?
Agama resmi Kerajaan Majapahit adalah Hindu (aliran Siwa), namun Buddha Mahayana dan Tantrayana juga berkembang dan dihormati.
2. Bagaimana Majapahit menyebarkan agama Hindu-Buddha?
Melalui pendidikan, pembangunan candi, pertunjukan seni, karya sastra, serta ekspansi politik dan budaya ke daerah-daerah lain di Nusantara.
3. Apa itu sinkretisme di Majapahit?
Sinkretisme adalah penggabungan unsur-unsur Hindu dan Buddha dalam satu sistem kepercayaan, menciptakan harmoni antaragama.
4. Wilayah mana yang paling terpengaruh oleh penyebaran agama Majapahit?
Bali adalah wilayah yang paling banyak mewarisi ajaran Hindu-Buddha dari Majapahit hingga kini.
5. Apakah ada tokoh penting dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Majapahit?
Ya, seperti Mpu Prapanca, Mpu Tantular, dan para Brahmana serta Bhiksu yang menjadi tokoh intelektual dan rohaniwan.
Referensi
- Muljana, Slamet. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Majapahit
- Pigeaud, Theodore G. Th. Java in the 14th Century
- Mpu Prapanca. Nagarakretagama
- Mpu Tantular. Sutasoma
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id
- https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id
- https://www.britannica.com/place/Majapahit-empire