Home » Sejarah » Majapahit dan Hubungan Diplomatik dengan Negara-Negara Asia
Posted in

Majapahit dan Hubungan Diplomatik dengan Negara-Negara Asia

Majapahit dan Hubungan Diplomatik dengan Negara-Negara Asia (ft.istimewa)
Majapahit dan Hubungan Diplomatik dengan Negara-Negara Asia (ft.istimewa)
sekolahGHAMA

Kerajaan Majapahit tidak hanya dikenal sebagai kerajaan terbesar di Nusantara, tetapi juga sebagai kekuatan regional yang menjalin berbagai hubungan diplomatik dengan negara-negara Asia lainnya. Pada masa kejayaannya, terutama di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit dan Hubungan Diplomatik dengan Negara-Negara Asia berhasil membangun jaringan politik dan ekonomi yang luas, mencakup wilayah Asia Tenggara bahkan menjangkau Asia Timur dan Asia Selatan.

Artikel ini akan membahas bagaimana hubungan diplomatik Majapahit terjalin, siapa saja mitra diplomatiknya, serta pengaruh jangka panjang dari hubungan tersebut bagi Nusantara.


1. Konteks Geopolitik Asia pada Abad ke-13 hingga ke-15

Pada abad ke-13 hingga ke-15, kawasan Asia mengalami dinamika geopolitik yang intens. Di utara, Dinasti Yuan di Tiongkok mulai membuka jalur perdagangan maritim, sedangkan di barat terdapat Kesultanan Delhi dan Kesultanan Malaka yang mulai tumbuh. Di Asia Tenggara, kerajaan-kerajaan seperti Ayutthaya (Siam), Champa (Vietnam), dan Khmer (Kamboja) saling bersaing.

Di tengah situasi ini, Majapahit memanfaatkan posisi strategisnya di Jawa Timur untuk menghubungkan jalur perdagangan antara Tiongkok, India, dan Nusantara. Hal ini tidak hanya membuka akses ekonomi, tetapi juga memungkinkan Majapahit menjalin hubungan diplomatik yang penting dengan negara-negara tetangga.


2. Hubungan Diplomatik dengan Tiongkok (Dinasti Yuan dan Ming)

Majapahit tercatat menjalin hubungan diplomatik yang kuat dengan Tiongkok. Pada masa Dinasti Yuan (1271–1368), utusan dari Jawa dikirim ke istana kekaisaran. Hubungan ini berlanjut pada masa Dinasti Ming, khususnya setelah Laksamana Cheng Ho melakukan pelayaran ke Asia Tenggara pada awal abad ke-15.

Majapahit menjalin kerja sama dengan Tiongkok dalam bidang:

  • Perdagangan: Komoditas seperti rempah-rempah, keramik, sutra, dan logam menjadi barang yang dipertukarkan.
  • Diplomasi budaya: Tiongkok mencatat bahwa utusan Majapahit pernah mengunjungi istana Ming dan membawa persembahan sebagai tanda penghormatan.
  • Keamanan jalur laut: Majapahit dan Tiongkok memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga jalur pelayaran dari ancaman bajak laut.

Salah satu bukti hubungan ini adalah dalam catatan Ma Huan, penulis asal Tiongkok yang ikut dalam ekspedisi Cheng Ho, menyebut Jawa sebagai pusat kekuasaan maritim yang kuat dan berbudaya.


3. Hubungan dengan Negara-Negara Asia Tenggara

Majapahit menjalin hubungan intens dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, baik dalam bentuk kerja sama, tributari (pengakuan kekuasaan), maupun konflik. Berikut adalah beberapa hubungan diplomatik penting:

a. Champa (Vietnam Tengah)

Majapahit menjalin kerja sama dengan Kerajaan Champa yang saat itu sering terlibat konflik dengan Vietnam Utara dan Tiongkok. Hubungan Majapahit dengan Champa dibuktikan dengan pertukaran utusan dan kemungkinan pertukaran teknologi pertanian dan kemaritiman.

b. Ayutthaya (Thailand)

Meskipun pernah terlibat konflik kecil, hubungan Majapahit dan Ayutthaya didominasi oleh diplomasi dan perdagangan. Kerajaan Ayutthaya merupakan salah satu pusat emas dan barang mewah yang masuk ke Majapahit melalui jalur laut.

c. Kamboja (Khmer)

Relasi antara Majapahit dan Khmer lebih bersifat perdagangan dan budaya. Arsitektur candi serta sistem irigasi menunjukkan adanya pengaruh timbal balik antara kedua peradaban ini.

d. Kesultanan Malaka

Pada akhir kejayaan Majapahit, muncul Kesultanan Malaka yang didirikan oleh Parameswara, mantan pangeran dari Sriwijaya. Hubungan antara Malaka dan Majapahit awalnya cukup harmonis, namun perlahan merenggang karena perbedaan ideologi (Hindu-Buddha vs Islam) dan persaingan dagang.


4. Hubungan dengan India dan Sri Lanka

Majapahit juga menjalin hubungan dengan India Selatan (Tamil Nadu dan Kerala) serta Sri Lanka (Lanka Dwipa). Dari wilayah ini, Majapahit mendapatkan pengaruh besar dalam bidang agama (Hindu-Buddha), budaya, dan sistem pemerintahan.

Beberapa bukti hubungan diplomatik:

  • Pertukaran kitab suci dan ajaran agama.
  • Pernikahan antarkeluarga kerajaan sebagai bentuk aliansi politik.
  • Pedagang dan Brahmana dari India yang bermukim di pelabuhan-pelabuhan Majapahit seperti Tuban dan Gresik.

Baca juga: Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Penjajahan Belanda: Dari Diponegoro hingga Imam Bonjol


5. Bentuk-Bentuk Hubungan Diplomatik

Hubungan diplomatik Majapahit dilakukan dalam berbagai bentuk:

a. Pengiriman Utusan (Diplomat Kerajaan)

Majapahit secara rutin mengirim duta besar ke kerajaan lain, membawa hadiah dan surat dari raja sebagai tanda hormat dan pembentukan aliansi.

b. Pernikahan Politik

Beberapa pangeran dan putri kerajaan dinikahkan dengan bangsawan dari negara tetangga untuk memperkuat hubungan antarnegara.

c. Aliansi Militer dan Ekonomi

Beberapa kerajaan menjadi sekutu Majapahit dalam perang atau pertahanan maritim, misalnya dalam melawan bajak laut atau pemberontakan.

d. Tributary System

Beberapa kerajaan kecil di Nusantara seperti di Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara memberikan upeti kepada Majapahit sebagai bentuk pengakuan kekuasaan.


6. Dampak Jangka Panjang Hubungan Diplomatik

Hubungan diplomatik Majapahit berdampak besar terhadap perkembangan Nusantara, di antaranya:

  • Penguatan identitas Nusantara: Konsep penyatuan wilayah dalam bingkai Nusantara lahir dari visi politik Majapahit.
  • Peningkatan pertumbuhan pelabuhan internasional: Pelabuhan-pelabuhan seperti Surabaya, Gresik, dan Tuban berkembang menjadi pusat perdagangan dunia.
  • Akselerasi kebudayaan: Seni, sastra, bahasa, dan agama berkembang pesat karena adanya kontak dengan budaya luar.
  • Inspirasi nasionalisme: Cita-cita Gajah Mada untuk menyatukan Nusantara menjadi inspirasi penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kesimpulan

Hubungan diplomatik Kerajaan Majapahit dengan negara-negara Asia membuktikan bahwa kerajaan ini bukan sekadar kekuatan lokal, tetapi juga aktor penting dalam percaturan politik dan ekonomi regional. Melalui hubungan dengan Tiongkok, India, dan Asia Tenggara, Majapahit memperkuat eksistensinya, membangun jaringan perdagangan, dan menyebarkan pengaruh budaya Nusantara.

Warisan diplomasi Majapahit tercermin dalam konsep kebangsaan Indonesia masa kini: berdaulat, terbuka terhadap dunia luar, dan menjunjung tinggi keragaman budaya.


FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah Majapahit memiliki hubungan dengan Tiongkok?

Ya. Majapahit menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok pada masa Dinasti Yuan dan Ming, termasuk menerima kunjungan dari armada Cheng Ho.

2. Apa bukti hubungan Majapahit dengan kerajaan lain di Asia?

Bukti hubungan dapat dilihat dari catatan sejarah Tiongkok, prasasti, artefak perdagangan, serta karya sastra seperti Nagarakretagama.

3. Apakah hubungan diplomatik Majapahit bersifat damai?

Sebagian besar bersifat damai dan saling menguntungkan. Namun, Majapahit juga melakukan ekspedisi militer terhadap wilayah yang menolak tunduk, seperti di Palembang dan Bali.

4. Negara mana saja yang menjalin hubungan dengan Majapahit?

Di antaranya adalah Tiongkok, India, Champa (Vietnam), Ayutthaya (Thailand), Khmer (Kamboja), Malaka (Malaysia), dan Sri Lanka.

5. Apa dampak hubungan diplomatik ini bagi Indonesia modern?

Hubungan tersebut memperkuat konsep Nusantara dan identitas maritim Indonesia, serta menjadi inspirasi integrasi nasional.


Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.